Hukum memberi Ratna dua puluh empat jam, dan Gilang Pramudya menghabiskan jam pertamanya dengan meminta dua hal: pengacaranya, dan segelas air putih hangat.
Pengacaranya datang pukul sembilan pagi — perempuan lima puluhan bernama Laksmi, dengan reputasi membela perkara-perkara rumit dan tarif yang membuat Dafa berbisik: 'Siapa yang membayar?' Pertanyaan itu bergantung di ruangan, karena jawabannya ternyata mudah dan justru menyebalkan: Gilang membayar sendiri, dari tabungan dua puluh tahun yang semuanya sah, tercatat, dan bersih. Orang itu bahkan menyimpan uang dengan cara yang tidak bisa disita. Tidak ada rekening misterius, tidak ada aliran dari Danu — seolah ia sudah tahu sejak awal bahwa suatu hari uangnya akan dibaca polisi, dan ia menyiapkannya seperti menyiapkan segalanya: terlalu rapi untuk diserang.
'Saya akan mengakui semuanya,' kata Gilang di ruang interogasi, dan Laksmi di sampingnya tidak berkedip — berarti ini sudah dibicarakan. 'Saya mengakui menyewa dua kamar itu. Mengakui memotret keluarga Bapak Reza. Mengakui membeli informasi dari biro jasa itu. Mengakui dua KTP itu palsu.' Ia menata jari-jarinya di atas meja. 'Semua itu pelanggaran administrasi dan privasi. Saya siap membayar denda sampai rupiah terakhir.'
'Dan dua perempuan yang Anda potret sebelum mereka mati?' tanya Ratna.
'Saya memotret banyak orang sebelum mereka mati. Semua orang yang difoto pada akhirnya mati, Ibu.' Gilang menatapnya, dan di mata itu tidak ada kekejaman — ada yang lebih buruk: kebosanan seorang ahli menghadapi pemula. 'Saya tidak pernah menyentuh satu pun dari mereka. Saya tidak pernah berada di dalam mobil siapa pun. Anda tidak akan menemukan sidik jari saya, DNA saya, rekening saya, di satu pun TKP. Saya menghabiskan dua puluh tahun memastikan itu.'
'Anda mengawasi mereka untuk Danu Wijaya.'
'Saya tidak menjawab itu.'
'Kesaksian Arga Mahesa menyebut "tukang foto". Rekaman besuk Danu menyebut "teman yang tidak tercatat". Foto ini—' Ratna meletakkan foto mobil Sekar itu di atas meja, '—diambil tiga menit sebelum kecelakaan, dari sudut yang hanya bisa dicapai orang yang sudah tahu jam berapa mobil itu lewat. Anda tahu, karena Anda yang menjadwalkan pengawasannya. Itu namanya turut serta.'
Gilang memandang foto itu lama — dan untuk pertama kalinya, sesuatu bergerak di wajahnya. Bukan takut. Kerinduan. Ia memandanginya seperti orang memandang karya terbaiknya.
'Foto itu,' katanya pelan, 'diambil dari posisi yang tidak akan Anda temukan dalam seratus tahun. Cahayanya sempurna.'
'Anda sedang berdiri tiga menit dari kematian seorang perempuan dua puluh enam tahun, dan Anda membicarakan cahaya.'
'Saya membicarakan satu-satunya hal yang bisa Anda buktikan.' Gilang bersandar. 'Buktikan saya tahu untuk apa pengawasan itu. Buktikan saya tahu akan ada kecelakaan. Buktikan satu patah kata pun yang pernah saya ucapkan tentang rem, atau tikungan, atau perintah. Anda tidak bisa. Anda tahu kenapa?' Ia menunjuk dadanya sendiri dengan dua jari, gerakan kecil yang presisi. 'Karena saya tidak pernah bertanya. Empat tahun Arga bertahan dengan tidak bertanya? Saya dua puluh tahun. Saya orang yang mengantarkan kertas, Ibu Ratna. Ke mana kertas itu pergi setelah saya antar, bukan urusan saya.'
Di balik kaca satu arah, jaksa penuntut menutup mapnya dengan bunyi yang berat. 'Secara hukum dia benar di satu hal: kalau tidak ada yang menghubungkan dia dengan pengetahuan tentang pembunuhan, kita hanya punya pasal-pasal kecil.'
'Maka kita cari pengetahuannya,' kata Ratna. 'Orang yang dua puluh tahun tidak pernah bertanya pasti punya satu saat di mana dia tidak tahan. Semua orang punya satu saat.'
Saat itu mereka temukan bukan dari mulut Gilang, melainkan dari barang-barangnya — tepatnya dari buku catatan bersampul hitam yang ditemukan di tas kameranya, di antara lensa dan baterai. Buku itu bukan diary; Gilang tidak menulis perasaan. Buku itu berisi jadwal: tanggal-tanggal masa lalu yang dicoret satu per satu dengan garis lurus yang rapi — dan di halaman terakhir, tanggal-tanggal yang belum dicoret.
Tiga tanggal.
Yang pertama: hari Jumat minggu ini. Acara pelantikan dua belas penerima beasiswa Yayasan Sekar. Dilingkari sekali, dengan tiga huruf kecil di sampingnya: *kursi 7*.
Yang kedua: dua minggu kemudian. Sidang banding Danu Wijaya. Dilingkari dua kali.
Yang ketiga tidak diberi keterangan apa pun. Hanya tanggal, tiga minggu setelah sidang banding, ditulis dengan tekanan pena yang lebih keras dari yang lain — keras sampai kertasnya nyaris robek.
Ratna memandang tiga tanggal itu di bawah lampu ruang kerjanya sampai lewat tengah malam. Kursi 7. Sidang banding. Dan satu tanggal tanpa nama yang ditulis terlalu keras.
'Dia mau ditangkap sebelum acara,' kata Dafa, mengulang kata-kata Nayaka, 'karena dia menjaga sesuatu di acara itu. Tapi kenapa masih ada dua tanggal sesudahnya? Orang yang mau ditangkap tidak butuh rencana setelah ditangkap.'
'Kecuali,' kata Ratna perlahan, 'penangkapannya bukan akhir rencananya. Melainkan bagian darinya.'
Di rumah, pada jam yang sama, Nayaka berdiri di depan papan kecil mereka sambil memegang foto salinan buku hitam itu yang dikirim Ratna. Reza di sampingnya. Untuk waktu yang lama mereka tidak bicara, sampai akhirnya Nayaka menempelkan jarinya di tanggal pertama.
'Kursi 7,' katanya. 'Di acara itu, kursi nomor 7 adalah kursi tamu kehormatan. Kursiku.' Ia menatap suaminya. 'Dia tidak sedang menjaga sesuatu di acara itu, Za. Dia sedang menjaga *seseorang*. Dia sudah memilih kursinya — dia sudah memilih tontonannya yang berikutnya, dan dia berencana menontonnya dari dekat.'
'Acara itu kita batalkan.'
'Tidak.' Jawaban itu datang cepat, dan dingin, dan final. 'Dua belas anak itu tidak dibatalkan oleh siapa pun. Kita gandakan pengamanan, kita ubah denahnya tanpa mengubah tanggalnya, dan kita biarkan buku hitam itu berpikir ia masih bisa dibaca.' Nayaka menatap tanggal ketiga — tanggal tanpa nama, dengan kertas yang nyaris robek. 'Dan kita cari tahu apa yang terjadi tiga minggu setelah sidang banding. Karena orang itu baru saja memberi tahu kita satu hal yang tidak pernah dia sadari: dia menulis rencananya dengan terlalu keras.'