Sidang pemeriksaan saksi berlangsung dua hari, dan dua hari itu mengubah peta perkara selamanya.
Pengacara Danu tidak tinggal diam tentu saja. Sebelum Yanto bicara, ia menyerang duluan dengan pertanyaan pendahuluan yang dirancang untuk menggerogoti: 'Saudara Yanto mengaku menerima uang untuk menutup bengkel. Artinya Saudara pernah memalsukan keterangan. Kenapa majelis harus percaya pada orang yang sudah mengaku berbohong?'
Jaksa menjawab sebelum hakim sempat menengahi: 'Karena kebohongan lama Saudara Yanto dibayar, Yang Mulia — dan kesaksian hari ini tidak dibayar siapa-siapa. Saksi justru kehilangan pekerjaan, alamat, dan tiga tahun hidupnya karena kebenaran yang ia simpan. Majelis boleh menimbang: mana yang lebih mahal — bohong yang dibayar, atau jujur yang membayar?'
Hakim mengangguk kecil. Pengacara itu duduk. Dan barulah Yanto mulai bicara.
Hari pertama, Yanto Sularso bersaksi lewat video dari rumah aman — wajahnya kabur bagi publik, jelas bagi majelis. Lelaki tua itu bicara dengan suara gemetar tapi tidak pernah berhenti: tentang mobil yang datang dengan keluhan rem, tentang pemeriksaan yang menyatakan aman, tentang lelaki yang datang malam harinya dengan amplop kas kecil Kalimaya, tentang perintah untuk tutup dan pindah, tentang tiga tahun hidup seperti bayangan.
'Saudara melihat orang itu. Apakah Saudara bisa mengenalinya?' tanya jaksa.
'Bisa. Saya tidak pernah lupa wajah orang yang datang malam-malam membawa perintah seperti itu.'
'Apakah orang itu ada hubungannya dengan terdakwa?'
Yanto ragu sebentar — dan keraguan itu, di mata semua orang di ruangan, justru membuat kesaksiannya terasa jujur. 'Saya tidak kenal terdakwa. Tapi orang yang datang itu membawa amplop proyeknya. Dan tiga tahun kemudian saya melihat wajahnya di berita, waktu rapat dewan itu ramai. Namanya Arga Mahesa.'
Siangnya, pengacara Danu mendapat gilirannya, dan ia menyerang dari sisi tanggal. 'Saudara yakin mobil itu datang hari Senin? Tiga tahun lalu? Ingatan manusia bukan arsip, Saudara.'
'Benar, ingatan bukan arsip,' jawab Yanto. 'Tapi saya montir, Pak. Tanggal itu saya ingat karena besoknya anak saya imunisasi, dan saya tidak bisa ikut karena harus menutup bengkel. Istri saya marah tiga hari. Hal-hal yang membuat istri marah tiga hari tidak gampang dilupakan.'
Beberapa orang di ruangan tertawa kecil sebelum sempat ditahan. Pengacara itu mencoba dua sudut lagi — amplop, wajah, warna — dan setiap kali Yanto menjawab dengan ketepatan orang yang hidupnya dihancurkan oleh jawaban itu. Di menit keempat puluh, pengacara itu berhenti; bukan karena puas, melainkan karena setiap pukulan yang ia layangkan hanya membuat saksi terlihat lebih jujur.
Di kantor kecil yayasan, Nayaka dan Nadia menyaksikan jalannya sidang dari laptop dengan pintu ditutup. Ketika nama Arga disebut, Nadia menoleh. 'Itu orang yang kemarin di berita? Yang sudah ditangkap?'
'Iya.'
'Berarti mereka mulai saling menunjuk.'
'Bukan saling.' Nayaka tidak melepaskan layar. 'Yang satu menunjuk, yang satu menghindar. Mulai hari ini beritanya bukan tentang kita lagi. Ini tentang mereka berdua.'
Hari kedua adalah hari Arga.
Ia masuk dengan jas tahanan dan wajah yang sudah berhenti berpura-pura. Tidak ada lagi kehangatan ballroom, tidak ada lagi senyum terukur — yang tersisa adalah lelaki yang sudah menghitung untung-rugi terakhirnya dan menemukan bahwa kejujuran adalah satu-satunya aset yang masih berharga.
Jaksa membimbingnya perlahan. Kalimaya. Vendor fiktif. Audit yang disusun untuk menutupi. Dan kemudian, bagian yang membuat ruang sidang menahan napasnya:
'Malam tanggal empat belas, Saudara pergi ke bengkel Yanto Sularso. Atas perintah siapa?'
'Atas perintah Pak Danu Wijaya.'
'Apa kata-kata persisnya?'
Arga menelan ludah. 'Dia bilang: 'Laras mau meledakkan semuanya. Buat dia tidak sampai ke meja mana pun. Mobilnya.' Saya... saya tidak menanyakan detailnya. Saya tidak mau tahu detailnya. Itu bukan alasan. Itu kejahatan saya sendiri.'
'Dan untuk Sekar Ayu Santika?'
'Sama. Dua bulan kemudian. Dia bilang gadis itu tidak akan berhenti, bahkan setelah dipecat. "Dia menulis surat ke mana-mana, ke regulator, ke siapa pun. Selesaikan." Saya membayar orang untuk itu. Orangnya sudah mati. Tapi surat-surat yang dikirim Sekar — saya menyimpan salinannya. Di brankas rumah orang tua saya. Sebagai... jaminan, kalau suatu hari saya yang disingkirkan.'
Ruangan itu tidak bergerak. Di kursi terdakwa, untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, Danu Wijaya kehilangan kendali atas wajahnya — bukan marah, bukan takut, melainkan sesuatu yang lebih telanjang: keterkejutan orang yang selama ini mengira dirinya satu-satunya yang menyimpan jaminan.
'Saudara menyimpan surat-surat pelaporan Sekar?' tanya hakim.
'Ya, Yang Mulia. Termasuk satu surat yang tidak sempat dikirim. Ditulis tangan. Ditujukan ke...' Arga berhenti, menarik napas. 'Ke keluarganya. Ke ayahnya. Tidak sempat dikirim karena saya mengintersepsi surat-suratnya.'
Di barisan pengunjung, Hendra Santika memegang tongkatnya dengan kedua tangan, dan tongkat itu bergetar. Surat terakhir putrinya. Empat tahun lelaki tua itu menyebut nama itu aib, dan nama itu ternyata menghabiskan hari-hari terakhirnya menulis surat kepadanya — surat yang tidak pernah sampai.
Jaksa menutup pemeriksaan hari itu dengan satu kalimat yang akan dikutip semua media esok pagi: 'Dengan kesaksian ini, perkara kembali ke majelis. Negara akan menambahkan dakwaan: pembunuhan berencana, dua korban.'
Danu tidak menatap siapa pun saat digiring keluar. Tidak ke Reza. Tidak ke Nayaka. Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu membaca ruangan itu berjalan dengan mata ke lantai — papan sudah runtuh, dan ia sedang menghitung puingnya.
Di lorong pengadilan, Hendra Santika berdiri lama sekali memandang pintu tempat para tahanan digiring. Nayaka menemukan ayahnya di sana, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
'Surat itu untuk Bapak,' kata Hendra akhirnya, tanpa menoleh. 'Dia menulis untuk Bapak, dan saat itu Bapak sedang sibuk menyebutnya aib.'
'Pak—'
'Tidak usah dihibur. Biar Bapak menanggung bagian ini sendiri; ini hutang Bapak, bukan hutangmu.' Ia merapikan kerahnya dengan tangan yang bergetar, lalu menatap lurus ke pintu itu. 'Tapi surat itu akan Bapak baca. Kalau perlu sampai hurufnya habis, akan Bapak baca.'