Nayaka mendengarkan semuanya di teras, dari awal sampai akhir, tanpa memotong sekali pun. Ketika Reza selesai, malam sudah turun penuh dan lampu taman menerangi barisan wortel yang daunnya mulai menjulai.
'Dia menelepon pembunuhnya,' kata Nayaka akhirnya, pelan, 'untuk menawarinya jalan pulang. Itu... sangat Laras, Za. Itu membuatku sedih sekaligus tidak kaget sama sekali.'
'Aku tidak tahu harus menaruhnya di mana,' kata Reza. 'Empat tahun aku membayangkan malam itu sebagai malam yang gelap. Ternyata ada satu telepon di dalamnya. Ada suaranya. Dia tidak sendirian di malam itu — dia sedang sibuk menjadi dirinya sampai detik-detik terakhir.'
'Maka taruh di tempat yang benar: bukan di luka, tapi di bukti.' Nayaka menggenggam lengan suaminya. 'Telepon itu membuktikan Laras memberi kesempatan. Dan penolakan kesempatan itu yang akan dibacakan hakim kelak. Bahkan kebaikannya bekerja untuk berkas, Za. Persis seperti yang kukatakan ke Bara: dia belum selesai bekerja.'
Mereka duduk dalam hening yang tidak lagi sepi. Di dalam rumah, Bi Inah menutup buku cerita, dan lampu kamar Bara padam.
Pagi harinya, rekaman CCTV ruang besuk itu sudah ada di meja Ratna, diputar tiga kali berturut-turut di ruang kerjanya yang kecil. Di putaran ketiga, Ratna menjeda di satu kalimat dan menatap anak buahnya.
'"Teman tidak tercatat."' Ia memutar ulang. 'Dia sengaja membiarkan ini terekam. Orang seperti Danu tidak pernah memberi apa pun gratis — jadi ini pembayaran untuk sesuatu. Mungkin untuk merusak tidurku. Tapi pembayaran tetap pembayaran: ada nama yang benar-benar ada di luar sana, dan Danu baru saja menandatangani keberadaannya.'
'Tapi kenapa dia mau?' tanya seorang penyidik muda.
'Karena sakit hati adalah satu-satunya mata uang yang masih dia miliki.' Ratna mematikan layar. 'Dan orang yang sakit hati paling senang membelanjakannya untuk menyeret orang lain. Periksa ulang semua yang kita anggap selesai. Kalau ada mata di luar, dia pasti pernah meninggalkan satu keliru. Semua orang meninggalkan satu.'
Pencarian berubah arah hari itu juga. Kalau orang itu bukan karyawan, bukan di dokumen, maka ia ada di tempat yang tidak pernah dipetakan penyidik: lingkar pribadi. Ratna meminta daftar bukan dari berkas perusahaan, melainkan dari album-album lama — foto wisuda, foto pernikahan, daftar tamu acara-acara keluarga.
Adityalah yang menemukannya, di antara kenangan yang lima belas tahun tidak disentuh.
'Geng kecil kalian waktu kuliah,' kata Aditya di ruang kerja Reza, meletakkan foto lama di atas meja. Empat pemuda berjajar di depan kampus, dengan jas almamater yang kebesaran. 'Kau, Danu, Benny yang sekarang di Singapura... dan ini. Gilang Pramudya. Kau ingat?'
Reza menatap wajah keempat itu. Wajah yang bahkan di foto pun berdiri setengah langkah di belakang yang lain. 'Gilang. Anak paling pendiam di kelompok kami. Yang selalu mengurus... urusan-urusan kecil. Fotokopi, surat, antrean administrasi.'
'Lebih dari itu.' Aditya membalik foto itu; di belakangnya, tulisan tangan Danu muda: *panitia wisuda terhebat*. 'Dia yang mengatur logistik wisuda kalian. Dia yang mengatur logistik pernikahanmu dengan Laras — kursi, katering, surat-surat gedung. Kau tidak ingat karena orang yang memastikan acara berjalan memang tidak pernah difoto. Gilang menghabiskan dua puluh tahun menjadi orang yang tidak difoto.'
'Dan setelah lulus?'
'Membuka kantor konsultan administrasi kecil. Tahu siapa salah satu klien pertamanya?' Aditya menatap Reza dengan tatapan orang yang tidak senang menjadi pembawa kabar. 'Perusahaanmu. Tujuh tahun lalu, lewat rekomendasi Danu. Tidak ada kontrak besar — Gilang tidak pernah pegang kontrak besar. Dia pegang yang kecil-kecil: pengurusan dokumen, perpanjangan izin, surat menyurat. Hal-hal yang tidak pernah masuk laporan karena terlalu kecil untuk dilaporkan.'
'Aku bahkan tidak ingat pernah menandatangani apa pun untuknya.'
'Itulah gunanya orang seperti Gilang.' Aditya menutup album itu perlahan, seperti menutup peti. 'Kau menandatangani seratus surat sebulan, Za. Sembilan puluh sembilan di antaranya tidak kau baca. Dan Danu tahu itu — dia tahu karena dialah yang mengajarkan semua orang di sekitarnya untuk tidak membaca, sementara dia membaca semuanya.'
'Terlalu kecil untuk dilaporkan,' ulang Reza, 'adalah tempat terbaik untuk bersembunyi.'
Sore harinya, benang kedua datang dari arah berlawanan. Staf administrasi sekolah baru anak Yanto — satu dari dua puluh nama di daftar Ratna — akhirnya mengaku setelah dua kali pemeriksaan: minggu lalu ia menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari sebuah 'yayasan beasiswa', menanyakan konfirmasi status pendaftaran seorang murid pindahan. Pertanyaan sopan, prosedural, tidak mencurigakan — sampai penyidik menelusuri nomornya dan menemukan kartu perdana yang dibeli dengan identitas palsu di sebuah konter kecil.
'CCTV konter itu sudah menimpa rekaman lamanya,' kata Ratna di telepon kepada Reza. 'Pembelinya tidak terekam. Disiplin tingkat tinggi — nomor itu mati total setelah satu panggilan. Tapi kami menarik data menara seluler, dan pada jam panggilan itu, posisinya tercatat di satu area. Area yang sama dengan alamat sebuah kantor konsultan administrasi kecil.'
Reza sudah tahu jawabannya sebelum Ratna mengatakannya.
'Milik Gilang Pramudya.'
Di kantor yayasan, kabar tuntutan yang akan datang sudah lebih dulu sampai lewat berita. Nadia masuk membawa tablet. 'Bu, media mulai bertanya lagi. Mereka mau komentar yayasan soal sidang minggu depan.'
'Jawaban kita sama seperti kemarin,' kata Nayaka tanpa mengangkat wajah dari berkas beasiswa. 'Dua belas anak mulai kuliah Senin. Itu satu-satunya komentar yang yayasan ini punya.'
Di rumah malam itu, Bara menanyakan hal yang sudah ia simpan sejak kemarin, di sela makan malam: 'Yah. Orang jahat itu kemarin bilang apa?'
Reza dan Nayaka bertukar pandang singkat — pakta lama mereka: tidak berbohong, hanya menyederhanakan.
'Dia bilang sesuatu yang penting,' kata Reza. 'Sesuatu tentang Mama Laras yang membuat Ayah sedih, tapi juga lega. Dan Ayah menutup sesuatu yang sudah lama mengganjal.'
'Sudah tidak mengganjal lagi?'
Reza mempertimbangkannya dengan jujur. 'Masih sedikit. Tapi lebih ringan.'
'Bagus.' Bara kembali ke supnya, selesai dengan urusan orang dewasa. 'Kamis jangan lupa. Wortel.'
Tapi di papan kecil penyidik malam itu, satu nama baru tertulis dengan tinta yang berbeda dari yang lain. Gilang Pramudya. Teman tidak tercatat — yang sekarang, untuk pertama kalinya, tercatat.