Nayaka tidak menyentuh kamar kerja Laras — belum. Ia mulai dari tempat yang tidak dikunci: ruang arsip keluarga di lantai bawah, tempat Reza menyimpan dokumen-dokumen lama perusahaan yang tidak sempat dipindahkan ke kantor.
Ia memilih waktu dengan hati-hati: Selasa malam, saat Reza lembur dan Bi Inah sudah tidur. Bara tertidur di kamarnya setelah Nayaka membacakan dua cerita. Rumah itu gelap dan aman.
Ruang arsip berdebu di sudut-sudutnya — tanda jarang disentuh. Nayaka menyalakan senter kecil dan mulai membuka kotak-kotak dokumen. Laporan tahunan. Berita acara. Foto-foto peresmian proyek. Dan di kotak keempat, di bawah tumpukan nota lama, ia menemukan map biru tua yang membuat napasnya berhenti.
Labelnya: *Kasus Internal — Proyek Kalimaya — 4 tahun lalu.*
Proyek Kalimaya. Proyek yang sama yang menyeret nama Sekar.
Tangan Nayaka gemetar saat membukanya. Di dalam: salinan surat pemecatan Sekar Ayu Santika, ringkasan audit internal, dan satu lembar memo. Ia membacanya dua kali, tiga kali, senter bergoyang di tangannya.
Surat pemecatan itu ditandatangani oleh dua nama. Yang pertama: Reza Pradipta, CEO. Yang kedua, sebagai pelaksana audit dan penandatangan rekomendasi pemecatan: **Danu Wijaya, Direktur Keuangan.**
Danu Wijaya. Nama itu tidak asing. Tangan kanan Reza, sahabat kuliahnya, orang yang sekarang duduk di kursi direktur keuangan Grup Pradipta — dan orang yang sama yang datang ke pernikahan mereka sambil memeluk Reza seperti saudara.
Nayaka membaca ringkasan auditnya. Aneh. Bahasanya terlalu rapi untuk audit yang katanya menemukan penggelapan: semua bukti berputar pada 'akses sistem' Sekar, tetapi tidak ada satu pun dokumen transfer asli, tidak ada rekening tujuan, tidak ada jejak uang yang dinikmati. Empat tahun lalu, di tengah amarahnya, Nayaka tidak pernah bisa melihat dokumen ini. Sekarang, dengan mata yang sudah belajar membaca keuangan, ia melihat lubangnya di mana-mana.
Ini bukan audit. Ini naskah fitnah.
Dan yang menyusun naskahnya adalah Danu Wijaya — bukan Reza. Reza menandatangani, ya. Tapi sebagai CEO yang menerima rekomendasi bawahannya. Tanda tangannya ada di sana karena ia mempercayai orang yang salah.
'Mencari sesuatu?'
Suara itu membuat Nayaka hampir menjatuhkan senternya. Reza berdiri di pintu ruang arsip, jas masih melekat, pulang lebih cepat dari jadwalnya. Matanya turun ke map biru di tangan Nayaka, lalu naik ke wajahnya.
'Kamu membaca berkas kasus Sekar Ayu Santika,' kata Reza pelan. Bukan pertanyaan.
Jantung Nayaka berdegup keras. Empat tahun menyusun rencana, dan detik ini ia hampir kehilangan semuanya karena satu map biru. Maka ia memilih satu-satunya senjata yang tersisa: sebagian kebenaran.
'Iya.' Ia mengangkat map itu, tidak berbohong. 'Aku menemukannya dan membacanya. Nama itu masih satu marga denganku, Reza. Santika. Waktu kasusnya ramai, aku masih di luar negeri. Aku cuma ingin tahu... apakah perusahaanmu pernah benar-benar menghancurkan orang. Karena sekarang aku istri CEO-nya.'
Keheningan itu berjalan sangat lama. Reza menatapnya, dan Nayaka membiarkan dirinya ditatap — karena yang ia katakan tidak sepenuhnya bohong, dan kebenaran setengah itu terbaca di wajahnya.
Akhirnya Reza menarik napas dan bersandar ke kusen. 'Kasus itu menghantuiku sampai sekarang, kalau kamu mau tahu.'
'Kenapa?'
'Karena aku menandatanganinya tanpa membaca detailnya.' Suara Reza rendah, dan ada rasa malu tua di sana. 'Audit diserahkan Danu. Aku sibuk, Laras baru sakit-sakitnya, dan aku percaya pada sahabatku. Enam bulan setelah gadis itu... meninggal, aku minta bukti transfernya dibuka lagi. Jawabannya: dokumen sudah dimusnahkan sesuai prosedur.' Ia menatap map biru itu. 'Aku tidak pernah bisa membuktikan apa pun. Tapi perasaan salah itu tidak pernah pergi.'
Nayaka menatap suaminya. Di luar rencananya, di luar dendamnya, satu fakta baru terpasang dengan bunyi klik yang jelas: Reza bukan dalangnya. Reza adalah orang yang ditipu untuk membubuhkan tanda tangan — sama seperti Sekar ditipu untuk menjadi tumbal.
Dan kalau Reza bukan dalangnya, maka orang yang menyusun fitnah itu masih berdiri bebas, duduk di kursi direktur keuangan, memeluk sahabatnya setiap hari sambil menyimpan pisau yang sudah menewaskan dua perempuan — satu di jurang Puncak, satu dalam nama yang tercoreng selamanya.
'Mengapa kamu ceritakan ini padaku?' tanya Nayaka akhirnya.
'Karena kamu bertanya dengan mata yang benar.' Reza berbalik keluar, lalu berhenti. 'Dan karena kamu istriku. Di rumah ini, tidak ada yang perlu menyamar untuk mendapatkan jawaban.'
Pintu tertutup. Nayaka berdiri sendirian di ruang arsip dengan map biru di tangan, dan untuk pertama kalinya, dendamnya bergeser arah — dari suami yang ia nikahi untuk dihancurkan, ke sahabat yang masih duduk manis di sisinya.