Sepuluh hari setelah sidang saksi, ketika dakwaan tambahan sudah resmi dan berkas berpindah ke meja penuntut umum, surat itu datang ke kantor Aditya.
Resmi, lewat jalur pengacara ke pengacara: terdakwa Danu Wijaya mengajukan permintaan untuk bertemu. Bukan dengan penyidik. Bukan dengan jaksa. Dengan Reza Pradipta.
Aditya menelepon Reza malam itu juga. 'Kau tidak wajib menjawab. Kau tidak wajib datang. Dan kalau kau tanya pendapatku sebagai pengacara: jangan. Tidak ada untungnya secara hukum. Apa pun yang dia katakan di ruang besuk tidak bisa dipakai untuk apa pun selain membuka luka.'
'Dan pendapatmu sebagai orang yang mengenalku sejak kecil?'
Aditya diam sebentar di ujung telepon. 'Sebagai orang yang mengenalmu: kau akan pergi. Aku cuma tidak mau kau pergi dengan kepala yang salah.'
Reza membicarakannya dengan Nayaka malam itu, di teras, di bawah lampu hujan kecil yang sudah menjadi lampu taman.
'Dia mau bertemu,' kata Reza. 'Lima belas tahun persahabatan, dan dia minta satu pertemuan terakhir sebelum tuntutan dibacakan.'
'Kamu mau pergi.'
'Aku belum tahu.' Reza menatap gelasnya. 'Ada bagian dari diriku yang mau mendengar dia mengatakannya langsung. Bukan lewat pengacara, bukan lewat berkas. Mengaku. Ke mataku.'
'Dan kalau dia tidak mengaku? Kalau dia malah meminta sesuatu?'
'Maka aku menolak, dan pulang.'
Nayaka diam lama. Angin malam menggerakkan daun-daun di kebun kecil yang akhirnya menang melawan kolam renang — wortel pertama sudah ditanam Bara dengan upacara yang layak.
'Aku tidak akan melarangmu,' katanya akhirnya. 'Tapi aku mau kamu tahu satu hal yang kupelajari dari empat tahun menyusun dendam: orang seperti Danu tidak pernah mengadakan pertemuan tanpa papan. Kalau dia memanggilmu, ada langkah yang sedang ia siapkan. Pergi kalau kamu perlu — tapi pergilah sebagai orang yang sudah selesai, bukan sebagai orang yang masih berharap ada penjelasan yang bisa membuat lima belas tahun itu masuk akal. Penjelasan itu tidak ada, Za. Aku sudah mencarinya empat tahun untuk Sekar. Yang ada cuma orang yang memilih, dan orang yang menanggung pilihannya.'
Reza menatap istrinya lama. 'Kapan kamu jadi sebijak ini?'
'Di ruang arsip rumahmu, malam-malam, membaca map biru.' Nayaka tersenyum kecil. 'Bijak itu mahal. Jangan minta lagi.'
Kepada Bara, mereka menyampaikannya dengan bahasa yang disederhanakan: Ayah akan pergi menemui seseorang yang dulu teman Ayah, yang sekarang sedang dihukum.
'Orang jahat itu?' tanya Bara.
'Iya.'
'Buat apa?'
Reza memilih kata-katanya pelan. 'Kadang orang dewasa perlu menutup sesuatu dengan bertemu langsung. Supaya tidak ada yang mengganjal lagi di sini.' Ia mengetuk dadanya sendiri. Bara mempertimbangkan itu dengan kesungguhan anak delapan tahun, lalu mengangguk. 'Kalau gitu pergi saja. Tapi jangan lama-lama. Kamis kita panen wortel.'
Pagi harinya, Reza menelepon Aditya: ia akan datang. Ratna mengatur izinnya — pertemuan tanpa pengacara, di ruang besuk, dengan rekaman CCTV ruangan menyala sesuai prosedur.
Tiga hari kemudian, Reza menyetir sendiri ke lapas di tepi kota itu — dua jam perjalanan, tanpa sopir, tanpa Aditya, tanpa siapa pun. Di sepanjang jalan tol, lima belas tahun berputar di kepalanya tanpa diminta: Danu di bangku kuliah, meminjamkan catatan sambil mengejek tulisannya; Danu sebagai pendamping di akadnya dengan Laras, menepuk bahunya sambil berkata *jangan rusak perempuan sebaik itu*; Danu di pemakaman, memikul peti di sisi yang lain — dan sekarang Reza tahu tangan itu pula yang menaruh peti di sana sejak awal.
Di gerbang, prosedur berjalan dingin dan rapi: identitas dititipkan, badan diperiksa, cap di punggung tangan. Ruang tunggu besuk dipenuhi keluarga lain — seorang ibu dengan rantang, dua anak kecil yang bosan, seorang lelaki tua yang datang sendirian seperti dirinya. Tidak ada yang saling menatap. Di tempat ini setiap orang membawa dosanya masing-masing, dan dosa orang lain tidak menarik.
Ketika namanya dipanggil, Reza berdiri dan merapikan jaketnya seperti orang yang akan masuk rapat — kebiasaan lama yang tidak tahu harus dikalungkan ke mana lagi.
Sebelum masuk, ia sempat berhenti sebentar di depan papan pengumuman jadwal besuk, membaca tanpa benar-benar membaca. Di dalam dadanya ada perdebatan terakhir antara dua versi dirinya: suami Laras yang ingin jawaban, dan suami Nayaka yang sudah diperingatkan bahwa jawaban itu tidak ada. Ia membawa keduanya masuk; tidak ada aturan yang melarang.
Pintu besi ruang besuk dibuka petugas dari dalam. Ruangnya kecil dan terang benderang — lampu neon yang tidak menyisakan sudut untuk bersembunyi, kamera di dua sudut plafon, dan bau disinfektan yang gagal menutupi bau yang lebih tua: bau tempat di mana orang-orang menunggu hukumannya. Di balik meja pembatas, duduk lelaki yang lima belas tahun ia sebut saudara — lebih kurus, lebih abu-abu, rambutnya dipotong pendek tanpa gaya, tapi dengan mata yang sama: mata yang selalu menghitung.
'Kau datang,' kata Danu. 'Aku bertaruh kau akan datang.'
'Jangan bertaruh tentang aku lagi,' jawab Reza, duduk. 'Kau sudah kalah semua taruhan tentang aku.'
Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap — dua lelaki yang pernah tahu isi kulkas rumah masing-masing, kini dipisahkan meja pembatas dan dua nyawa. Danu mengamatinya seperti mengamati laporan tahunan: pelan, dari atas ke bawah, mencari angka yang berubah. 'Kau lebih kurus,' katanya akhirnya. 'Kurang tidur?'
'Lima belas tahun kau kenal aku,' kata Reza. 'Kau tahu aku tidak datang untuk berbasa-basi.'
Danu tersenyum — senyum lama, senyum ballroom, yang kini terlihat seperti topeng yang retak. 'Aku tidak memanggilmu untuk mengaku, Za. Pengakuan itu untuk hakim. Aku memanggilmu karena ada satu hal yang tidak ada di berkas mana pun. Satu hal tentang Laras. Tentang malam terakhirnya.' Ia mencondongkan badan ke pembatas. 'Dan aku hanya akan mengatakannya kepadamu. Hari ini. Setelah itu, aku tidak bicara lagi kepada siapa pun sampai vonis.'
Reza tidak bergerak. Di luar ruangan, jarum jam dinding berdetak terlalu keras.
'Katakan,' katanya akhirnya.
Dan Danu bicara.