Sembilan hari setelah dokumen-dokumen itu dilepas, balasan pertama datang ke kotak karat: permintaan Pak G untuk memastikan status sewa rumah di kompleks dua kecamatan itu — pertanyaan kecil, prosedural, membosankan.
'Dia menggigit,' kata Dafa.
'Dia mencicipi,' koreksi Ratna. 'Orang seperti dia tidak menelan pada gigitan pertama.'
Dan benar. Empat hari kemudian, probe kedua datang — dan dari arah yang tidak lewat Fahmi: sebuah telepon masuk ke SD tempat Bara 'akan pindah', dari seseorang yang mengaku dari 'komite orang tua', menanyakan apakah benar ada murid pindahan bernama Bara Pradipta bulan depan. Sekolah itu menjawab sesuai berkas — karena berkasnya memang ada, masuk lewat jalur resmi, ditandatangani Aditya sendiri.
'Probe-nya gagal menemukan lubang,' Ratna melaporkan, 'karena tidak ada lubang yang bisa ditemukan lewat telepon. Kalian membuatnya terlalu rapi, Pak Aditya.'
'Aku dibayar mahal empat puluh tahun untuk membuat kertas yang tidak berlubang,' kata Aditya datar. 'Senang akhirnya ada yang menghargai.'
Di ruang kerja Ratna, probe itu ditempel di papan dan dilingkari biru. 'Perhatikan polanya,' katanya kepada timnya. 'Permintaan pertama lewat Fahmi — itu bacaannya. Telepon ke sekolah — itu ujiannya. Dia tidak pernah percaya bacaan sebelum diuji. Mulai sekarang, setiap dokumen yang kita alirkan harus siap diuji: punya nomor surat yang benar, petugas yang benar, jawaban yang benar. Kita bukan sedang menipu pembaca biasa. Kita sedang menipu korektor profesional.'
'Berapa lama kita bisa menjaga itu, Bu?'
'Selama yang dibutuhkan. Kebenaran palsu yang dijaga tujuh saluran lebih kuat dari kebenaran asli yang dijaga satu.' Ratna mengetuk papan. 'Dia mengajari kita itu, ironisnya. Dia dua puluh tahun menulis kenyataan palsu di sekitar keluarga ini. Kita cuma membalikkan penanya.'
Tapi justru probe itulah yang membuat semua orang menahan napas: Pak G memverifikasi lewat saluran kedua. Ia membaca, lalu memeriksa bacaannya. Ratna menambahkan satu baris di papan profilnya: *tidak percaya apapun yang tidak dicek dua kali* — lalu, di bawahnya, dengan tinta merah: *dan karena itu dia percaya apapun yang lolos cek dua kali.*
'Kalau begitu kita gandakan semuanya,' kata Nayaka. 'Apa pun yang kita tulis di saluran Fahmi, kita pastikan saluran keduanya mengatakan hal yang sama. Bukan karena kita mengatur dua saluran — tapi karena kita membuat kenyataannya konsisten. Rumah itu benar disewa. Sekolah itu benar punya berkasnya. Bi Inah benar bergosip ke tetangga. Dia bisa memeriksa sampai tujuh saluran, dan tujuh-tujuh akan berkata: keluarga itu pindah.'
'Kita tidak sedang menulis fiksi,' kata Reza, mengerti akhirnya. 'Kita sedang menulis kenyataan yang tidak kita huni.'
Sementara itu, kehidupan yang benar-benar dihuni berjalan terus — dan malam itu berbentuk acara menginap pertama Bara di rumahnya sendiri, dengan Bimo, dua kasur lipat, dan satu peraturan Bi Inah yang langsung dilanggar: tidak boleh makan keripik di atas kasur.
'Jadi kalian tidak jadi pindah?' tanya Bimo, mulut penuh bukti pelanggaran.
'Bisa dibilang gitu. Tapi rahasia.'
'Rahasia kenapa?'
'Kalau kuberi tahu, bukan rahasia lagi.' Bara menatap sahabatnya dengan kesabaran seorang negosiator ulung. 'Nanti kalau sudah selesai, aku ceritakan semua. Sekarang aku cuma bisa kasih tahu satu hal: kalau kamu lihat bapak-bapak aneh di sekitar rumahmu, bilang ke ibumu.'
'Bapak-bapak yang motret tiang listrik itu?'
'Kamu lihat juga?!'
'Aku kan sering main ke rumahmu.' Bimo mengangkat bahu dengan kebosanan anak-anak yang tidak tahu sedang memegang informasi yang dicari dua institusi negara. 'Dia motretnya jelek. Miring.'
'Miring gimana?'
'Kayak motretnya tidak niat. Padahal kameranya gede.' Bimo mengunyah, berpikir. 'Kayak ibuku kalau disuruh motretin bapakku. Asal jadi.'
Dua bocah itu kemudian berdebat tentang teknik memotret — perdebatan yang isinya salah semua dan karena itu aman — sampai Bi Inah datang menyita keripik dan menyuruh tidur. Lampu tidur dinyalakan, dua kasur lipat itu berhenti bergerak, dan dari koridor Bi Inah mendengar obrolan terakhir mereka: bukan tentang penjahat, bukan tentang kamera, melainkan tentang apakah dinosaurus bisa berenang. Bi Inah tersenyum dalam gelap. Anak-anak tahu cara menyimpan takut di tempat yang tidak menghalangi tidur; orang dewasa perlu dua puluh tahun untuk belajar hal yang sama.
Catatan itu sampai ke Ratna keesokan paginya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, polisi itu tertawa di ruang kerjanya — tawa pendek yang segera berubah jadi lamunan panjang.
'Dia sudah lama di dekat anak-anak itu,' katanya akhirnya. 'Bukan sekali. Cukup sering sampai dua anak delapan tahun bisa mengenali gaya memotretnya.' Ia menatap papan. 'Dafa. Orang yang butuh menonton sebanyak itu bukan sedang mengumpulkan data. Data bisa didapat dengan lebih sedikit risiko. Dia sedang... menghabiskan waktu bersama mereka. Dengan caranya sendiri.'
'Itu lebih buruk dari yang kita kira, Bu?'
'Itu berarti,' kata Ratna, 'kalau kita berhasil mengalihkan tontonannya, dia tidak akan tahan lama-lama. Dia akan segera butuh posisi baru. Bersiaplah.'
Posisi baru itu muncul bahkan lebih cepat dari prediksinya.
Hari Kamis, Fahmi menerima amplop yang berisi satu permintaan: daftar kamar sewa atau kontrakan kecil di sekitar sebuah alamat — ditulis lengkap, jelas, dengan ketelitian yang membuat darah Ratna dingin ketika membacanya.
Alamat kantor Yayasan Sekar.
'Dia berpindah tontonan,' kata Ratna kepada Nayaka di telepon, dan suaranya untuk pertama kalinya mengandung sesuatu yang nyaris hangat: hormat yang enggan. 'Dia sudah selesai dengan rumah. Sekarang dia mengikuti Anda.'
Nayaka berdiri di jendela kantornya, memandang jalanan di bawah — ruko-ruko, warung, satu kos bertingkat di seberang jalan dengan jendela-jendela kecil yang menghadap persis ke ruang kerjanya.
Ia tidak merasa takut, dan itu mengejutkannya. Empat tahun lalu, di ruang arsip rumah Reza, ia membayangkan saat-saat seperti ini dengan jantung yang berdebar. Tapi yang datang malah sesuatu yang tenang dan berat, seperti batu yang akhirnya menemukan dasar sungai: orang yang memotret kakaknya tiga menit sebelum kematiannya sekarang sedang mencari jendela yang menghadap dirinya — dan ia, Nayaka, adalah orang yang memilihkan pemandangannya.
'Biar,' katanya pelan. 'Dia mau menonton aku bekerja. Dia akan dapat pertunjukan terbaik yang pernah dia tonton.'
'Satu syarat,' kata Ratna. 'Jadwal Anda yang sebenarnya dan jadwal yang kami tulis tidak boleh beririsan tanpa tim saya tahu duluan. Dan mulai besok, ada dua orang saya di kantor Anda. Mereka akan pura-pura jadi konsultan. Dua belas anak beasiswa itu tidak usah tahu apa-apa.'
'Dua belas anak itu memang tidak akan pernah tahu,' jawab Nayaka, memandang papan nama berlapis plastik di ruang depan. 'Yayasan ini dibangun supaya analis muda tidak sendirian menghadapi orang seperti dia. Tidak lucu kalau pendirinya sendirian.'