Minggu setelah vonis adalah minggu membaca ulang dua puluh tahun.
Reza dan Nayaka membongkar album-album, map-map lama, nota-nota yang bahkan sudah kuning — mencari jejak orang yang selama ini berdiri setengah langkah di belakang semua foto. Hasilnya membuat perut mual: Gilang ada di mana-mana, asalkan kau tahu cara melihatnya. Ujung bahunya di foto wisuda. Tangannya memegang map di sudut foto pernikahan. Tanda tangannya — kecil, rapi, sengaja tidak menarik — di surat pengurusan gedung, di kwitansi katering, di dokumen pemakaman.
'Dia seperti petunjuk arah di gedung,' kata Bi Inah, yang ikut memilah dengan mata awam yang justru tajam. 'Orang tidak pernah membaca petunjuk arah. Tapi kalau petunjuknya hilang, semua orang tersesat.'
Bi Inah sendiri ternyata menyimpan satu ingatan. Sore itu ia berdiri lama di depan foto acara keluarga tujuh tahun lalu, lalu mengetuk-ngetuk kacanya. 'Ini. Laki-laki ini. Bi Inah ingat — dia pernah datang ke rumah mengantar dokumen, waktu Bara masih kecil. Sopan sekali. Tidak mau masuk, tidak mau minum. Berdiri di teras seperti orang menunggu bis.' Ia berhenti. 'Tapi dia melihat-lihat, Non. Bukan melihat perabot. Melihat pintu. Melihat jendela. Bi Inah ingat karena Bi Inah waktu itu berpikir: orang ini menghitung sesuatu. Dan waktu dia pamit, dia tahu nama Bi Inah — padahal Bi Inah tidak pernah memperkenalkan diri.'
Semua itu masuk ke berkas Ratna, yang papan kerjanya sekarang didominasi satu nama. Tapi nama bukan alamat — dan Gilang Pramudya tetap tidak ditemukan. Rumah lamanya sudah dijual dua tahun lalu. Nomor teleponnya mati. Rekening-rekeningnya ditutup dengan saldo diambil tunai, bertahap, rapi, dimulai tiga hari setelah Danu ditangkap.
Ada satu penemuan kecil yang dicatat Nayaka di pinggir mapnya sendiri: dari dua puluh tahun dokumen keluarga, tanda tangan Gilang hanya muncul di kertas-kertas yang tidak pernah disimpan orang — nota katering, surat parkir, tanda terima. Sengaja. Orang itu bahkan mengatur di dokumen macam apa namanya boleh tertinggal, seolah tahu arsip mana yang kelak akan dibongkar polisi.
'Dia tidak cuma bersembunyi,' kata Nayaka malam itu, memperlihatkan daftarnya kepada Reza. 'Dia berlatih bersembunyi. Dua puluh tahun. Di rumah kita.'
'Dia memulai persiapan menghilang sebelum kita mulai mencarinya,' kata Ratna pada rapat kecil di ruang kerjanya. 'Tiga hari setelah penangkapan Danu. Artinya dia tahu persis kapan papan mulai runtuh — lebih cepat dari kita.'
'Keluarga?' tanya Dafa.
'Tidak menikah. Orang tua sudah meninggal. Satu adik di Makassar yang terakhir berhubungan dengannya... enam tahun lalu.' Ratna menempel satu lembar lagi di papan. 'Orang ini, teman-teman, membangun hidup yang tidak punya pegangan. Itu bukan kebetulan. Itu desain.'
Ada satu pintu lagi yang belum mereka ketuk: Arga.
Ratna mengunjungi sel Arga dengan membawa dua foto — foto mobil Sekar di Jalur Puncak, dan foto gerbang rumah Pradipta. Arga memandang keduanya lama, dan untuk pertama kalinya sejak menjadi justice collaborator, wajahnya menunjukkan sesuatu yang mirip hormat.
'Jadi ini dia,' kata Arga pelan. 'Saya pernah dengar dia. Bukan namanya — namanya tidak pernah disebut. Tapi Pak Danu punya satu nomor yang tidak pernah tersimpan di kontak. Dia menyebutnya...' Arga mencari kata yang tepat, '"tukang foto". Setiap kali Pak Danu butuh tahu sesuatu yang tidak ada di dokumen, dia bilang: tanya tukang foto.'
'Malam Laras? Malam Sekar?'
'Saya tidak tahu. Sumpah, Bu, saya tidak tahu.' Arga menatap foto mobil Sekar itu lagi, dan jari-jarinya sedikit gemetar di atas meja besi. 'Tapi ada satu hal yang pernah dia katakan, dan saya tidak pernah lupa karena saya tidak mengerti maksudnya. Waktu kami membicarakan pengawasan, Pak Danu tertawa kecil dan bilang: *foto terbaik diambil dari tempat yang tidak pernah dilirik siapa pun. Orang selalu menjaga pintu depan. Tidak ada yang menjaga tempat sampah.*'
Ratna menyalin kalimat itu kata demi kata.
'Tidak ada yang menjaga tempat sampah,' ulangnya di mobil, kepada Dafa. 'Bukan kiasan. Petunjuk teknis. Orang ini memilih posisi yang dianggap semua orang tidak layak diperhatikan. Tempat sampah. Kamar kos tua. Kurir sewaan.' Ia menyalakan mesin. 'Periksa ulang semua titik buta di sekitar rumah keluarga itu. Warung, pangkalan ojek, gerobak yang mangkal terlalu lama. Dia sedang menonton dari suatu tempat — dan tempatnya pasti yang tidak pernah kita lirik.'
Di rumah, babak pengawasan itu memasuki wilayah yang tidak bisa ditunda lagi: menjelaskannya kepada Bara.
Mereka melakukannya bertiga di teras, dengan es sirup, seperti keluarga yang membicarakan rencana liburan — karena Nayaka bersikeras rasa takut tidak boleh punya kursi di meja itu.
'Ada orang yang suka memotret rumah kita,' kata Reza. 'Orang jahat? Iya. Tapi bukan orang yang suka menyakiti — orang yang suka mengintip. Dan polisi sedang mencarinya, dan polisi pasti dapat.'
'Seperti main petak umpet?'
'Persis.'
'Terus Bara harus apa?'
'Bara tidak harus apa-apa,' kata Nayaka. 'Bara sekolah seperti biasa, main seperti biasa, panen seperti biasa. Tapi kalau Bara melihat sesuatu yang aneh — orang yang tidak biasanya, mobil yang tidak biasanya — Bara bilang ke Ayah, ke Mama, atau ke Bi Inah. Tidak usah takut. Cuma bilang.'
Bara mempertimbangkan kontrak sosial itu dengan serius, lalu mengangguk. Malamnya, ia meminta buku tulis baru kepada Bi Inah — dan di sampulnya, dengan huruf besar-besar dan ejaan yang separuh benar, ia menulis: *CATATAN KEAMANAN*.
Mulai hari itu, rumah keluarga Pradipta punya kepala keamanan termuda dalam sejarahnya: delapan tahun, membawa buku tulis bergambar dinosaurus, dan mencatat setiap hal aneh dengan kesungguhan seorang jenderal — mobil yang parkir dua kali, tukang bakso yang ganti jam, orang jogging yang tidak pernah berkeringat — termasuk, di hari ketiga, satu kalimat yang kelak akan dibaca ulang oleh orang-orang dewasa dengan jantung yang berhenti sepersekian detik:
*'Ada bapak-bapak motret tiang listrik depan sekolah. Tiang listrik kan tidak bisa difoto jadi bagus.'*