Reza Pradipta menatap angka di layar laptopnya sampai angka itu buram. Laporan dari direktur keuangan malam itu hanya berisi satu kalimat yang diulang-ulang dalam berbagai bentuk: Grup Pradipta punya waktu empat bulan sebelum kehabisan napas.
Proyek terbesar mereka macet. Bank menarik diri. Dan tiga tahun setelah kematian Laras, Reza menjalankan semuanya sendirian — perusahaan di siang hari, dan Bara, putranya yang berusia tujuh tahun, di malam hari. Dua-duanya butuh diselamatkan, dan ia hampir tidak punya tenaga untuk salah satunya.
Maka ketika Hendra Santika — konglomerat tua yang menguasai separuh pasar material di negeri ini — mengundangnya makan malam, Reza datang dengan membawa harapan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Rumah keluarga Santika besar dan tenang. Di meja makan panjang itu hanya ada tiga orang: Hendra Santika di ujung, Reza di kanan, dan seorang perempuan muda di seberangnya — Nayaka Santika, putri sang tuan rumah. Perempuan itu menyapanya dengan anggukan sopan dan mata yang... menilai. Bukan menilai calon suami. Menilai seperti seseorang membaca laporan.
'Aku tidak akan berputar-putar, Reza,' kata Hendra setelah hidangan pertama. 'Santika Capital siap masuk ke Grup Pradipta. Jumlah yang cukup untuk menutup lubangmu dan menyelesaikan proyekmu. Tapi uang sebesar itu tidak berjalan tanpa ikatan. Aku sudah terlalu tua untuk kontrak yang bisa dirobek.'
'Ikatan seperti apa, Pak?'
'Pernikahan.' Hendra menunjuk dengan dagunya ke arah putrinya. 'Kamu dan Nayaka. Keluarga Santika hanya menanam uang di dalam keluarga.'
Reza meletakkan sendoknya perlahan. 'Dengan segala hormat, Pak — ini bukan tahun tujuh puluhan.'
'Justru di tahun sekarang pernikahan lebih kuat dari kontrak mana pun. Media mencatatnya. Bursa mencatatnya. Bankir mempercayainya.' Hendra menatapnya. 'Aku tahu kamu duda. Aku tahu kamu punya anak. Nayaka tahu semua itu dan dia tetap duduk di sini. Itu harusnya cukup memberitahumu bahwa ini bukan jebakan — ini tawaran bisnis yang jujur.'
Reza menatap perempuan di seberang meja. 'Dan Anda, Nona Nayaka? Anda setuju menikahi lelaki yang baru Anda kenal satu jam?'
Nayaka meletakkan serbetnya dengan tenang. 'Saya anak pengusaha, Pak Reza. Saya tidak tumbuh dengan dongeng. Pernikahan ini menguntungkan kedua keluarga — itu alasan yang lebih jujur daripada separuh pernikahan yang saya kenal.' Ia berhenti sejenak, dan ada sesuatu yang lewat di matanya, terlalu cepat untuk dibaca. 'Tapi saya minta satu hal: jangan harapkan saya menjadi pajangan. Saya akan masuk ke rumah Anda dengan mata terbuka.'
'Wajar.' Reza mengangguk pelan. 'Maka sama: jangan harapkan saya melupakan istri pertama saya. Rumah itu masih menyimpan namanya.'
'Tidak perlu dilupakan,' jawab Nayaka. 'Orang mati tidak jadi saingan, Pak.'
Hendra tertawa pendek, mengira itu lelucon. Reza tersenyum tipis, mengira itu kecerdasan. Hanya Nayaka yang tahu kalimat itu adalah pengumuman perang yang dibungkus kesopanan — karena orang mati yang ia maksud bukan Laras.
Orang mati yang ia maksud bernama Sekar.
Kakaknya.
Empat tahun lalu, Sekar Ayu Santika — anak sulung Hendra dari istri pertama, setengah terasing dari keluarga besar — bekerja sebagai analis keuangan di Grup Pradipta. Empat tahun lalu juga, namanya tercetak di berita: tersangka penggelapan dana proyek, dipecat dengan tidak hormat, difitnah oleh perusahaan yang membesarkannya. Dua bulan setelah pemecatan itu, mobilnya ditemukan di jurang jalur Puncak. Polisi menyebutnya kecelakaan. Keluarga menyebutnya aib. Nayaka menyebutnya pembunuhan pelan-pelan — dan dalangnya adalah perusahaan bernama Grup Pradipta, dengan CEO bernama Reza Pradipta di puncaknya.
Ayahnya tidak tahu. Ayahnya mengira putri bungsunya menerima perjodohan demi bisnis. Padahal Nayaka sendirilah yang, lewat kata-kata yang ditanam pelan-pelan selama setahun, membuat sang ayah mencetuskan syarat pernikahan itu.
Pernikahan berlangsung dua bulan kemudian — cepat, megah secukupnya, dan dingin sepenuhnya. Di malam pertama, di rumah besar Reza yang sunyi, mereka berdiri di lorong kamar seperti dua orang asing yang salah bertemu di hotel.
'Kamarmu di ujung kiri,' kata Reza. 'Kamar Bara di sebelahnya. Kamar kerja Laras di lantai bawah — dikunci, dan aku minta tetap seperti itu. Di luar itu, rumah ini rumahmu juga.'
'Adil.' Nayaka mengangguk. 'Maka perjanjian kita resmi: di depan publik kita suami istri, di dalam rumah kita mitra. Tidak ada yang masuk wilayah pribadi tanpa izin.'
'Sepakat.'
Reza berbalik menuju kamarnya. Nayaka menunggu sampai pintu itu tertutup, lalu berdiri lama di lorong gelap, memandang tangga yang turun ke lantai bawah — ke arah ruang kerja yang dikunci itu.
Empat tahun ia menunggu di luar pagar. Sekarang ia berada di dalam rumah.
'Tunggu aku, Kak,' bisiknya dalam gelap. 'Aku sudah di dalam. Mulai malam ini, satu per satu akan kubuka.'