Strategi baru itu punya nama resmi di papan Ratna — *kendalikan bacaannya* — tapi di rumah keluarga Pradipta ia dikenal dengan nama yang lebih sederhana: sejak minggu itu, tidak ada satu pun dokumen keluarga yang bergerak tanpa melewati meja Nayaka dulu.
'Orang yang hidup dari kertas,' kata Ratna pada rapat kecil di ruang kerjanya, 'punya langganan. Tidak mungkin tidak. Gilang bukan peretas; dia bukan orang yang duduk di depan layar membobol server. Dia orang birokrasi. Dia membaca lewat orang — pegawai-pegawai kecil yang menjual potongan informasi untuk uang rokok. Temukan langganannya, dan kita temukan tenggorokannya.'
Maka tim Dafa membuka audit yang membosankan dan indah: siapa saja yang mengakses dokumen-dokumen terkait keluarga Pradipta dalam dua belas bulan terakhir. Surat pindah sekolah Yanto. Sewa kos nomor empat puluh tujuh. Akta-akta kecil perusahaan. Polanya muncul pada hari keempat, dalam bentuk yang tidak mereka duga: bukan pegawai negeri, bukan petugas kelurahan — melainkan sebuah biro jasa kecil di ruko dua pintu, dengan papan nama luntur dan satu karyawan yang selalu tahu jalan pintas.
Namanya Fahmi. Empat puluh satu tahun, mengurus surat orang selama lima belas tahun, dan — menurut tetangganya — 'tidak pernah menolak permintaan aneh selama uangnya tidak aneh'.
Mereka tidak langsung menyentuh Fahmi. Mereka mengawasinya sembilan hari, dan sembilan hari itu adalah pendidikan tersendiri tentang kehidupan seorang calo surat keliling: pagi di biro jasa, siang berkeliling kelurahan dan kecamatan dengan tas selempang lusuh, sore di warung kopi yang sama dengan koran yang sama. Tidak ada yang menarik, dan justru karena itu semuanya menarik — karena pada hari kesembilan mereka menemukan mekanismenya: tidak ada telepon, tidak ada pesan elektronik. Permintaan datang lewat amplop yang diselipkan ke kotak koran sebuah toko kelontong yang sudah tutup dua tahun — kotak karat yang tidak pernah diperhatikan siapa pun, di jalan yang dilewati semua orang. Fahmi mengambilnya tiap Selasa sore, mengerjakan isinya, dan mengembalikan jawabannya ke kotak yang sama. Upahnya datang di tempat yang sama pula: tunai, rapi, selalu berlebih dua puluh persen.
'Dia membangun kantor pos pribadi dari toko bangkrut,' kata Dafa, separuh kagum.
'Dia membangun apa pun yang tidak dibaca orang,' koreksi Ratna. 'Itu bakatnya. Sekarang kita baca kantor posnya.'
Fahmi dilibatkan pada hari kesepuluh, di warung kopi, dengan cara yang paling tidak menakutkan: dua polisi preman yang memesan kopi di sebelahnya dan menyebut nama seseorang yang membuat tangannya berhenti di gelasnya. Tidak ada penggeledahan. Tidak ada ancaman pasal. Ratna sendiri yang datang kemudian, duduk, dan berbicara seperti orang menawarkan jalan keluar — karena memang itulah yang ia tawarkan.
'Anda tidak tahu apa-apa tentang isi permintaan itu,' kata Ratna. 'Anda hanya mengurus surat. Saya percaya itu, dan saya bisa memastikan jaksa juga percaya — selama mulai hari ini, setiap amplop yang masuk ke kotak itu saya baca duluan.'
Fahmi menelan ludah. 'Kalau dia tahu saya bocor—'
'Dia tidak akan tahu, karena Anda tidak bocor. Anda tetap mengerjakan semuanya seperti biasa, dengan harga yang sama, dengan wajah yang sama.' Ratna mencondongkan badan. 'Bedanya cuma satu: mulai sekarang jawaban yang Anda taruh di kotak itu adalah jawaban yang kami tulis.'
Fahmi menerima. Orang yang lima belas tahun menjual kertas tahu kapan kertasnya berpindah tangan.
Dari amplop-amplop lama yang masih Fahmi simpan — rapi, sesuai kebiasaan orang birokrasi, dan karena itu berharga — mereka membaca pola permintaan 'Pak G': selalu hal-hal kecil. Perubahan alamat. Status sewa. Pindah sekolah. Tidak pernah yang besar. Tidak pernah yang berbahaya. Orang itu tidak pernah meminta rahasia; ia meminta keramaian yang bisa ia baca sendiri.
'Maka,' kata Nayaka ketika pola itu dipaparkan di meja makannya malam itu, 'kita beri dia keramaian.'
Dokumen pertama disiapkan minggu itu juga, lewat tangan Aditya: perubahan kartu keluarga ke alamat rumah umpan — asli, resmi, dicap basah. Dokumen kedua menyusul: pendaftaran pindah sekolah Bara ke sebuah SD dua jalan dari rumah umpan, lengkap dengan tanggal mulai masuk bulan depan.
Penandatanganan itu sendiri menjadi adegan kecil yang aneh: Reza menuliskan namanya di atas kertas yang isinya bohong, di kantor notaris yang sama yang selama ini mengurus dokumen-dokumen jujur keluarganya. 'Aneh sekali,' gumamnya. 'Menandatangani kebohongan dengan tinta yang sama.'
'Kebohongan ini untuk menangkap pembohong yang lebih besar,' jawab Aditya tanpa mengangkat wajah. 'Tinta tidak pernah peduli untuk apa ia dipakai. Manusianya yang harus tahu.'
'Dua dokumen ini akan sampai ke kotak karat itu lewat jalur normal,' kata Aditya. 'Fahmi tidak perlu berakting. Dia benar-benar mengerjakannya. Itulah keindahannya: kebohongan terbaik adalah dokumen yang benar-benar ada.'
Di kamarnya, kepala keamanan termuda itu mencatat perkembangan terbaru dengan huruf-huruf besar, tanpa tahu ia sedang menulis ringkasan strategi dua kepolisian dan satu yayasan:
*'Kita tidak jadi pindah, tapi semua orang bilang jadi. Aku tidak boleh bilang ke Bimo. Ini rahasia tingkat tinggi.'*
Ia berhenti menulis, mempertimbangkan, lalu menambahkan satu baris lagi — baris yang akan dibaca Nayaka malam itu dengan senyum yang akhirnya tidak berat:
*'Bimo pasti sedih. Nanti kalau penjahatnya sudah ketangkap, aku kasih tahu dia kenapa.'*
Dan di bawahnya, setelah berpikir lebih lama lagi, dengan huruf yang lebih kecil dan lebih hati-hati:
*'Aku harap penjahatnya cepat ketangkap. Bukan karena aku takut. Karena aku kangen cerita sama Bimo.'*
Nayaka membaca tiga baris itu dua kali, lalu menutup buku dinosaurus itu dan meletakkannya kembali persis seperti semula — dengan posisi yang ia hafal, karena kepala keamanan mana pun berhak atas kerahasiaan arsipnya. Tapi sebelum keluar kamar, ia berdiri sebentar di depan jendela, memandang lampu taman dan deretan wortel di bawahnya.
'Dia tidak mewarisi ketakutanmu,' katanya pelan kepada Reza yang menunggu di koridor. 'Dia mewarisi hal lain dari rumah ini: dia percaya penjahat selalu ketangkap. Kita harus memastikan keyakinan itu tidak pernah jadi bohong.'