Hari vonis tiba dengan cuaca yang terlalu cerah untuk perkara sekelam itu.
Ruang sidang penuh bahkan sebelum pintu dibuka. Di barisan depan pengunjung: Reza, Nayaka, dan Hendra dengan tongkatnya. Dua baris di belakang mereka, Bi Inah duduk dengan tas berisi bekal yang tidak akan ada yang makan — ia bersikeras ikut, karena 'ada yang harus menjaga doa tetap rapi'. Ratna berdiri di dekat pintu samping, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai orang yang bertugas memastikan tidak ada yang aneh di ruangan itu.
Danu Wijaya masuk dengan langkah yang sudah ia rancang: tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, wajah yang sudah berdamai dengan kamera. Ia duduk, merapikan jas tahanannya, dan memandang majelis dengan ekspresi murid yang siap menerima nasihat.
'Mengadili,' kata hakim ketua, dan seluruh ruangan menegakkan punggungnya. 'Menyatakan terdakwa Danu Wijaya terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana terhadap Laras Pradipta dan Sekar Ayu Santika, serta tindak pidana korupsi secara berlanjut. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup.'
Palu diketuk. Sekali. Bunyi itu lebih pendek dari yang dibayangkan semua orang — empat tahun, dua nyawa, satu palu.
Tidak ada sorakan. Yang ada adalah hening yang dalam, lalu tangis tertahan dari seseorang di barisan belakang, lalu bunyi kamera yang berhamburan seperti burung kaget. Hendra Santika tidak bersorak; lelaki tua itu menunduk, memegang tongkat dengan dua tangan, dan dari saku dalam jaketnya mengeluarkan salinan surat Sekar — memegangnya sebentar, agar anak itu ikut mendengar.
Dan Danu? Danu berdiri, mengangguk kecil kepada majelis seperti orang menyetujui catatan rapat, lalu menoleh. Bukan ke pengacaranya. Ke Reza.
Tatapan itu berlangsung dua detik. Tidak ada ancaman di dalamnya — justru itu yang membuat Nayaka meremang. Tatapan itu berkata: *papan belum selesai*. Lalu Danu digiring keluar, dan pengacara barunya — yang ketiga, lebih muda, lebih agresif — mengumumkan di depan wartawan bahwa kliennya akan mengajukan banding.
'Biarkan,' kata Aditya di lorong, ketika wartawan berlari mengejar statement. 'Banding adalah haknya. Dan pledoinya kemarin itu memang disiapkan untuk banding — dia sedang membangun citra orang yang dikorbankan. Tapi citra tidak mengubah berkas.'
Malamnya, tidak ada perayaan. Yang ada adalah makan malam di rumah Hendra — meja panjang, masakan istri almarhumah yang diresepkan ulang oleh Bi Inah, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, nama Sekar disebut di meja makan itu bukan dengan bisik, melainkan dengan tawa.
Di kantor yayasan, Nadia menonton siaran langsung vonis itu sendirian sampai selesai, lalu mengetik satu pesan ke grup karyawan kecil mereka: *dua belas anak tetap mulai kuliah Senin. Itu bagian kita.* Tidak ada yang membalas, tapi keesokan paginya ketiga karyawan itu datang lebih pagi dari biasanya — cara mereka sendiri mengangkat topi.
'Bara,' kata Hendra, menyendokkan sayur ke piring bocah itu, 'Tante Sekar kamu dulu pernah melempar sendok ke Bapak karena Bapak bilang matematika tidak penting.'
'Tante berani banget,' kata Bara, kagum.
'Dia menang, tentu saja. Sendoknya kena di sini.' Hendra menunjuk pelipisnya, dan meja itu tertawa — tawa yang empat tahun tertahan di pintu, akhirnya diizinkan masuk.
Sehabis makan, Hendra menunjukkan sesuatu kepada Bara: lemari kaca di ruang tengah yang sejak lama tertutup. Sekarang pintunya terbuka, dan di dalamnya, di antara piala-piala lomba matematika yang sudah dibersihkan, berdiri foto Sekar dengan seragam kerja pertamanya — foto yang empat tahun menghadap dinding.
'Setiap Jumat,' kata Hendra kepada cucu tirinya itu, 'kau boleh tanya satu hal tentang dia. Satu saja, karena kalau banyak-banyak Bapak bisa selesai bicara besok pagi.'
'Jumat depan aku tanya dua,' tawar Bara.
'Kau mirip dia juga,' kata Hendra, dan matanya basah sambil tertawa.
Di perjalanan pulang, Bara tidur lagi di kursi belakang, dan Nayaka memandang kota malam sambil memegang tangan Reza di atas konsol.
'Seumur hidup,' katanya pelan. 'Aku menunggu kalimat itu empat tahun. Aku kira kalau kalimat itu datang, sesuatu di dadaku akan selesai. Ternyata tidak selesai. Ternyata cuma pindah tempat.'
'Karena masih ada satu.'
'Karena masih ada satu,' Nayaka mengulang. 'Dan dia menonton kita dari kamar kosong selama empat bulan.'
Tiga hari setelah vonis, Aditya datang ke rumah dengan wajah orang yang membawa sesuatu yang tidak ingin ia bawa.
'Danu mengirim pesan,' katanya. 'Lewat jalur resmi, pengacara ke pengacara. Dia tidak minta apa-apa — jadi aku tidak bisa melarangnya sampai ke kamu. Pesan itu pendek.' Aditya membuka catatan kecilnya dan membacakan: '*Selamat atas vonisnya. Kalau kau sungguh mau menemukan dia, tanya siapa yang mengatur pemakaman Laras. Semua detailnya. Siapa yang memilih liang, siapa yang mengatur kursi, siapa yang tahu persis di mana kau akan berdiri.*'
Reza tidak langsung menjawab. Ia ingat hari pemakaman itu — kabur, abu-abu, hujan yang tidak selesai-selesai. Ia ingat semua berjalan anehnya rapi: liang sudah siap, tenda sudah berdiri, kursi-kursi tertata, bahkan petunjuk arah parkir pun ada. Ia tidak mengatur satu pun. Ia terlalu hancur untuk mengatur apa pun.
Danu mengatur? Tidak. Danu berdiri di sampingnya, memikul peti.
'Oh,' kata Nayaka pelan, dan satu suku kata itu berisi seluruh kengerian yang baru saja turun ke dalam ruangan. 'Gilang. Yang mengurus urusan-urusan kecil. Yang tidak pernah difoto.'
'Dia mengatur pemakaman istri yang dia bantu bunuh,' kata Reza, dan suaranya nyaris tidak terdengar. 'Dia memilihkan liangnya. Dia mengatur di mana aku berdiri di samping liang itu. Dua puluh tahun, Nay. Orang itu dua puluh tahun berdiri di dalam hidup kita, memegang map, memastikan acara berjalan.'
'Dan sekarang dia satu-satunya yang masih berdiri.' Nayaka menatap papan kecil mereka dari kejauhan. 'Danu baru saja memberi kita sesuatu, Za. Bukan nama — kita sudah punya nama. Dia memberi kita motif arah.'
'Maksudmu?'
'Orang yang mengatur pemakaman orang yang ia bunuh tidak sedang bekerja. Dia sedang menikmati.' Nayaka menatap suaminya. 'Dan orang yang menikmati akan datang lagi. Selalu.'