Ratna membaca catatan Bara tiga kali sebelum ia membiarkan dirinya bereaksi.
'Kapan persisnya?' tanyanya kepada Nayaka, suaranya datar dengan cara yang membuat datar itu sendiri terdengar seperti alarm.
'Kemarin sore. Bara main ke rumah Bimo, dua blok dari sini.' Nayaka sudah membaca kekhawatiran di wajah polisi itu. 'Ratna. Bicara.'
'Seorang anak delapan tahun membedakan sesuatu yang tidak bisa dibedakan orang dewasa: dia tahu tiang listrik tidak layak difoto.' Ratna menatap catatan kecil itu — huruf-huruf besar, ejaan separuh benar, dinosaurus di sampulnya. 'Orang itu tidak memotret tiang. Orang itu memotret rumah-rumah yang rutin dikunjungi keluarga ini. Rumah Bimo adalah rumah bermain Bara. Dia sedang memetakan... bukan rumah Bapak lagi. Dia sedang memetakan kebiasaan.'
Pengamanan diperketat malam itu juga — di rumah Bimo, di rute sekolah, di setiap titik kecil yang pernah disinggung buku dinosaurus itu. Dan untuk pertama kalinya, Ratna mengubah rencana: rumah umpan tidak lagi hanya menunggu.
'Kita geser waktunya,' katanya pada rapat kecil di ruang komando, dengan Hendra duduk di sudut memegang kopinya. 'Keluarga "mulai mengangkut barang" minggu ini. Truk pindahan. Aktivitas yang terlihat dari jalan. Kalau dia masih ragu-ragu, keraguan itu akan kalah oleh rasa takutnya ketinggalan. Orang yang lapar tidak tahan melihat meja dibereskan.'
Truk pindahan itu datang hari Kamis — truk asli, pekerja asli, kardus-kardus asli berisi barang-barang gudang yang memang sudah lama tidak dipakai. Selama tiga hari, rumah umpan itu hidup: lampu menyala malam hari, mobil Reza terlihat dua kali di halaman, dan pada hari Sabtu, pagar rumah itu difoto seseorang dari dalam mobil yang berhenti dua puluh menit di seberang jalan.
'Bukan dia,' kata Dafa, memantau dari ruang komando. 'Gerakannya beda. Terlalu gelisah.'
'Kaki sewaan ketiga,' jawab Ratna. 'Dia menggandakan mata sebelum turun sendiri. Artinya keputusan sudah diambil.'
Keputusan itu tiba Senin dini hari.
Kamera keempat — yang dipasang di ranting pohon, menyamar sebagai rumah burung — menangkapnya pukul dua lewat empat belas: sosok bertubuh sedang, jaket gelap, gerakan yang tidak bisa diajarkan kepada kaki sewaan mana pun: tenang, ekonomis, setiap langkah sudah dihitung sebelum diambil. Sosok itu tidak mendekati pagar. Ia berdiri di titik yang paling tidak layak diperhatikan — di samping tempat sampah kompleks, di bawah bayangan — dan memotret rumah umpan itu selama empat menit, sudut demi sudut, dengan kesabaran seorang ahli.
*Foto terbaik diambil dari tempat yang tidak pernah dilirik siapa pun.*
'Itu dia,' bisik Ratna di ruang komando, dan di sudut ruangan, Hendra Santika berdiri dari kursinya dengan tongkat yang menggantung di lengan, memandang layar itu seperti orang memandang pintu neraka. 'Empat menit. Lalu dia pergi dengan cara yang sama.'
Mereka tidak menangkapnya malam itu. Itu keputusan tersulit yang pernah diambil Ratna — membiarkan sosok itu berjalan pergi ke dalam gelap, karena satu penangkapan dini hari hanya akan menangkap jaket, bukan nama. Tapi kamera-kamera itu mengikutinya lebih jauh dari yang disadari sosok itu: tiga perempatan, satu ganti kendaraan, dan satu momen emas di mana ia melepas maskernya di bawah lampu jalan yang mati — atau ia kira mati.
Wajah itu buram, jauh, separuh tertutup. Tapi cukup.
'Perbandingkan dengan foto wisuda,' perintah Ratna, dan dua jam kemudian, jawaban itu datang dari program pencocokan wajah dengan angka yang membuat seluruh ruangan berdiri: **87 persen. Gilang Pramudya.**
Empat tahun. Dua kematian. Satu nama yang akhirnya punya wajah baru — lebih tua, lebih tipis, tapi sama: wajah yang dua puluh tahun berdiri setengah langkah di belakang semua foto.
Pagi harinya, sebelum rencana penangkapan sempat disusun, amplop kedua datang.
Kali ini tidak ke yayasan. Kali ini ke rumah — diselipkan di bawah pot bunga dekat pagar, di jam yang tidak tercakup satu pun kamera, di tengah pengamanan dua personel. Kurirnya tidak pernah terlihat. Isinya dua lembar: sebuah foto, dan sebuah pesan.
Foto itu diambil pagi Kamis, dari sudut tinggi yang tidak seorang pun bisa menjelaskannya: kebun kecil bekas kolam renang, saat panen wortel. Bara dan Bimo berlutut di tanah. Bi Inah membungkuk. Dan di tepi halaman, dua personel keamanan yang berdiri di antara pepohonan — dilingkari spidol merah, satu per satu, dengan ketelitian seorang dosen menandai jawaban salah.
Pesannya satu baris, tulisan tangan, rapi sampai mengerikan:
*'Pengamananmu terlihat. Kamu tidak.'*
Untuk waktu yang lama tidak ada yang bicara di ruang kerja itu. Reza memegang foto anaknya dengan tangan yang ia paksa tetap tenang. Ratna memandang lingkaran-lingkaran merah itu dengan wajah yang kehilangan semua kedinasaan.
'Dia tahu tentang rumah umpan,' kata Dafa akhirnya, pelan. 'Dia datang, dia memotret, dia tahu itu panggung — dan jawabannya bukan kabur. Jawabannya adalah foto ini. Dia sedang mengoreksi kita, Bu. Seperti... seperti mengoreksi pekerjaan murid.'
'Bukan murid.' Nayaka berdiri di jendela, memandang kebun kecil di halaman, tempat wortel-wortel bengkok itu masih tertanam sebagian. 'Dia mengoreksi pesaing. Selama dua puluh tahun dia jadi satu-satunya yang membaca semua orang tanpa dibaca siapa pun. Sekarang ada orang yang menulis dokumen untuknya, memasang meja untuknya, membaca kebiasaannya — dan dia tidak marah.' Ia berbalik. 'Dia senang. Akhirnya ada lawan main.'
'Maka kita beri dia lawan main,' kata Reza, dan meletakkan foto anaknya itu di atas meja dengan gerakan yang sangat pelan, sangat terkendali. 'Mulai hari ini kita berhenti memasang umpan yang kelihatan seperti umpan. Kita buat dia membaca sesuatu yang tidak ia sangka bisa dibaca.'
Ratna menatap keluarga itu — ayah yang baru melihat anaknya dilingkari spidol merah, ibu yang empat tahun menyusun dendam di ruang arsip, dan di koridor, terdengar langkah kecil Bara berlari mengejar Bi Inah.
'Apa yang kalian rencanakan?' tanyanya.
Dan Nayaka tersenyum — senyum yang membuat Ratna, untuk sepersekian detik, bersyukur berada di sisi yang benar.
'Kita tulis balik suratnya,' kata Nayaka. 'Dia suka membaca. Kita pastikan mulai minggu ini, satu-satunya bacaan yang tersedia untuknya adalah bacaan yang kita tulis sendiri.'