Mereka bergerak pukul empat lewat empat puluh, di jam yang dipilih karena dua alasan: kota sedang tidur paling dalam, dan manusia sedang paling jujur.
Ada alasan ketiga yang tidak ditulis di surat perintah: jam itu adalah jam di mana Laras mengalami kecelakaan empat tahun lalu, dan jam di mana mobil Sekar keluar jalur dua bulan setelahnya. Ratna tidak pernah menyebutkannya kepada siapa pun. Tapi Dafa yang membaca ulang berkas malam itu memperhatikannya, dan memutuskan untuk tidak bertanya — karena beberapa koinsidensi memang sengaja diciptakan oleh orang yang sudah terlalu lama membaca kematian orang lain.
Dua belas personel. Tiga menutup jalan di kedua ujung, dua di atap seberang, dan sisanya naik lewat tangga belakang kos dengan langkah yang sudah dilatih di kepala masing-masing sepanjang malam. Di ruang komando, Reza dan Hendra duduk di depan monitor dengan tangan masing-masing mengepal — satu di atas meja, satu di atas tongkat. Tidak ada yang bicara. Bahkan radio komunikasi pun terdengar enggan, hanya berbunyi pendek-pendek: *posisi*, *jalan aman*, *tangga aman*, *pintu terlihat*.
Pintu 3B dibuka dengan kunci yang diserahkan pemilik kos yang pucat, dan tim masuk ke dalam kamar yang akan dibicarakan kantor itu berminggu-minggu kemudian.
Gilang Pramudya sudah bangun. Sudah berpakaian rapi — kemeja, celana bahan, sepatu yang sudah dipakai. Duduk di satu-satunya kursi di kamar itu, menghadap pintu, dengan tangan di atas lutut, seperti tamu yang mengetahui jadwal kedatangan tuan rumah. Di belakangnya, jendela menghadap kantor yayasan yang masih gelap, dan di sisi jendela itu berdiri tripod dengan kamera yang lensanya masih hangat.
'AKP Ratna,' kata Gilang, bahkan sebelum kartu itu diperlihatkan. Suaranya tenang, sopan, dan — itu yang paling dicatat Dafa dalam laporannya — lega. 'Akhirnya. Kalian lebih lambat dari perkiraan saya. Sembilan hari.'
'Bapak tahu kami mengawasi.'
'Bapak?' Gilang tersenyum kecil, senyum orang birokrasi yang sudah dua puluh tahun tersenyum seperti itu. 'Saya kenal wajah anak kos baru yang terlalu rajin membersihkan kamar. 3A tidak pernah serapi itu. Dan tiang listrik itu,' ia menunjuk dagu ke arah jendela, 'kotak sambungannya terlalu baru untuk kabel setua itu.' Ia berdiri ketika disuruh berdiri, menyerahkan pergelangan tangannya untuk diborgol dengan gerakan orang menyerahkan dokumen untuk dicap. 'Tapi tidak apa-apa. Saya sudah selesai menonton pertunjukan ini.'
'Tidak,' kata Ratna, memandang kamar itu — dan apa yang ada di dindingnya membuat langkahnya berhenti. 'Anda belum selesai menonton apa-apa.'
Dinding kamar 3B tertutup kertas dari lantai sampai langit-langit.
Bukan sembarang kertas: jadwal. Peta. Foto cetak yang disusun dalam kolom-kolom ketat — gerbang rumah, kantor yayasan, sekolah Bara, rumah Bimo, rumah Hendra — masing-masing dengan jam-jam yang ditulis tangan di pinggirnya, dikoreksi berulang-ulang, diperbarui seperti laporan keuangan. Ada foto Reza di mobilnya. Ada foto Nayaka di depan kantornya. Ada foto Bi Inah di pasar. Dan di satu kolom yang dipisahkan dari yang lain — diberi bingkai pita hitam, seperti altar — dua rangkaian foto yang membuat seorang penyidik senior harus keluar sebentar ke koridor:
Laras. Bertahun-tahun Laras — turun dari mobil, di taman, di depan kantornya, dan terakhir, di pagar rumahnya, tiga hari sebelum kematiannya.
Sekar. Di halte, di depan kantor lamanya, di Jalur Puncak — dan foto terakhir itu, yang sudah mereka kenal: tiga menit sebelum tikungan.
Tim forensik bekerja sampai pagi di kamar itu, memberi nomor kuning pada setiap lembar. Totalnya: dua ratus sebelas foto cetak, empat peta bertanda tangan tangan, satu kamera dengan tiga lensa, dua laptop yang ternyata kosong bersih — dan tidak ada satu pun kertas yang berisi nama Danu Wijaya. Dua puluh tahun bekerja untuk satu nama, dan nama itu tidak ada di dindingnya. Ratna memperhatikan itu seperti orang memperhatikan lubang di pagar: sesuatu pernah ada di situ, dan pemiliknya telah memastikan lubang itu tetap kosong.
'Semua ini,' kata Ratna, ketika suaranya sudah kembali, 'akan dibaca di pengadilan.'
'Saya tahu,' jawab Gilang, dan ia mengatakannya seperti orang mengonfirmasi jadwal. 'Saya menyiapkannya untuk dibaca.'
Di tengah penggeledahan itu, Dafa menemukannya: di atas meja, ditata di tengah dengan ketelitian yang mengerikan, sebuah amplop putih bersih dengan tulisan tangan yang rapi:
*Untuk AKP Ratna Juwita.*
Di dalamnya satu lembar kertas. Satu baris, ditulis dengan tangan yang tidak gemetar sedikit pun:
*Selamat. Sekarang buktikan.*
Ratna membaca baris itu dua kali. Lalu ia memandang lelaki yang sedang digiring keluar kamarnya — lelaki yang tidak melawan, tidak berlari, tidak meminta apa pun, dan yang di tangga berbalik sebentar untuk mengatakan satu hal terakhir kepada Dafa dengan nada guru les yang baik hati:
'Tolong kameranya jangan dibanting. Lensa itu lebih mahal dari mobil saya, dan keduanya sekarang milik negara.'
Di ruang komando, ketika kabar penangkapan itu masuk, Hendra Santika tidak bersorak. Lelaki tua itu berdiri perlahan dari kursinya, memandang layar yang kini menampilkan kamar kosong 3B — dinding penuh anak dan keluarganya — dan mengangguk sekali, dalam, seperti orang yang akhirnya diizinkan berdiri dari sujud yang terlalu lama. Kemudian ia mengambil salinan surat Sekar dari saku dalam jaketnya, memegangnya menghadap layar, dan berkata pelan: 'Lihat, Nak. Ayahmu tidak diam kali ini.'
Reza mengangkat teleponnya. Di ujung sana, Nayaka menjawab sebelum nada pertama selesai.
'Dapat,' kata Reza. 'Tanpa perlawanan. Dia... sudah menunggu.'
Jeda di ujung telepon itu panjang. Dan ketika Nayaka akhirnya bicara, suaranya bukan lega — melainkan waspada, waspada yang sudah empat tahun jadi bagian dari tulangnya.
'Kalau dia sudah menunggu,' katanya pelan, 'berarti kita menangkapnya di jadwalnya. Bukan jadwal kita. Cari tahu kenapa dia mau ditangkap minggu ini, Za. Minggu ini ada acara pelantikan beasiswa — dan orang yang mau ditangkap sebelum sebuah acara sedang menjaga sesuatu di acara itu.'