Rencana itu lahir di meja makan, di antara sisa makan malam dan papan tulis kecil, dan lahir dari mulut Nayaka.
'Kalau dia hidup dari kertas,' katanya, 'kita beri dia kertas.'
Ratna datang ke rumah keesokan paginya, dan rencana itu dipaparkan dengan kepala dingin: Gilang Pramudya menghilang rapi, tapi orang yang hidup dari administrasi tidak bisa berhenti membaca administrasi. Ia perlu tahu ke mana keluarga ini bergerak — dan satu-satunya cara ia tahu adalah lewat jejak yang selalu ia baca: dokumen. Sewa. Perpanjangan. Pindah alamat.
'Jadi kita buat dokumen,' kata Nayaka. 'Keluarga Pradipta akan "pindah rumah".'
Aditya mengangkat alisnya ketika mendengar bagiannya. 'Kau mau aku memproses dokumen palsu?'
'Bukan palsu. Nyata.' Nayaka sudah memikirkan semuanya, itu terlihat dari caranya tidak perlu membaca catatan. 'Kita benar-benar menyewa satu rumah. Kontrak asli, notaris asli, tercatat asli — semua yang akan dia temukan kalau dia menggali. Satu-satunya yang tidak asli adalah bahwa kita tidak akan pernah tinggal di sana.'
'Dan ketika dia datang melihat rumah itu—' Reza mulai.
'Dia datang ke tempat yang sudah kita pilih,' Ratna menyelesaikan. 'Dengan kamera-kamera kita yang lebih dulu sampai. Orang yang butuh menonton akan selalu datang untuk menonton. Kita hanya perlu menentukan gedung pertunjukannya.'
Rumah umpan itu ditemukan dalam seminggu: sebuah rumah di kompleks tenang dua kota kecamatan dari sana, dengan dua jalan masuk, banyak pohon, dan — yang paling penting — empat titik pengamatan yang bisa dipasangi kamera polisi tanpa terlihat. Kontrak ditandatangani Reza di kantor notaris, dengan proses yang sengaja dibuat normal: tidak buru-buru, tidak sembunyi-sembunyi, persis seperti keluarga kaya yang membeli ketenangan setelah setahun yang berat.
Aditya mengawal sendiri proses itu, dan ia melakukannya dengan cara orang tua yang tahu nilai sebuah cap dan tanggal. 'Dokumen yang dibuat tergesa-gesa baunya tercium sampai ke orang yang paling tidak curiga,' katanya sambil meneliti draf akta sewa. 'Dokumen yang sabar justru tidak dibaca dua kali. Gilang akan membaca ini — kita pastikan yang dia baca adalah dokumen yang membosankan sampai meyakinkan.'
'Jejak dokumen ini akan sampai ke dia dalam waktu dua sampai tiga minggu,' kata Aditya. 'Orang seperti dia pasti punya langganan — pegawai-pegawai kecil di birokrasi yang menjual potongan informasi. Kalau dia masih membaca birokrasi seperti dulu, dia akan membaca ini.'
'Dan sementara itu,' kata Ratna, 'kita berlatih menjadi keluarga yang akan pindah.'
Maka dimulailah pertunjukan kecil itu. Kardus-kardus kosong mulai masuk ke rumah dan ditumpuk di garasi, terlihat dari jalan. Bi Inah, dengan akting yang mengejutkan semua orang, bergosip dengan ibu-ibu kompleks tentang 'rumah baru yang lebih dekat ke sekolah Bara' — informasi yang dirancang untuk mengalir ke telinga siapa pun yang mendengarkan. Bahkan Bara ikut bermain tanpa tahu sedang bermain: ia dengan bangga memberi tahu Bimo bahwa mereka akan pindah ke rumah yang 'punya pohon mangga'.
'Rumah ini kan sudah ada pohon,' protes Bimo.
'Pohon mangga beda. Pohon mangga bisa dipanjat.'
Dan informasi itu berjalan, persis seperti air mengalir: dari mulut anak ke mulut anak, dari ibu ke ibu, dari obrolan pagar ke grup percakapan kompleks. Ratna menyebutnya 'irigasi' — dan setiap hari timnya mencatat siapa yang tiba-tiba bertanya sedikit terlalu detail.
Hendra, ketika diberi tahu rencana itu, datang ke rumah dengan jaket terbaiknya dan satu permintaan.
'Bapak mau ikut.'
'Pak, ini pengawasan polisi—'
'Bapak tidak minta pegang kamera. Bapak minta ada di ruangan ketika rencana ini dijalankan.' Hendra menatap anak dan menantunya bergantian. 'Satu anak Bapak dibunuh oleh orang yang membaca dokumen. Sekarang kalian menulis dokumen untuk menangkap pembunuhnya. Bapak sudah terlambat empat tahun untuk bagian membaca. Jangan buat Bapak terlambat juga untuk bagian menunggu.'
Tidak ada yang sanggup menolak itu. Maka Hendra mendapat kursinya — di ruang komando kecil yang disiapkan Ratna di sebuah rumah kontrakan tak jauh dari rumah umpan, lengkap dengan monitor dan termos kopi yang ia bawa sendiri.
Dua minggu pertama: tidak ada. Rumah umpan itu berdiri tenang, dikunjungi tukang bersih-bersih seminggu sekali, difoto kamera tersembunyi dua puluh empat jam. Minggu ketiga mulai menggerogoti saraf — dan mulai menimbulkan keraguan yang tidak diucapkan siapa pun: bagaimana kalau Gilang membaca umpan itu sejelas mereka menulisnya?
Di ruang komando, jam-jam berjalan dengan kecepatan yang menghina. Dafa menghitung bahwa satu shift pengawasan berisi empat ribu mobil yang bukan siapa-siapa, tiga ratus pejalan kaki yang bukan siapa-siapa, dan satu kucing kompleks yang — setiap malam, pukul sebelas — duduk di pagar rumah umpan seperti penonton yang sudah membayar tiket. 'Kalau kucing itu dia jadi-jadian,' kata Dafa pada malam kesepuluh, kepada tidak ada siapa-siapa, 'saya mundur dari kepolisian.'
'Kalau dia tidak datang?' tanya Reza pada Ratna di malam kedua belas.
'Maka kita belajar sesuatu: dia lebih pintar dari yang kita kira, dan kita menyiapkan babak berikutnya.' Ratna tidak mengalihkan pandang dari monitor. 'Tapi orang seperti dia, Pak Reza, tidak kuat tidak melihat. Empat bulan dia duduk di kamar kos menonton pagar rumah Bapak. Itu bukan kebutuhan tugas. Itu lapar. Dan orang yang lapar, kalau disediakan meja, akan datang — sekalipun dia curiga mejanya.'
Pada hari keenam belas, meja itu mulai didatangi.
Sebuah motor berhenti dua kali di depan rumah umpan, dalam dua hari berbeda, dengan helm berbeda tapi sepatu yang sama. Kamera menangkapnya. Dafa menandainya dengan lingkaran merah di layar.
'Kaki sewaan,' kata Ratna. 'Dia sedang mengukur rumah sebelum datang sendiri. Pertunjukan akan dimulai.'
Dan di rumah lama, di buku tulis bergambar dinosaurus, kepala keamanan termuda itu menambahkan satu catatan lagi — yang malam itu dibacakan Nayaka dengan napas yang ia tahan:
*'Bapak yang motret tiang listrik itu sekarang ada di depan rumah Bimo. Padahal di situ tidak ada tiang listrik.'*