Di tengah semua itu, hidup Bara berjalan dengan urgensi yang tidak peduli pada berkas perkara: ia kehilangan gigi seri keduanya pada hari Selasa, dan menurut hukum anak-anak, itu lebih penting dari persidangan mana pun.
Gigi itu diletakkan di bawah bantal, sesuai tradisi yang dibangun Nayaka entah sejak kapan — tradisi palsu yang ia ciptakan dari film lama dan tidak pernah dikoreksi karena terlanjur menyenangkan. Pagi harinya gigi itu berganti uang kertas dua puluh ribu dan catatan kecil bergambar peri yang jelas-jelas tulisan Nayaka dengan tangan kiri.
'Ma,' kata Bara di meja sarapan, 'perinya tulisannya mirip kamu.'
'Peri itu banyak jenisnya. Ada yang tulisannya jelek.'
'Terus kenapa peri kasih uang dua puluh ribu? Bimo dapat lima puluh.'
'Peri Bimo inflasi. Peri kita hemat.'
Reza menahan kopi di udara, dan Bi Inah pura-pura sibuk dengan wajan. Bara mempertimbangkan jawaban itu, lalu memutuskan dua puluh ribu cukup — dan kehidupan berjalan lagi.
Reza baru melihat catatan peri itu sore harinya, ketika Bara menempelkannya di monitor ruang kerjanya dengan selotip, 'supaya Ayah kenal perinya'. Tulisan tangan kiri yang menyamar dengan buruk itu membuatnya tersenyum di tengah hari yang penuh telepon pengacara. Ia menyimpan kertas kecil itu ke laci, di antara benda-benda yang tidak pernah ia jelaskan kepada siapa pun: foto Bara umur dua tahun, dan satu amplop surat Laras yang tulisannya sudah mulai ia hafal.
Di sekolah, gigi tanggal itu menjadi peristiwa kelas. Bimo — sahabat sebangku yang nyebelin tapi akrab — memeriksanya dengan serius seperti dokter gigi magang, menyuruh Bara membuka mulut lebih lebar dan menahan lidahnya dengan ujung pensil. 'Kamu sekarang kalau minum es pasti bocor,' katanya penuh wibawa. 'Gigi baru tumbuhnya lama. Punyaku tumbuh dua bulan.'
'Bulusan?'
'Bulanan.'
'Kalau giginya tidak tumbuh-tumbuh bagaimana?'
'Ya pakai gigi palsu. Kayak kakekku. Bisa dilepas.' Bimo mengedip sebelah mata, menikmati efek kata-katanya. 'Tapi jangan sampai. Jelek.'
Dan dua bocah itu berdebat tentang ortopedi gigi dengan keyakinan yang tidak akan pernah dimiliki orang dewasa, sementara di luar pagar, dunia orang dewasa sedang membahas hal-hal yang jauh lebih kecil daripada gigi: uang, dendam, dan orang-orang yang salah meletakkan keduanya.
Tapi sore itu, sepulang sekolah, Bara tidak langsung bermain. Ia menemui Nayaka di perpustakaan — kamar kerja Laras yang sekarang — dan berdiri di depan foto perempuan itu di rak, foto yang sudah lama menghadap ruangan.
'Ma. Boleh tanya?'
'Boleh selalu.'
'Mama Laras itu... orangnya kayak apa?'
Nayaka meletakkan penanya. Pertanyaan ini sudah ia duga sejak lama, dan tetap saja ia merasa perlu menarik napas. 'Mama Laras itu pintar sekali. Dia bisa membaca angka seperti orang membaca cerita. Dia suka menulis surat dengan tangan. Dan dia berani — dia menemukan sesuatu yang salah, dan dia tidak diam.'
'Bara tidak pernah ketemu dia.'
'Bara ketemu. Waktu Bara bayi. Mama Laras menggendong Bara tiap malam sampai tidur. Bara tidak ingat, tapi tubuh Bara ingat — itu kata Ayah, dan menurut Mama itu benar.'
Bara menyentuh tepi bingkai itu dengan satu jari. 'Orang jahat itu menyakiti Mama Laras karena Mama Laras mau lapor?'
'Iya.'
'Terus kenapa Ayah tidak bantu?'
Pertanyaan itu menusuk tepat ke tempat yang tiga tahun diselimuti. Nayaka tidak menjawab cepat — ia sudah belajar bahwa jawaban cepat untuk anak biasanya jawaban untuk orang dewasa.
'Ayah tidak tahu, Sayang. Orang jahatnya pandai menyamar. Ayah baru tahu setelah terlambat, dan Ayah menyesal setiap hari sejak itu. Tapi tahu tidak?' Ia berlutut, menyamakan tinggi. 'Mama Laras menyiapkan bukti sebelum pergi. Dia simpan di tempat yang aman. Jadi meskipun dia pergi, dia tetap ikut bekerja. Sekarang ini pun, bukti-bukti dari Mama Laras yang sedang membantu polisi. Mama Laras belum selesai bekerja, walaupun sudah tidak ada.'
Bara menatap foto itu lama sekali. 'Berarti Mama Laras kayak pahlawan.'
'Iya. Persis.'
'Kalau pahlawan, harus ada bunganya.'
Akhir pekan itu mereka pergi bertiga ke pemakaman — Reza, Nayaka, dan Bara yang membawa bunga yang ia petik sendiri dari halaman, diikat karet gelang. Di sana dua nisan berdiri tidak jauh satu sama lain: Laras Pradipta dan, di deret keluarga Santika di sisi lain taman pemakaman, Sekar Ayu Santika dengan nisan barunya.
Bara meletakkan bunganya di depan nisan Laras dengan khidmat, lalu berdiri diam beberapa saat. 'Halo, Mama Laras. Aku Bara. Aku sudah kelas dua. Aku tidak takut hujan lagi — sudah ada lampunya, dipasang Mama Nayaka.' Ia berhenti, berpikir. 'Terima kasih bukti-buktinya. Ayah bilang kamu masih bekerja.'
Di belakangnya, Reza berdiri dengan kepala yang akhirnya — setelah tiga tahun — tidak tertunduk di depan nisan itu. Nayaka berdiri di sampingnya, dan ketika tangan Reza mencari tangannya, ia menggenggamnya tanpa menoleh.
Dari nisan Laras, mereka berjalan ke nisan Sekar. Bara menatap foto di batu itu.
'Ini kakaknya Mama?'
'Iya. Namanya Sekar. Dia orang pertama yang menemukan angka yang salah.'
'Dia juga pahlawan?'
'Dia juga.'
Bara memetik satu bunga lagi dari ikatnya — ia menyiapkan lebih, ternyata, dengan perhitungan anak-anak yang lebih teliti dari perkiraan semua orang dewasa — dan meletakkannya di depan nisan Sekar. 'Halo, Om Sekar. Mama Nayaka kangen kamu. Dia tidak bilang, tapi aku tahu.'
Nayaka berbalik sebentar, ke arah jalan pemakaman, dan berdiri di sana sampai matanya selesai. Tidak ada yang mengikutinya. Dua laki-laki itu — satu besar, satu kecil — memberinya ruang dari kejauhan, dengan kepekaan yang persis sama.
Dalam perjalanan pulang, Bara tertidur di kursi belakang. Reza menyetir, dan Nayaka memandang kota sore yang basah oleh hujan singkat.
'Dua pahlawan,' kata Reza pelan, supaya tidak membangunkan kursi belakang. 'Satu mengumpulkan bukti, satu menemukan angkanya. Kita cuma orang yang datang belakangan mengangkat batu yang sudah mereka gembok.'
'Maka angkat sampai selesai,' jawab Nayaka. 'Sampai vonis terakhir.'