Ratna tidak menyia-nyiakan petunjuk Nayaka. Pagi berikutnya, tiga penyidik berpakaian preman menyusuri jalan di depan rumah keluarga Pradipta dengan map kecil dan daftar pertanyaan yang sengaja dibuat membosankan: apakah ada kamar yang disewakan, rumah kontrakan yang berpenghuni baru, atau jendela yang menghadap ke gerbang seberang.
Hasilnya datang sebelum makan siang.
'Ada satu,' lapor penyidik bernama Dafa, yang paling muda di tim dan karena itu paling sering disuruh pura-pura jadi mahasiswa. 'Kos di ujung jalan, nomor empat puluh tujuh. Kamar lantai dua menghadap persis ke gerbang rumah Bapak Reza. Disewa empat bulan lalu. Penyewanya laki-laki, empat puluhan, bayar tunai tiga bulan di muka.'
'Namanya?'
'Darmadi. KTP diserahkan fotokopi — sudah kami cek, nomornya palsu. Foto di KTP itu orang lain, tukang ojek di Bekasi yang tidak pernah tahu wajahnya dipakai.'
Ratna dan dua anggota timnya mendatangi kos itu sore harinya, dengan surat tugas dan ibu pemilik kos yang gemetar sejak melihat kartu polisi.
'Astaga, saya tidak tahu apa-apa, Bu,' kata perempuan itu, Ibu Lastri, tangannya sibuk meremas ujung daster. 'Dia sopan sekali. Bayar tidak pernah telat. Tidak pernah ada tamu. Kamarnya bersih—'
'Kami tidak menuduh Ibu,' kata Ratna lembut; ia selalu punya nada khusus untuk saksi yang ketakutan, seperti orang membuka pintu kandang burung. 'Kami cuma mau lihat kamarnya. Dia sudah tidak menyewa?'
'Sudah dua minggu pergi. Bilangnya pindah tugas. Tapi aneh, Bu — barangnya sedikit sekali. Orang tinggal empat bulan, kok bawaannya cuma satu koper.'
Ratna menahan tangannya di gagang pintu. 'Ada kebiasaannya yang Ibu ingat? Sekecil apa pun.'
Ibu Lastri mengerutkan dahi, mencari di antara ingatan yang selama ini tidak pernah dianggap penting. 'Dia... selalu tahu jadwal sampah, Bu. Padahal tidak pernah buang sampah sendiri — dibayarnya anak kos lain untuk itu. Tapi tiap Selasa dan Jumat dia selalu berdiri di dekat pagar, jam enam pagi, pas tukang sampah lewat. Saya kira dia mau buang sesuatu. Tidak pernah. Cuma berdiri.'
'Apa yang lewat jam enam pagi di jalan ini,' kata Dafa pelan, ketika mereka sudah turun, 'selain tukang sampah?'
'Mobil yang mengantar anak sekolah,' jawab Ratna. 'Bara berangkat pukul enam kurang seperempat. Dia berdiri di pagar dengan alasan yang tidak akan ditanyakan siapa pun.'
Kamar itu persis seperti yang diduga Ratna, dan justru karena itu menyeramkan: kosong sampai ke tulang. Kasur lipat, meja kecil, tidak ada apa pun di laci. Tapi di meja itu ada satu hal yang membuat Dafa memanggil komandannya: bekas lingkaran-lingkaran kaki tripod di permukaan kayu — tiga titik kecil yang tergores berulang-ulang di tempat yang sama, menghadap jendela. Dan di jendela itu, korden tipis yang tidak pernah dibuka penuh.
'Dari sini,' kata Ratna, berdiri di belakang bekas tripod itu, 'dia bisa melihat siapa pun masuk dan keluar rumah itu. Jam berapa Bara berangkat sekolah. Mobil mana yang dipakai. Siapa yang mengantar.' Ia tidak menyentuh apa pun; tim forensik akan menyusul. 'Empat bulan, Dafa. Dia menyewa kamar ini empat bulan — berarti sejak sebelum Danu ditangkap.'
'Berarti dia memang mengawasi untuk Danu?'
'Atau Danu bekerja untuk dia, dan kita salah urutan selama ini.' Ratna menatap gerbang rumah Pradipta di seberang jalan, kecil dan tenang dalam bingkai jendela kosong itu. 'Orang menyewa kamar untuk tidur, Dafa. Orang seperti dia menyewa kamar untuk menonton. Dan menonton empat bulan bukan pekerjaan. Itu kesenangan.'
Di kantor yayasan, kabar tentang kamar kos itu sampai ke telinga Nayaka lewat telepon Reza, dan diteruskan ke sesuatu yang lebih praktis: pemeriksaan ulang CCTV yayasan.
Nadia memutar rekaman itu di depan dua penyidik. Kurir bermotor itu terlihat jelas — helm gelap, jaket umum, plat nomor yang kemudian terbukti palsu. Wajahnya tidak pernah menghadap kamera. Bukan kebetulan: rute masuk dan keluar kantor kecil itu sudah diperhitungkan.
'Dia bukan orangnya,' kata Ratna malam itu di telepon. 'Dia hanya kaki sewaan, dibayar tunai, mungkin tidak tahu isi amplopnya. Orang kita tidak pernah turun sendiri. Itu sekaligus kabar baik dan kabar buruk. Buruknya: jalur kurir buntu. Baiknya: orang yang tidak pernah turun sendiri punya kelemahan — dia harus mempercayai orang lain untuk setiap langkah kecil. Dan orang yang disewa dengan uang tunai, Bu Nayaka, bisa juga disewa dengan pertanyaan yang tepat.'
'Jadi kita menunggu dia menyewa orang lagi?'
'Tidak.' Jeda pendek di ujung telepon. 'Kita membuatnya perlu menyewa orang lagi.'
Nayaka tidak menanyakan maksudnya saat itu juga. Tapi malam harinya, ketika ia dan Reza berdiri lagi di depan papan kecil mereka, ia menempelkan satu kertas baru di bawah nama Gilang Pramudya: foto cetak jendela kos lantai dua itu, dengan bekas tripod di depannya.
'Empat bulan dia menonton kita dari sana,' kata Reza pelan. 'Bara berangkat sekolah. Kamu ke yayasan. Aku ke kantor. Dia punya jadwal kita lebih rapi dari kalender kita sendiri.'
'Dan dia tidak pernah lewat dua menit,' tambah Nayaka, yang sore tadi ikut membaca laporan forensik. 'Kamar itu tidak ada sidik jarinya di gagang pintu — tapi ada sidik jari ibu kos di mana-mana. Dia tidak membersihkan jejaknya dari kamar. Dia tidak pernah meninggalkannya sejak awal.'
'Dan sekarang kamarnya kosong,' jawab Nayaka. 'Artinya dia butuh posisi baru. Posisi baru butuh persiapan. Persiapan butuh dokumen, sewa, uang.' Ia menatap papan itu. 'Za, orang birokrasi tidak bisa bergerak tanpa kertas. Kalau kita tahu kertas apa yang akan dia butuhkan... kita bisa menaruh kertas itu di tempat yang kita awasi.'
Reza menatap istrinya lama. Di luar, hujan rintik mengetuk atap, dan lampu taman menyala tenang di atas kebun kecil yang sedang tumbuh.
'Kamu sedang merancang umpan,' katanya.
'Aku sedang belajar dari Laras,' jawab Nayaka. 'Dia menyiapkan bukti sebelum pergi. Kita menyiapkan bukti sebelum dia datang.'