Kamar itu tersewa dalam enam hari.
Kos tiga lantai di seberang kantor yayasan, kamar 3B, jendela menghadap tepat ke pintu masuk dan — dengan sedikit kemiringan — ke jendela ruang kerja Nayaka. Penyewanya bernama Supriyanto, KTP palsu yang lebih mahal dari yang sebelumnya, bayar dua bulan di muka, datang dengan satu koper dan satu tas kamera yang ia bilang 'untuk hobi burung'.
'Burung,' ulang Dafa datar, membaca laporannya. 'Di tengah kota. Di kamar kosong.'
'Jangan meremehkan,' kata Ratna. 'Ada burung yang sudah empat tahun ia potret dari tempat sampah.'
Mereka tidak menyentuh kamar 3B. Mereka melakukan hal yang lebih sabar: memasang mata di atas mata. Kamera di tiang listrik yang disamarkan sebagai kotak sambungan. Dua penyidik menyewa kamar 3A — tetangga sebelahnya, tembok bersebelahan, yang setiap malam mendengar hal yang sama: tidak ada televisi, tidak ada radio, hanya sesekali bunyi ritsleting tas dan langkah yang berdiri lama di depan jendela.
Laporan harian dari kamar 3A dibaca Ratna seperti orang membaca jurnal pasien. *Pukul 05.40: berdiri di jendela. Pukul 07.15: keluar dua puluh menit, kembali membawa nasi bungkus. Pukul 22.00: lampu mati. Pukul 02.10: lampu nyala lagi, dua puluh menit.* Tidak ada pengunjung. Tidak ada telepon yang terdengar. Seorang penyidik menulis di kolom catatan: 'Subjek hidup seperti jam dinding. Menakutkan.'
'Dia tidak hidup seperti jam dinding,' kata Ratna, menandatangani laporan itu. 'Dia hidup seperti arsip. Semuanya masuk, tidak ada yang keluar, semuanya pada tempatnya. Orang seperti ini tidak kehilangan kendali — makanya kita tidak akan menang dengan membuatnya panik. Kita menang dengan membuatnya yakin arsipnya sudah lengkap.'
Dan pada hari ketiga, pukul enam pagi, ketika kantor yayasan masih kosong, sosok itu akhirnya memperlihatkan wajahnya cukup lama untuk kamera tiang: bertubuh sedang, topi biasa, gerakan tenang yang tidak bisa diajarkan — dan ketika ia menoleh sepersekian detik ke arah jalan, program pencocokan wajah memberikan angka yang membuat ruang komando bersorak tertahan: **91 persen. Gilang Pramudya.**
'Kali ini kita tidak buru-buru,' kata Ratna, menahan seluruh insting regunya dengan dua tangan. 'Kali ini dia yang berada di dalam rumah umpan — cuma dia tidak tahu.'
Maka pertunjukan itu dimulai, dan Nayaka memainkan perannya dengan ketenangan yang membuat Ratna bergidik kagum. Setiap hari ia datang ke kantor jam yang sama, makan siang di warung yang sama, pulang jam yang sama — jadwal yang ditulis untuk dibaca. Di kantor, pekerjaan berjalan benar-benar: dua belas mahasiswa penerima beasiswa angkatan pertama akan dilantik dalam acara kecil, dan undangan itu — dirancang khusus — bocor ke saluran yang tepat.
'Acara pelantikan,' kata Fahmi, menyerahkan amplop mingguan Pak G yang berisi satu pertanyaan: *jadwal dan denah acara yayasan*. 'Dia mulai meminta denah, Bu Ratna.'
Ratna memandang amplop itu lama. Meminta denah berarti merencanakan posisi. Merencanakan posisi berarti berniat datang.
'Kita beri denah yang benar,' katanya akhirnya. 'Dengan satu perubahan kecil yang hanya kita yang tahu.'
Malam-malam berikutnya adalah malam-malam panjang di ruang komando. Reza datang dua kali, berdiri di belakang para pemantau, memandangi layar yang menampilkan jendela kamar 3B — jendela yang kadang menggelap, kadang menyala, dan satu kali, pada pukul dua pagi, memperlihatkan siluet seseorang yang berdiri tidak bergerak selama empat puluh menit, memandang kantor yang gelap.
'Dia tidak tidur,' bisik Reza.
'Dia sedang bekerja,' jawab Ratna. 'Begitu juga kita.'
Di sela malam-malam itu, persiapan acara pelantikan beasiswa berjalan terus di bawah kendali Nadia — denah dicetak, kursi dinomori, dua belas mahasiswa berlatih pidato terima kasih dengan gemetar. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa denah itu sudah dibaca lebih dulu oleh mata yang salah, di kamar kos seberang jalan. Nayaka memeriksanya dua kali seminggu, dan setiap kali ia berkata hal yang sama kepada Nadia: 'Acaranya harus biasa. Kebiasaan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipotret tanpa izin kita.'
Hendra mendapatkan kursinya lagi — kali ini dengan bantalan yang lebih baik, yang dibawakan Bi Inah sendiri dengan omelan khasnya. Lelaki tua itu tidak banyak bicara di ruang komando. Ia hanya menatap layar, tangannya memegang tongkat, dan satu kali, ketika siluet di jendela 3B itu muncul, ia berkata pelan kepada tidak ada siapa-siapa: 'Kau yang memotret anakku tiga menit sebelum dia pergi. Sekarang gantian kami yang memotretmu. Bedanya, kami akan memakai fotomu di pengadilan.'
Keputusan akhir diambil hari Minggu, setelah sembilan hari pengamatan: penangkapan akan dilakukan Selasa subuh, di kamar 3B, tiga hari sebelum acara pelantikan beasiswa. Cukup dekat untuk mengamankan acara. Cukup jauh untuk interogasi.
'Alat bukti?' tanya jaksa yang berkonsultasi lewat telepon.
'Foto-foto dua korban dari sudut pengawasan, satu diambil tiga menit sebelum kematian Sekar. Kesaksian Arga tentang "tukang foto". Rekaman besuk Danu. Dua KTP palsu atas nama dua kamar sewa yang sama-sama menghadap keluarga korban. Dan sembilan hari rekaman kamar 3B.' Ratna memandang papannya. 'Dia tidak menyentuh satu pun korban, dan itu akan jadi pembelaannya. Tapi Pasal turut serta tidak butuh dia menyentuh siapa-siapa. Cukup butuh dia mengawasi dua perempuan itu untuk orang yang membunuh mereka.'
Malam sebelum penangkapan, di rumah yang lampunya menyala hangat, Nayaka menyelipkan foto kecil di papan — foto Sekar muda dengan seragam kerja pertamanya, yang disalin dari lemari kaca Hendra.
'Besok,' katanya kepada foto itu, di ruangan yang sepi, 'orang yang memotretmu dari tikungan itu akan belajar satu hal yang tidak pernah dia pelajari: yang kamu tinggalkan bukan korban. Yang kamu tinggalkan adalah pembaca.'
Di kamar 3B seberang jalan dari kantornya yang gelap, lampu itu malam itu menyala sampai subuh — seolah sang penonton tahu, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan siapa pun, bahwa pertunjukan panjangnya akan segera menurunkan tirai.