Surat Sekar diserahkan kepada Hendra Santika pada hari Selasa, di ruang tunggu kejaksaan, dalam amplop cokelat resmi dengan stempel barang bukti. Aslinya tetap ditahan negara sampai vonis; yang diterima Hendra adalah salinan yang dilegalisasi, difoto dari tulisan tangan putrinya — setiap goresan, setiap huruf yang ditulis terlalu keras sampai menembus kertas.
Hendra tidak membacanya di sana. Lelaki tua itu membawanya pulang seperti orang membawa sesuatu yang bisa pecah, dan baru membukanya malam harinya, di meja kerjanya, dengan lampu yang dinyalakan khusus.
Amplop itu dibuka dengan pisau surat yang sudah dua puluh tahun tidak dipakai. Kertas salinannya dilipat dua — dan Hendra tahu, dari lipatan itu, bahwa aslinya juga dilipat dua: lipatan amplop kecil, lipatan surat yang dimaksudkan untuk dibawa-bawa, bukan untuk dibaca sekali lalu dibuang.
*'Bapak,*
*kalau surat ini sampai, berarti aku sudah tidak bisa menyampaikannya sendiri. Maaf. Aku tahu Bapak malu. Aku tahu di mata Bapak aku anak yang dipecat, yang gila, yang menuduh tanpa bukti. Tapi Bapak, aku menemukan angka yang salah, dan angka yang salah itu menyeret nama orang-orang besar, dan aku tidak bisa diam. Bukan karena aku berani. Karena aku takut — dan aku tidak tahan takut sendirian, jadi aku menulis ke mana-mana supaya ada orang lain yang tahu.*
*Kalau Bapak membaca ini suatu hari nanti, tolong percaya satu hal: anak Bapak tidak gila. Anak Bapak benar. Dan tolong jagain Nayaka. Dia lebih keras kepala dariku, dan itu artinya dia akan lebih lambat minta tolong.*
*Aku sayang Bapak. Bahkan ketika Bapak tidak percaya.*
*Sekar.'*
Hendra membaca surat itu berkali-kali sampai hurufnya kabur. Di antara bacaaan ketiga dan keempat, kenangan datang tanpa izin: Sekar kecil dengan piala lomba matematika yang lebih besar dari kepalanya; Sekar remaja yang berdebat dengan guru karena soal ujian yang jawabannya keliru; Sekar yang pulang kerja dengan mata menyala, bercerita tentang angka-angka yang 'tidak mau duduk diam'. Anak itu tidak pernah berubah. Yang berubah adalah ayahnya — dan perubahan itu berbiaya empat tahun dan satu nyawa.
Ia duduk di kursinya dalam gelap, memegang kertas itu di pangkuannya seperti orang memegang tangan. Empat tahun ia membela harga dirinya dengan menghapus nama putrinya dari percakapan. Sekarang harga diri itu terlihat seperti apa adanya: pintu yang ia kunci dari dalam, sementara putrinya mengetuk dari luar dengan surat yang tidak pernah sampai.
Pukul sebelas malam, ia menelepon Nayaka. Tidak ada basa-basi — keluarga Santika tidak pandai basa-basi.
'Sekar menulis untuk Bapak,' katanya. Suaranya pecah di tengah, dan ia tidak memperbaikinya. 'Dia menitipkan kamu. Dia bilang kamu lebih keras kepala dan lebih lambat minta tolong. Empat tahun, Nay... Bapak menjaga nama baik keluarga dengan mengorbankan anak yang paling benar di keluarga ini.'
'Bapak sudah minta maaf ke Sekar. Di makamnya. Aku dengar.'
'Belum cukup. Minta maaf ke orang yang sudah pergi itu mudah, Nak — mereka tidak bisa menjawab.' Hendra menarik napas panjang. 'Yang sulit adalah menjalani sisa umur dengan tahu bahwa satu-satunya orang yang percaya padanya di hari-hari terakhirnya adalah kertas. Bapak akan menanggung itu. Tapi Bapak mau kamu tahu: mulai malam ini, di rumah ini, nama Sekar disebut setiap hari. Di doa, di meja makan, di mana pun. Nama itu bukan aib. Nama itu kebanggaan yang terlambat Bapak akui.'
Nayaka tidak menjawab segera. Di ujung telepon, ia mengusap matanya dengan punggung tangan, dan ketika akhirnya bersuara, suaranya kecil. 'Dia pasti senang sekali mendengarnya, Pak. Dia menunggu itu lebih lama dari suratnya.'
'Jumat datang makan malam ke sini. Bawa Reza dan Bara.' Hendra berhenti sebentar. 'Bapak mau cerita ke Bara tentang Tante Sekarnya. Anak itu berhak tahu dia punya tante yang tidak pernah takut.'
Dua hari kemudian, sidang tuntutan digelar.
Ruang sidang penuh sampai ke pintu. Jaksa penuntut umum membacakan tuntutan selama dua jam, halaman demi halaman: Kalimaya, vendor fiktif, audit palsu, dua kematian yang direncanakan dengan dingin, dua keluarga yang dihancurkan demi menyelamatkan satu nama. Untuk Arga Mahesa, negara menuntut lima belas tahun — lebih ringan, dengan catatan tebal tentang kerja samanya; untuk Danu Wijaya, jaksa menyimpan halaman terakhirnya sampai detik-detik akhir.
'Berdasarkan seluruh fakta persidangan, kami menuntut terdakwa Danu Wijaya dengan pidana penjara seumur hidup.'
Kata-kata itu menggantung di ruangan beberapa detik sebelum diserap menjadi bisik-bisik dan bunyi kamera. Seumur hidup. Bukan hukuman mati — jaksa menjelaskan kemudian bahwa negara tidak membalas kematian dengan kematian — tapi seumur hidup: sisa umur di dalam tembok, dihitung hari demi hari.
Di barisan belakang, seorang ibu yang tidak dikenal siapa pun menunduk dan berdoa. Di dekat pintu, dua mahasiswa hukum mencatat dengan mata berbinar, belajar bahwa keadilan ternyata punya suara dan suaranya datar. Perkara besar selalu berakhir seperti itu: bukan dengan guntur, melainkan dengan satu kalimat yang dibacakan orang lelah dari kertas yang lelah — dan tetap saja mengubah hidup semua orang yang mendengarnya.
Di kursi pengunjung, Reza dan Nayaka duduk berdampingan. Hendra di sebelah Nayaka, dengan salinan surat Sekar di saku dalam jaketnya — sejak Selasa, surat itu tidak pernah jauh dari dadanya.
Dan di kursi terdakwa, Danu Wijaya mendengarkan vonis atas sisa hidupnya dengan ekspresi yang membuat bulu kuduk Nayaka meremang: lelaki itu tersenyum tipis. Bukan senyum menantang. Bukan senyum patah. Senyum orang yang sedang memikirkan hal lain.
'Lihat dia,' bisik Nayaka. 'Orang yang baru saja dituntut seumur hidup tidak tersenyum seperti itu. Kecuali dia masih memegang kartu.'
'Pledoi minggu depan,' bisik Reza. 'Kartunya akan dia mainkan di sana.'
Di luar gedung, kamera berkerumun. Di dalam dada Hendra, surat Sekar ikut mendengarkan tuntutan itu — anak yang menulis ke mana-mana supaya ada orang lain yang tahu, akhirnya, di ruang sidang negara, didengar.