Danu bicara.
'Malam itu,' katanya pelan, seolah menimbang setiap kata sebelum melepaskannya, 'Laras meneleponku. Pukul tujuh lebih empat puluh. Aku masih ingat angka di jam tanganku, karena aku menatapnya sepanjang telepon itu.'
Reza tidak bergerak. Kamera di sudut ruangan merekam semuanya, dan ia tidak peduli.
'Dia tidak menjerit. Kau tahu sendiri bagaimana dia — dia tidak pernah menjerit.' Danu menatap meja di antara mereka. 'Dia bilang dia sudah menelusuri Kalimaya sampai ke namaku. Bukan ke perusahaan. Ke namaku. Dia punya semuanya: vendor, rekening, tanda tangan. Dan dia tidak menelepon polisi. Dia meneleponku.'
Suara Danu berhenti sebentar di sana, dan untuk pertama kalinya Reza mendengar sesuatu yang bukan perhitungan — sesuatu yang lebih tua dan lebih buruk.
'Dia memberiku waktu sampai pagi. Kata-katanya persis: "Serahkan dirimu sendiri, Danu. Kalau kau yang datang duluan, aku akan berdiri di sampingmu di ruang sidang. Kalau bukan, besok pagi aku yang datang."' Danu mengangkat wajahnya. 'Lima belas tahun kita bersahabat, Za, dan istrimu adalah satu-satunya orang yang pernah memberiku jalan keluar. Bukan pengacara. Bukan kau. Dia.'
'Tapi kau tidak mengambilnya.'
'Tidak.' Tidak ada penyangkalan di wajah itu. 'Karena dalam perhitunganku malam itu, aku tidak sedang memilih antara menyerah dan kabur. Aku sedang memilih antara kehilangan nama dan kehilangan... sisanya. Aku memilih sisanya. Perintah itu keluar malam itu juga, karena telepon itu tidak boleh punya pagi.'
Reza meremas tepi meja pembatas sampai buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, Laras yang selama ini ia bayangkan tidur di dalam mobil yang meluncur tiba-tiba punya suara — suara yang tenang, yang menawarkan kebaikan kepada orang yang akan membunuhnya empat jam kemudian.
'Satu pertanyaan,' kata Reza akhirnya, dan suaranya terdengar seperti milik orang lain. 'Kau menyesal?'
Danu menatapnya lama. Terlalu lama untuk menjadi jawaban yang Reza harapkan.
'Aku menyesal kehilangan,' katanya akhirnya. 'Itu tidak sama, dan kau tahu itu. Kau datang ke sini berharap mendengar penyesalan supaya lima belas tahun persahabatan kita ada artinya. Tidak ada, Za. Aku adalah orang yang sama sejak hari pertama kita kenal. Kau saja yang memilih tidak membaca.'
Reza teringat sore pertama mereka di kampus — Danu meminjamkan catatan, Danu mengejek tulisannya, Danu tertawa paling keras di setiap cerita orang lain. Lima belas tahun ia mengira tertawa itu kehangatan. Sekarang ia melihatnya dengan jelas: itu selalu tawa penonton yang menilai, bukan teman yang menemani.
Kalimat itu seharusnya menyakitkan. Anehnya, ia justru melapangkan sesuatu di dada Reza — pintu terakhir yang akhirnya bisa ditutup tanpa rasa ingin tahu apa pun di baliknya.
'Ada satu lagi,' kata Danu. 'Dan ini yang benar-benar tidak ada di berkas mana pun. Malam itu, sebelum Laras menelepon, aku sudah lebih dulu ditelepon. Seseorang memberitahuku bahwa Laras sudah mengumpulkan semuanya — sehari sebelum aku sendiri tahu. Seseorang yang sudah mengawasinya lebih lama dari yang kuperintahkan.'
'Arga?'
'Arga kaki. Kaki tidak mengawasi tanpa disuruh.' Danu menggeleng pelan. 'Yang meneleponku itu bukan karyawanku. Tidak pernah tercatat di mana pun — tidak di payroll, tidak di notaris, tidak di satu pun dokumen yang sudah disita polisimu. Dia teman. Dan teman, Za, tidak tercatat.'
'Ciri-cirinya. Kebiasaannya. Apa pun.'
'Aku akan memberimu satu hal yang lebih berguna dari ciri-ciri: dia tidak pernah menyentuh apa pun. Itu bakatnya. Dia orang yang berdiri di belakang orang yang berdiri di belakang.' Danu mencondongkan badan. 'Orang itu masih di luar. Dan sekarang dia tidak sedang bekerja untukku — tidak ada lagi yang bisa kubayar dari sini. Dia sedang bekerja untuk dirinya sendiri. Selama berkasku bergerak ke vonis, dia aman, karena semua mata melihat ke arahku. Tapi kalau galian polisimu mulai mendekatinya...' Danu mengangkat bahu, gerakan kecil yang mengerikan justru karena kecilnya. 'Dia sudah dua kali membuktikan apa yang sanggup dia lakukan supaya galian berhenti.'
'Kenapa kau ceritakan ini kepadaku?'
Danu diam cukup lama untuk membuat jawabannya terasa seperti jawaban terakhir.
'Karena aku kalah, dan aku tidak mau kalah sendirian. Dan karena—' ia berdiri, menandakan waktu habis, dan kalimat terakhirnya keluar hampir tanpa suara, '—karena istrimu, sampai malam terakhirnya, masih percaya orang bisa memilih jadi baik. Kau berhak tahu itu. Dia mati sebagai orang yang menawariku kehormatan. Tidak banyak orang mati dengan begitu.'
Petugas membuka pintu. Danu berjalan keluar tanpa menoleh, dan Reza ditinggalkan sendirian di ruangan neon itu dengan dua kebenaran yang sama beratnya: istrinya pernah menelepon pembunuhnya untuk menawarkan jalan pulang — dan di luar sana, ada seseorang yang tidak pernah tercatat, yang sudah dua kali membuat galian berhenti.
Di mobil, Reza tidak langsung menyalakan mesin. Hujan tipis mulai turun di parkiran lapas, membuat tembok tinggi berkawat itu terlihat seperti lukisan yang luntur. Ia duduk lama, membiarkan wiper tidak bekerja, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun membayangkan malam terakhir Laras dengan utuh: bukan kegelapan, melainkan satu telepon. Satu suara. Satu tawaran yang ditolak.
Lalu ia menyalakan mesin, dan mengangkat teleponnya begitu lampu merah pertama memberinya waktu.
Sepanjang jalan pulang, kota berkedip basah di luar kaca, dan Reza menyetir dengan kehati-hatian orang yang tahu persis betapa murahnya sebuah tikungan bisa dibeli. Setiap lampu rem di depannya ia baca dua kali. Setiap motor yang terlalu lama di spion ia catat. Bukan takut — ia sudah melewati takut bertahun-tahun lalu. Ia hanya tidak berniat memberi siapa pun kemudahan.
'Ruangan itu direkam CCTV sesuai prosedur,' katanya begitu Ratna menjawab. 'Dia tahu itu. Dia tetap bicara. Artinya dia sengaja membiarkan ini terekam — dan Bapak perlu mendengar rekamannya pagi ini juga.'
'Saya urus izinnya malam ini,' jawab Ratna. Lalu, setelah jeda: 'Apa yang dia katakan?'
Reza menatap kaca depan yang mengalir oleh gerimis. 'Bahwa kita selama ini menangkap tangan. Dan matanya masih berkeliaran.'