Rumah besar keluarga Pradipta punya aturan yang tidak tertulis: semua orang berbicara pelan, semua pintu menutup tanpa suara, dan sarapan berlangsung dalam keheningan yang rapi. Nayaka menyebutnya dalam hati: rumah yang berkabung permanen.
Reza berangkat sebelum matahari tinggi dan pulang setelah Bara tidur. Bi Inah, pengasuh yang sudah belasan tahun di rumah itu, mengatur semuanya dengan efisiensi yang dingin. Dan Bara — bocah tujuh tahun itu — menatap Nayaka seolah ia adalah perabot baru yang mencurigakan.
'Ayah bilang kamu sekarang tinggal di sini,' kata Bara di pagi ketiga, sambil memindahkan kacang dari piringnya satu per satu.
'Iya.'
'Kamu tidur di kamar yang lain.'
'Iya.'
'Kenapa? Mama temanku tidur sekamar sama papanya.'
Nayaka menatap bocah itu — mata besar yang tidak bisa dibohongi dengan alasan bisnis. 'Karena Ayahmu dan aku... baru saling kenal. Kami butuh waktu. Seperti kamu kalau dapat teman sebangku baru.'
Bara mempertimbangkan jawaban itu dengan serius. 'Teman sebangkuku namanya Bimo. Dia nyebelin tapi sekarang kami akrab.'
'Nah. Kami akan berusaha seakrab kamu sama Bimo.'
Untuk pertama kalinya, Bara tersenyum padanya. Senyum kecil yang bocor — dan Nayaka merasakan sesuatu yang berbahaya bergerak di dadanya: rasa sayang yang tidak ia rencanakan.
Rencananya sederhana: masuk, temukan bukti bahwa Grup Pradipta — dan Reza — menghancurkan Sekar, lalu hancurkan mereka dari dalam. Tidak ada bagian dari rencana itu yang melibatkan jatuh sayang pada anak lelaki bermata besar yang menyimpan setengah roti bakarnya untuk dibawa ke sekolah 'buat Bimo, soalnya dia nggak pernah sarapan'.
Tetapi rumah yang dingin itu perlahan berubah arah tanpa izinnya. Bara mulai menunggunya pulang dari jalan-jalan sore. Mulai minta ditemani menggambar. Mulai mengetuk pintu kamarnya saat hujan besar, berdiri di ambang dengan bantal sebesar dirinya.
'Boleh di sini? Kamar Ayah jauh.'
Nayaka seharusnya mengantarnya ke kamar Reza. Seharusnya. Yang ia lakukan justru mengangkat selimut. 'Sini. Tapi besok kita minta Ayah pasang lampu hujan di kamarmu, ya. Biar tidak takut.'
'Ayah sibuk.'
'Maka besok aku yang pasang.'
Di ranjang kecil itu, Bara tertidur dalam lima menit dengan tangan memeluk lengannya. Nayaka berbaring kaku, menatap langit-langit, dan memarahi dirinya sendiri sampai subuh.
Reza pulang larut malam itu dan menemukan mereka — putranya tertidur di kamar istrinya, dan istrinya terjaga dengan mata lelah. Sesuatu di wajah lelaki itu berkedip: bukan curiga, melainkan luka lama yang tersentuh.
'Dia takut hujan,' kata Nayaka pelan. 'Sejak kapan?'
'Sejak ibunya pergi.' Reza bersandar di kusen pintu. 'Laras meninggal malam-malam, waktu hujan deras. Bara tidak ingat ibunya, tapi tubuhnya ingat hujannya.'
Nayaka diam. Di kepalanya, untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang tidak nyaman: lelaki yang kehilangan istri dan membesarkan anak sendirian ini — benarkah orang yang sama yang menghancurkan kakaknya? Ia mengusir pertanyaan itu secepatnya. Empat tahun dendam tidak boleh goyah oleh satu malam hujan.
'Terima kasih,' kata Reza. 'Untuk Bara.'
'Dia anak baik. Kamu yang membesarkannya, kan? Jadi terima kasihnya bukan untukku.'
Reza menatapnya sejenak — pandangan pertama yang benar-benar menatapnya sejak pernikahan mereka. 'Kamu tidak seperti yang kuduga, Nayaka.'
'Kamu juga tidak seperti yang kuduga, Reza.'
Dan keduanya sama-sama tidak tahu betapa benar kalimat itu.
Malam berikutnya, saat seluruh rumah tidur, Nayaka turun ke lantai bawah dengan senter ponsel. Di ujung koridor, pintu kamar kerja Laras berdiri tertutup — satu-satunya pintu di rumah itu yang terkunci. Ia menekan gagangnya. Terkunci rapat, seperti dipesankan.
Dari balik pintu, tidak ada suara. Tetapi Nayaka bisa merasakannya: di sanalah masa lalu disimpan. Dan di mana masa lalu disimpan, di situ jawaban bersembunyi.
Ia belum punya kuncinya. Tetapi ia sudah punya sesuatu yang lebih penting: alasan untuk tinggal di rumah ini selama yang diperlukan — bahkan jika rumah itu perlahan mulai mencuri hatinya.