Danu menendang, persis seperti prediksi Ratna.
Empat hari setelah Arga mulai bicara, kantor hukum Danu menggelar konferensi pers yang dipersiapkan dengan sangat profesional: podium, kertas berlogo, dan narasi baru yang dipoles mengilap. Versi mereka: Danu Wijaya adalah korban kegagalan sistem; semua tindakan operasional dilakukan Arga Mahesa tanpa sepengetahuan direksi; dan kesaksian Arga adalah 'kesaksian tawanan yang menukar kebebasan dengan kebohongan'.
Sebagai puncaknya, pengacara itu mengangkat satu lembar kertas. 'Kami juga menyayangkan,' katanya kepada lautan kamera, 'bahwa perkara ini digerakkan oleh konflik kepentingan keluarga. Istri kedua CEO Pradipta adalah adik terdakwa lama. Pernikahan itu sendiri sudah diakui bermotif balas dendam. Kami meminta publik bertanya: sejak kapan dendam keluarga menjadi dasar dakwaan pembunuhan?'
Reza menonton konferensi pers itu di ruang kerjanya bersama Aditya — penasihat hukum keluarga Pradipta sejak zaman ayahnya, pria lima puluhan yang sudah melihat terlalu banyak krisis untuk panik. Aditya mematikan televisi setelah kalimat terakhir itu.
'Jangan jawab hari ini,' katanya. 'Apa pun yang kau katakan hari ini hanya akan menempel pada narasi mereka.'
'Kalau tidak dijawab, dendam keluarga jadi headline sampai sidang.'
'Headline bisa dibunuh oleh headline lain. Keterangan saksi tidak bisa dibunuh oleh siapa pun.' Aditya menatap Reza dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak krisis. 'Kau mau tahu cara mengalahkan konferensi pers seperti itu? Bukan dengan konferensi pers lain. Dengan ruang sidang. Mereka berbicara untuk kamera; kau berbicara untuk berkas. Kamera pindah dalam seminggu. Berkas tinggal sampai vonis.'
Di rumah, Nayaka menonton konferensi yang sama dari layar laptopnya, di meja yayasan Sekar yang baru — kantor kecil dua ruangan, dengan tiga karyawan pertama dan satu papan nama yang masih dilapisi plastik. Karyawan termudanya, Nadia, analis dua puluh tiga tahun yang menerima beasiswa pertama, masuk dengan wajah cemas.
'Bu Nayaka sudah lihat beritanya?'
'Sudah.'
'Mereka menyebut yayasan ini juga. Katanya yayasan alat pencitraan.' Nadia menatap majikannya dengan keberanian yang masih mentah. 'Apa kita perlu... menjawab?'
Nayaka menatap papan nama berlapis plastik itu — *Yayasan Sekar: Beasiswa untuk Analis Muda*. Lalu ia menatap perempuan muda di depannya, yang masuk ke yayasan ini tiga minggu lalu dengan satu koper dan nilai rekonsiliasi terbaik di angkatannya.
'Nadia, kamu tahu kenapa yayasan ini ada?'
'Untuk beasiswa, Bu.'
'Untuk satu hal yang lebih kecil: supaya tidak ada lagi analis muda yang menemukan angka salah dan sendirian menghadapinya. Kamu tahu apa yang tidak bisa dilakukan konferensi pers mana pun?' Nayaka menunjuk tumpukan berkas beasiswa di meja. 'Mereka tidak bisa membatalkan dua belas anak yang minggu depan mulai kuliah. Mereka tidak bisa meng-un-bayar uang sekolah yang sudah kita bayar. Kerja kita tidak bisa di-un. Maka kita tidak menjawab. Kita bekerja. Besok, seperti biasa.'
Nadia mengangguk pelan, dan keluar dengan bahu yang lebih tegak dari saat ia masuk.
Malamnya, badai kecil itu benar-benar reda — bukan karena kubu Danu berhenti, melainkan karena sebuah media nasional menurunkan hasil penelusuran independen: dokumen pengadilan menunjukkan laporan internal Sekar bertanggal sebelum audit, dan setiap jurnalis yang bisa membaca tanggal bisa menarik kesimpulan sendiri. Narasi 'dendam keluarga' perlahan terlihat seperti apa adanya: tendangan orang yang kehabisan pijakan.
Di dalam tahanan, Danu membaca kegagalan konferensi persnya seperti membaca laporan keuangan yang merah. Ia tidak marah — kemarahan adalah untuk orang yang masih punya langkah. Ia menghitung. Arga sudah berbalik; itu biaya tetap, tidak bisa diubah lagi. Tapi kesaksian yang hidup masih bisa digoyang: Yanto. Selama saksi itu merasa keluarganya tidak aman, ingatannya bisa tiba-tiba kabur di depan hakim. Danu tidak perlu menyentuh siapa-siapa. Ia hanya perlu Yanto tahu bahwa ia bisa disentuh. Satu pesan cukup — dan untuk satu pesan, ia masih punya satu orang di luar yang tidak pernah muncul di dokumen mana pun.
Pesan itu tiba lebih cepat dari perkiraan. Pukul sepuluh malam, Ratna menelepon dengan kabar yang membuat Reza berdiri dari kursinya.
'Yanto diganggu. Bukan dia — keluarganya. Anaknya diikuti pulang sekolah kemarin oleh motor tanpa plat. Tidak disentuh, tidak disapa. Hanya diikuti dua kali putaran.' Suara Ratna penuh kendali. 'Saya sudah tambah pengamanan, dan besok saya pindahkan mereka ke rumah aman. Tapi Bapak perlu tahu: ini bukan gaya Arga — Arga sedang di dalam dan sibuk menyelamatkan dirinya. Ini gaya yang lebih rapi. Danu masih punya orang di luar.'
Reza menatap istrinya di seberang ruang kerja. Nayaka sudah mendengar dari pengeras suara, dan wajahnya mengatakan hal yang sama dengan yang berputar di kepala Reza.
'Orang ketiga,' kata Nayaka setelah telepon ditutup. 'Bukan Arga. Danu punya orang lain — mungkin bukan untuk pekerjaan kotor, tapi untuk mengawasi. Setiap orang seperti Danu punya satu: mata di luar yang tidak pernah muncul di dokumen.'
'Bagaimana kita menemukan orang yang tidak pernah muncul di dokumen?'
'Dengan tidak mencarinya di dokumen.' Nayaka menatap papan kecil mereka. 'Kita cari di tempat lain: siapa yang tahu keluarga Yanto sudah pindah? Alamat barunya dirahasiakan. Tapi anaknya ditemukan di sekolah barunya. Itu artinya ada yang menelusuri jejak yang sama dengan polisi — surat pindah sekolah. Jejak administrasi, Za. Ada orang yang membaca birokrasi seperti membaca papan catur.'
Reza mengangkat teleponnya lagi. 'Ratna perlu tahu itu.'
Jawaban Ratna datang dua hari kemudian, dan jawabannya mempersempit lingkaran sampai nyaris menyakitkan: surat pindah sekolah itu hanya melewati tiga meja — sekolah lama, sekolah baru, dan dinas pendidikan. Tiga meja, kurang lebih dua puluh orang yang berkesempatan melihatnya. 'Dua puluh orang masih bisa diperiksa satu per satu,' kata Ratna. 'Orang tak bernama itu baru saja mendapat dua puluh nama.'
Papan itu belum kosong. Danu di dalam, Arga di dalam — dan masih ada satu tangan di luar, bergerak tanpa nama. Tapi untuk pertama kalinya, tangan itu punya alamat untuk dicari.