Arga Mahesa tidak langsung bicara. Selama dua hari di tahanan, ia menjalankan strategi yang sudah ia susun sejak empat tahun lalu di dalam kepalanya — karena orang seperti Arga selalu tahu hari ini mungkin datang: diam, minta pengacara, tunggu.
Yang mengubah perhitungannya bukan penyidik. Yang mengubahnya adalah sepucuk surat yang masuk ke ruang tahanan lewat jalur resmi, dari kantor hukum Danu Wijaya. Surat itu sopan, penuh semangat persaudaraan, dan berisi satu kalimat kunci yang dibaca Arga sebelas kali: *'Tetap tenang. Ingat bahwa keterangan yang salah bisa menyeret orang yang salah — termasuk mereka yang sebenarnya tidak terlibat.'*
Arga membaca kalimat itu di selnya, dan tertawa sendirian untuk pertama kalinya sejak ditangkap. Empat tahun ia berjalan untuk Danu, dan yang dikirimkan dari dalam bukan bantuan hukum — melainkan ancaman yang dibungkus nasihat. *Termasuk mereka yang sebenarnya tidak terlibat.* Artinya: kalau kau bicara, kau kuusulkan sebagai pelaku utama.
Malam itu Arga meminta bertemu AKP Ratna.
'Saya mau bicara,' katanya, ketika Ratna duduk di seberangnya di ruang pemeriksaan. 'Tapi saya mau status dulu. Saya bukan otak. Saya kaki. Saya mau itu tercatat sejak detik pertama.'
'Status justice collaborator tidak saya yang memutuskan,' jawab Ratna. 'Tapi keterangan yang benar sejak awal selalu lebih ringan daripada keterangan yang dipaksa keluar. Bicaralah. Mulai dari Kalimaya.'
Dan Arga bicara. Enam jam, dua hari berturut-turut, dengan dua jaksa menyimak lewat kaca satu arah. Ia bicara tentang vendor-vendor fiktif yang ia daftarkan atas perintah. Tentang rekening-rekening cangkang. Tentang malam ketika Danu memanggilnya setelah Sekar melapor — *'Selesaikan,'* hanya itu katanya, dan Arga tahu apa artinya karena ia sendiri yang menyarankan caranya: balik laporannya, jadikan pelapor sebagai pelaku.
Ada satu bagian yang membuat Ratna menaikkan alis: Arga bisa mengingat tanggal, jam, bahkan warna map setiap perintah. Ketika Ratna menanyakannya, lelaki itu menjawab dengan jujur yang pahit: 'Karena saya mencatat semuanya. Setiap perintah, setiap transfer, setiap pertemuan. Buku kecil, tulisan tangan. Orang yang bekerja untuk orang seperti Pak Danu belajar satu hal: suatu hari Anda akan dijadikan dinding. Buku itu pagar saya — supaya ketika saya dijadikan dinding, yang menabrak saya ikut roboh.'
'Buku itu di mana?'
'Di tempat yang akan saya tunjukkan kalau status saya jelas.' Arga menatapnya. 'Saya tidak main-main, Bu. Buku itu satu-satunya alasan saya bisa tidur empat tahun terakhir.'
Ratna tidak langsung melanjutkan. Ia membalik satu halaman catatannya, lalu mengangkat wajah. 'Satu hal yang belum Anda jawab. Orang dengan kehati-hatian seperti Anda — orang yang membuat pagar bahkan sebelum ada dinding — kenapa mau bekerja untuk Danu Wijaya?'
Untuk pertama kalinya, Arga terdiam bukan karena menghitung. 'Empat setengah tahun lalu ibu saya masuk rumah sakit. Operasi yang tagihannya mustahil saya bayar. Pak Danu membayarnya — tanpa saya minta, tanpa surat, tanpa saksi. Saya baru tahu kemudian bahwa itu bukan kebaikan. Itu pembelian.' Ia menatap tangannya sendiri di atas meja. 'Orang yang diselamatkan tidak pernah benar-benar merdeka lagi dari penyelamatnya. Dia tahu itu. Dia selalu membeli orang di titik mereka tidak bisa menawar.'
'Dan auditnya?'
'Saya yang susun drafnya. Pak Danu yang memperbaiki bahasanya. Dia selalu memperbaiki bahasa. Dia bilang, kejahatan yang baik itu yang memakai bahasa prosedur.'
Ratna menulis tanpa mengangkat wajah. 'Bengkel.'
Untuk pertama kalinya, Arga diam lama. Lelaki itu menatap meja, dan sesuatu yang sudah empat tahun ditutupinya dengan kesibukan akhirnya naik ke permukaan. 'Mobil Ibu Laras. Saya yang datang. Amplop kas kecil — itu kesalahan saya, saya tidak sadar Yanto melihat tulisannya.' Suaranya turun. 'Saya tidak menyangka... maksudnya, perintahnya cuma 'buat mobilnya tidak bisa berhenti dengan baik'. Saya kira... saya tidak tahu apa yang saya kira. Saya tidak bertanya. Itu cara saya bertahan: tidak bertanya.'
'Dan mobil Sekar?'
'Sama.' Satu kata itu jatuh seperti batu. 'Dua bulan kemudian. Jalur Puncak. Saya tidak turun tangan sendiri untuk yang itu — saya membayar orang. Orang itu sudah meninggal dua tahun lalu, kecelakaan motor. Saya bisa beri nama, tempat, dan rekeningnya.'
Di balik kaca satu arah, seorang jaksa perlahan menutup mapnya. Dua perempuan, dua tikungan, dua rem — dan sekarang, satu mulut yang mengakui dua-duanya.
Konfirmasi datang lebih cepat dari dugaan siapa pun. Nama yang disebut Arga untuk jalur Puncak cocok dengan catatan kematian dua tahun lalu; rekeningnya cocok dengan aliran dana dari satu rekening cangkang yang sudah dipetakan tim Ratna; dan setiap tanggal yang Arga sebut jatuh persis di antara dokumen-dokumen yang selama ini terpisah meja. Satu per satu, salib di papan penyidik berubah menjadi tanda centang. Keterangan yang benar punya bau yang khas: ia mengunci berkas-berkas lain pada tempatnya.
Ratna menyampaikan hasilnya kepada Reza dan Nayaka malam itu juga, lewat telepon, dengan suara yang tetap datar meski isinya guncang. 'Keterangannya panjang, terperinci, dan bisa dikonfirmasi silang dengan dokumen yang sudah kalian miliki. Dakwaan pembunuhan berencana sekarang punya kaki. Dan besok pagi, Danu Wijaya akan tahu dari pengacaranya bahwa kakinya sudah patah.'
'Apa yang akan dia lakukan?' tanya Reza.
'Orang yang kehilangan kaki melakukan satu dari dua hal: jatuh, atau menendang apa pun yang masih bisa ditendang. Bapak dan Ibu tetap seperti minggu ini. Tidak ada jadwal yang berubah mendadak. Tidak ada Bara tanpa pendampingan.'
Setelah telepon ditutup, Reza dan Nayaka duduk di teras belakang dalam keheningan yang panjang. Lampu taman menyala lemah. Di dalam rumah, Bara sudah tidur dengan dinosaurusnya.
'Dia mengaku dua-duanya,' kata Nayaka akhirnya. 'Kakakku dan istrimu, Za. Dua orang yang tidak saling kenal, disingkirkan oleh tangan yang sama, untuk alasan yang sama: mereka tahu.'
'Dan kita yang hidup harus menyelesaikan apa yang mereka tidak sempat selesaikan.' Reza menatap gelapnya taman. 'Aku tidak akan meminta maaf lagi tentang tanda tangan itu. Aku sudah memintanya di pemakaman. Sekarang aku membayarnya dengan cara lain: setiap hari, sampai orang itu menerima vonis terakhirnya.'
Nayaka menggenggam tangan suaminya di atas meja teras. Dua tangan yang pernah berjabat sebagai sekutu di atas surat-surat kematian — dan tidak pernah benar-benar berpisah lagi sejak itu.