Sidang pledoi berlangsung Kamis pagi, dan Danu Wijaya melakukan sesuatu yang tidak diperkirakan siapa pun: ia memberhentikan pengacaranya untuk bagian pembelaan, dan membacakan pledoinya sendiri.
'Karena hanya saya,' katanya kepada majelis, 'yang tahu persis apa yang sedang saya bela.'
Pembelaan itu — semua orang di ruangan sepakat kemudian — adalah pidato terbaik sekaligus paling mengerikan yang pernah didengar gedung itu. Tidak ada tangis. Tidak ada penyesalan palsu. Danu berdiri tegak dan bicara dengan ketenangan seorang dosen, mengakui hal-hal kecil untuk menolak hal-hal besar: ya, ia menyalahgunakan wewenang di Kalimaya; ya, ia menandatangani dokumen yang seharusnya tidak ia tandatangani. Tapi pembunuhan berencana? Ia menyebutnya 'konstruksi yang dibangun dari kesaksian seorang pengecut yang menukar hukuman dengan dongeng'.
Ia menyerang kesaksian Yanto — 'seorang saksi yang hidupnya sekarang dibiayai negara tentu akan mengatakan apa pun yang membuat negara tetap membiayainya'. Ia menyerang buku kecil Arga — 'catatan yang bisa ditulis kapan saja, oleh siapa saja, dengan tanggal berapa saja'. Ia bahkan menyerang surat Sekar — 'selembar kertas tanpa meterai, tanpa saksi, tanpa satu pun orang yang melihatnya ditulis'. Setiap serangan tipis, setiap serangan tidak cukup — tapi Danu tidak butuh cukup. Ia butuh retakan. Satu retakan kecil di pertimbangan hakim adalah satu pintu banding.
Dan di menit-menit terakhir, ia sampai pada bagian yang membuat Ratna — duduk di barisan belakang dengan seragam rapi — mencondongkan badan.
'Yang Mulia,' kata Danu, 'berkas ini menghukum tangan. Saya tidak meminta majelis mengampuni tangan — tangan memang kotor, dan biarlah ia menerima upahnya. Tapi saya meminta majelis mencatat satu hal di dalam pertimbangannya: selama perkara ini berjalan, mata yang memandu tangan-tangan itu masih berkeliaran di luar sana. Bebas. Tenang. Tidak tercatat. Kalau majelis menutup perkara ini hanya dengan nama saya, maka majelis tidak menutup apa-apa. Majelis hanya menyerahkan seluruh papan kepada satu pemain yang tersisa.'
Ia duduk. Ruangan hening. Hakim mengetuk palu menunda sidang untuk pembacaan vonis dua minggu kemudian.
Di lorong, wartawan menyerbu Aditya. 'Apa maksudnya 'satu pemain yang tersisa'? Apakah Danu menuduh ada orang lain?'
Aditya menjawab dengan wajah datar yang sudah ia latih empat puluh tahun: 'Pledoi adalah hak terdakwa. Isinya tanggung jawab terdakwa.' Dan ia berjalan terus — karena ia tahu, dan Ratna tahu, dan Reza serta Nayaka tahu, bahwa Danu barusan melakukan dua hal sekaligus: membangun citra korban untuk banding kelak, dan menyalakan lampu sorot ke arah satu orang yang selama ini berdiri paling nyaman dalam gelap.
Lampu sorot itu sampai ke sasarannya lebih cepat dari dugaan.
Sore harinya, tim Ratna bergerak ke kantor Gilang Pramudya dengan surat pemeriksaan — dan menemukan pintu yang sudah dua hari kosong. Pemilik ruko di sebelahnya mengangkat bahu: penyewanya datang Senin subuh dengan mobil boks kecil, mengangkut semuanya, membayar sisa kontrak tunai, dan tidak meninggalkan alamat. 'Rapi sekali, Pak. Kayak tidak pernah ada kantor di situ.'
Dan rapi memang bukan kiasan. Tim forensik menyapu ruangan itu tiga jam dan tidak menemukan apa-apa: tidak ada sidik jari di gagang pintu, tidak ada serat, tidak ada selembar nota pun. Kantor yang dibersihkan oleh orang yang dua puluh tahun berprofesi membereskan administrasi — yang tahu persis apa yang dicari penyidik karena dialah yang biasa menyiapkan jawabannya.
Tapi tidak cukup rapi. Di dinding paling belakang, di balik lemari arsip yang ikut diangkut, tertinggal satu benda yang terlepas dari tumpukan dan jatuh ke celah dinding: sebuah foto cetak, baru, sudut diambil dari seberang jalan.
Foto gerbang rumah keluarga Pradipta. Dengan tiga figur kecil di dalam bingkainya — dua dewasa, satu anak — tertangkap sedang masuk dari arah pemakaman.
Tidak ada sidik jari di fotonya. Kertas cetak murah, tinta inkjet rumahan — jenis yang dijual di mana-mana dan tidak bisa ditelusuri. Satu-satunya yang bicara adalah isinya, dan isinya berteriak.
Seorang penyidik muda mengusulkan teori bahwa foto itu sengaja ditinggalkan — umpan, bukan kelalaian. Ratna tidak menolak dan tidak menerima. 'Kalau ini sengaja ditinggalkan, dia mau kita tahu dia mengawasi. Kalau ini jatuh tanpa sengaja, dia sedang tidak serapi yang dia kira. Dua-duanya berguna. Dua-duanya berarti dia mulai membuat keputusan tentang kita — dan orang yang mulai membuat keputusan tentang polisi adalah orang yang mulai bisa diperkirakan.'
Ratna memandang foto itu lama sekali di ruang kerjanya malam itu, di bawah lampu meja yang kuning. Tanggal di metadata kertas cetaknya: tiga minggu lalu. Jauh setelah Danu ditangkap. Jauh setelah Arga ditangkap.
'Periksa ulang asumsinya,' katanya akhirnya kepada timnya, dan suaranya lebih dingin dari biasanya. 'Selama ini kita kira orang ketiga itu mengawasi untuk Danu. Tapi Danu sudah di dalam, dan orang ini malah mulai memotret keluarga korban.' Ia menempel foto itu di papan, di tengah-tengah, menggantikan posisi Danu yang digeser ke samping. 'Dia bukan kaki tangan yang kehilangan majikan. Dia pemain yang baru saja mendapatkan seluruh papan — persis seperti yang dibilang Danu di pledoi.'
Malam itu juga, pengamanan di rumah keluarga Pradipta ditambah dua personel. Reza menerima kabar tentang foto itu di telepon, berdiri di jendela kamarnya, memandang gerbang rumahnya sendiri dari balik tirai.
Nayaka bergabung di jendela, membawa salinan foto yang dikirim Ratna. Ia mempelajarinya lama, dengan mata analis yang pernah membaca kebohongan dari angka-angka tersusun rapi.
'Sudutnya dari seberang jalan, sedikit ke kiri,' katanya pelan. 'Tidak ada pohon setinggi itu di sana. Ini diambil dari kendaraan yang berhenti lama, atau dari kamar.' Ia menatap suaminya. 'Za, minta Ratna periksa rumah-rumah di seberang jalan kita. Kontrakan, kos, apa pun yang disewakan dalam enam bulan terakhir. Orang yang memotret dari sudut ini punya tempat duduk.'
Reza menatap istrinya — perempuan yang empat tahun menyusun dendam di ruang arsip, dan yang sekarang, di balik tirai kamarnya sendiri, mulai membalik arah kamera.
'Besok pagi,' katanya. 'Kubilang ke Ratna.'
Di luar sana, jalanan sepi dan gelap. Tapi untuk pertama kalinya, bukan hanya mereka yang diawasi — mereka juga mulai menghitung dari sudut mana mata itu memandang.