Kamis pagi, di tengah semua itu, wortel dipanen.
Bara sudah menghitung hari sejak seminggu, dan tidak ada sidang, buron, atau foto misterius yang boleh menggeser jadwal panen pertamanya. Ia turun ke kebun kecil bekas kolam renang itu dengan Bi Inah, sebuah keranjang plastik, dan Bimo yang datang khusus karena 'tidak percaya wortel bisa tumbuh di bekas kolam'.
'Tarik yang benar,' kata Bi Inah, membimbing tangan kecil itu. 'Pegang daunnya dekat tanah. Jangan dicabut kayak cabut rumput. Di kampung Bi Inah dulu, anak yang nyabut wortel asal tarik disuruh nanam ulang sepuluh.'
Wortel pertama keluar dengan bunyi kecil yang memuaskan — jelek, bengkok, pendek, dan menurut Bara adalah wortel paling sempurna yang pernah tumbuh di muka bumi. Bimo menilai dengan kritis: 'Punyaku di rumah nenek lebih panjang.'
'Punyamu ditanam nenekmu. Punyaku ditanam aku.'
Tidak ada jawaban untuk itu, dan Bimo dengan sportif mengakui kekalahan argumen. Dua bocah itu menghabiskan pagi mengotori lutut mereka, memperdebatkan apakah wortel lebih baik direbus atau dimakan mentah seperti kelinci — Bara tim kelinci, Bimo tim sop — sementara di teras, Reza dan Nayaka menemani dengan kopi, dan dengan dua personel keamanan baru yang berdiri di tepi halaman, berusaha terlihat seperti bagian dari taman.
'Ini jawabannya,' kata Nayaka pelan, memandang kebun kecil itu. 'Kamu tanya kemarin, apa yang kita lakukan sambil menunggu vonis dan sambil diintai orang tak dikenal. Ini. Kita menanam. Kita panen. Kita tidak mengubah satu jadwal pun. Dia memotret rumah ini supaya kita takut tinggal di dalamnya; jawabannya adalah tinggal di dalamnya dengan lebih keras.'
'Kamu mulai bicara seperti Ratna.'
'Ratna mulai bicara sepertiku,' jawab Nayaka, dan untuk sesaat, tawa kecil itu nyata.
Siangnya, ketegangan kembali lewat pintu yang tidak mereka duga: yayasan.
Nadia menelepon dengan suara yang berusaha tenang — dan justru karena usaha itu, Nayaka langsung berdiri dari kursinya. 'Bu Nayaka. Ada amplop untuk Ibu. Kurir tanpa nama — bukan kurir resmi, orang biasa, naik motor, langsung pergi sebelum satpam sempat tanya. Tidak ada pengirim. Saya tidak buka. Tapi... amplopnya tebal, dan ditulis tangan. Tulisannya rapi sekali. Terlalu rapi.'
'Kamu benar tidak membukanya, Nadia. Itu keputusan yang tepat.' Nayaka menekan suaranya agar tetap datar, sambil menatap Reza yang sudah berdiri di seberang meja, membaca situasi dari wajahnya. 'Sekarang dengarkan: kunci amplop itu di laci. Jangan ada yang menyentuhnya lagi. Tutup kantor lebih awal hari ini, pulang lewat jalan yang biasa, dan jangan cerita ke siapa pun dulu. Saya hubungi polisi.'
'Bapak satpam sempat merekam motornya, Bu. CCTV kantor.'
'Simpan rekamannya. Jangan diputar-putar, jangan disalin ke komputer mana pun. Biar polisi yang mengambilnya langsung.' Nayaka menutup telepon, dan untuk beberapa detik ia dan Reza hanya saling menatap di atas meja makan yang belum selesai dibersihkan Bi Inah.
'Dia menyentuh yayasan,' kata Reza pelan. 'Itu menyentuh Sekar dua kali.'
'Maka kita jawab dua kali lebih keras,' jawab Nayaka, mengangkat teleponnya lagi untuk menelepon Ratna.
Ratna sendiri yang datang, dengan sarung tangan dan kantong barang bukti — dan dengan dua penyidik yang diam-diam mencatat setiap wajah di seberang jalan kantor yayasan. Di dalam amplop cokelat itu ada dua benda: sebuah foto, dan secarik kertas.
Foto itu membuat seluruh ruangan diam: sebuah sedan di Jalur Puncak, dipotret dari ketinggian, dari belakang. Plat nomornya jelas. Itu mobil Sekar. Di sudut foto, cap waktu dari kamera: empat tahun lalu, hari kecelakaan itu — tiga menit sebelum perkiraan waktu kejadian.
Seseorang memotret mobil Sekar tiga menit sebelum mobil itu keluar jalur. Bukan kebetulan. Tidak ada kebetulan yang berdiri di ketinggian dengan kamera, di tikungan yang benar, di menit yang benar.
Kertasnya pendek, tulisan tangan, rapi sampai mengerikan:
*'Bukan Danu yang mengawasi mereka berdua. Kalian menangkap tangan yang salah.'*
'Tidak,' kata Ratna setelah membaca, lebih kepada dirinya sendiri. 'Kami menangkap tangan yang benar. Tapi ada tangan lain — dan dia baru saja menyerahkan bukti keberadaannya sendiri.' Ia menatap foto itu lagi, membaliknya, memeriksa kertasnya dengan teliti. 'Ini bukan ancaman. Ini pernyataan. Dia sedang memberi tahu kita bahwa dialah mata sejak awal — dan dia yakin kita tidak akan pernah sampai ke dia.'
'Kenapa sekarang?' tanya Nayaka. 'Kenapa dia menampakkan diri justru setelah Danu dituntut seumur hidup?'
'Karena papan sudah hampir kosong,' jawab Ratna. 'Dan pemain yang tersisa selalu mulai bicara ketika merasa sudah menang. Orang seperti dia butuh satu hal yang tidak bisa dibelinya: penonton. Empat tahun dia jadi orang yang tidak difoto. Sekarang dia mau ada yang tahu bahwa dialah yang paling pintar di ruangan.' Ratna menyimpan amplop itu ke kantong bukti. 'Dan kebutuhan itu, Bu Nayaka, adalah kebiasaan buruk yang akan membawanya ke kami. Orang yang butuh penonton selalu datang lebih dekat dari yang seharusnya.'
Malam itu, di rumah, setelah Bara tidur dengan foto wortel pertamanya terselip di buku gambar, Reza dan Nayaka berdiri di depan papan kecil mereka — papan yang dulu penuh nama, dan sekarang tinggal satu.
'Vonis dua minggu lagi,' kata Reza. 'Dan setelah itu, dunia akan menganggap perkara ini selesai. Koran pindah ke berita lain. Jaksa pindah ke berkas lain. Orang ini tinggal menunggu kita lelah.'
'Maka kita tidak boleh lelah.' Nayaka menatap nama terakhir di papan itu. 'Dia benar satu hal: kalau perkara ini tutup di nama Danu, dia menang selamanya. Kita tidak boleh berhenti di vonis, Za. Laras menyiapkan buktinya, Sekar menulis suratnya, dan orang ini memotret mereka berdua seolah mereka target. Kita berhutang pada dua perempuan itu untuk sampai ke orang yang memegang kameranya.'
Reza menggenggam tangan istrinya di depan papan itu. Lalu, dengan gerakan yang tidak direncanakan, ia mengambil foto kecil wortel bengkok Bara dari meja dan menyelipkannya di sudut papan — tepat di sebelah nama terakhir itu.
'Supaya kita ingat untuk apa semua ini,' katanya.
Di luar, hujan mulai turun pelan — dan di kamar tidurnya, anak yang dulu takut hujan itu tidur nyenyak dengan lampu kecil menyala, tidak tahu bahwa pertandingan yang sebenarnya baru saja dimulai.