AKP Ratna menyetujui rencana itu dengan syarat yang tidak bisa ditawar: 'Kalian tidak bertemu dia. Kalian tidak menelepon dia. Kalian hanya membuka pintu — kami yang berdiri di balik pintu.'
Pintu itu bernama Yanto Sularso.
Sang pemilik bengkel, yang sudah tiga tahun hidup seperti bayangan, setuju membantu dengan satu permintaan: perlindungan. Ratna memberikannya dalam bentuk paling sederhana: dua petugas dan janji bahwa keterangannya tidak akan keluar sebelum waktunya.
Jebakannya sederhana, karena jebakan terbaik selalu sederhana. Yanto menghubungi nomor lama yang masih ia simpan — nomor yang dulu dipakai untuk 'pembayaran kedua' — dan menyampaikan satu kalimat yang disusun penyidik: *Saya butuh biaya. Kalau tidak, ada hal lama yang mungkin saya ceritakan.*
Pemerasan palsu. Umpan yang sempurna untuk orang yang sedang panik.
Tiga hari tidak ada jawaban. Di rumah besar, tiga hari itu berjalan seperti tiga minggu. Reza tetap mengantar Bara tiap pagi, dengan mobil patroli tak bertanda tiga puluh meter di belakang. Nayaka tetap ke kantor yayasan — yayasan kecil atas nama Sekar yang baru mulai ia rintis, beasiswa untuk analis muda, karena 'cara terbaik membersihkan nama adalah memakainya untuk hal baik'. Hidup berjalan di permukaan; di bawahnya, semua orang menunggu ponsel Yanto berdering.
Menunggu adalah pekerjaan yang paling melelahkan dari semua pekerjaan. Di hari kedua, Nayaka menemukan Reza berdiri di dapur pukul dua pagi, menatap gelas air yang tidak diminum.
'Tidak bisa tidur?'
'Aku terus memutar satu hal,' kata Reza. 'Kalau dia tidak menggigit? Kalau dia sudah lari ke luar negeri minggu lalu?'
Nayaka duduk di kursi meja makan, di tempat yang sama tempat mereka dulu bersekutu. 'Dia tidak akan lari. Orang yang berjalan untuk orang lain tidak punya tabungan untuk lari — tabungannya ada di orang yang dilayaninya. Dan orang itu sedang di dalam, tidak bisa ditelepon, tidak bisa mengirim apa-apa. Arga sekarang sendirian memegang tas yang bukan miliknya. Orang seperti itu tidak lari. Orang seperti itu menunggu pintu diketuk, lalu mencoba membeli waktu.'
'Kamu yakin?'
'Aku mengenal jenisnya. Aku pernah empat tahun meneliti orang yang membayarnya.'
Reza akhirnya minum airnya. 'Kamu tahu hal paling aneh dari semua ini? Aku tidak takut. Harusnya aku takut — ada orang mengirim foto anakku dari pagar sekolah. Tapi yang kurasakan bukan takut. Yang kurasakan marah yang sangat rapi.'
'Marah yang rapi itu namanya dendam,' kata Nayaka. 'Aku ahlinya. Pegang baik-baik, jangan sampai tumpah — dan jangan minum semuanya sendirian.'
Hari keempat, jawaban datang. Satu pesan: *Besok. Tempat biasa. Datang sendiri.*
'Tempat biasa' ternyata warung kopi di dekat bengkel lama — tempat yang dulu dipakai untuk serah terima. Ratna menyusun timnya dengan ketenangan orang yang sudah seratus kali melakukan ini: dua petugas di dalam sebagai pengunjung, dua di motor parkir, satu tim di seberang jalan. Yanto duduk di meja sudut dengan jaket yang dua ukuran kebesaran dan tangan yang tidak bisa diam.
Reza dan Nayaka tidak ada di sana. Mereka di kantor polisi, di depan monitor kecil yang menampilkan gambar dari kamera sebesar kancing di jaket Yanto. Ratna melarang mereka datang, dan untuk sekali ini mereka tidak berdebat.
Pukul sebelas lewat enam menit, seorang lelaki masuk ke warung kopi itu. Topi rendah, jaket gelap, langkah cepat. Di monitor kecil, Nayaka mengenalinya dari foto profil perusahaan empat tahun lalu: Arga Mahesa, lebih kurus, lebih tua, dengan mata yang tidak berhenti menyapu ruangan.
Lelaki itu duduk di depan Yanto. Tidak basa-basi.
'Berapa?' Suaranya masuk ke monitor dengan desis kecil.
Yanto menyebut angka yang diinstruksikan. Arga tidak menawar — justru itu yang membuat Nayaka menahan napas. Orang tidak bersalah menawar. Orang bersalah membayar.
'Ini terakhir,' kata Arga. 'Kau ambil, kau hilang lagi, dan kau matikan nomor ini. Kalau ada orang yang datang bertanya soal bengkel, soal mobil, soal apa pun — kau tidak pernah melihat aku. Seperti dulu. Mengerti?'
'Saja— seperti dulu,' kata Yanto, dan kalimat itu — *seperti dulu* — jatuh ke dalam rekaman dengan bunyi yang akan membuat jaksa tersenyum.
Arga meletakkan amplop di meja. Tangannya belum lepas dari amplop itu ketika dua 'pengunjung' di meja sebelah berdiri.
'Pak Arga Mahesa?' Yang satu menunjukkan lencana. 'Ikut kami. Ada beberapa hal lama yang perlu Bapak ceritakan — kali ini dengan saksi.'
Di monitor, Nayaka melihat wajah Arga melalui proses yang lengkap dalam empat detik: kaget, bantah, hitung, runtuh. Lelaki itu tidak lari. Orang yang menghabiskan empat tahun berjalan akhirnya tahu tidak ada lagi tempat berjalan.
Yanto dikawal keluar lewat pintu belakang warung, masih memegang jaket kebesarannya. Di ambang pintu ia berhenti sebentar, menoleh ke arah kamera yang tidak ia tahu ada, dan — mungkin hanya kebetulan arah pandang — mengangguk sekali, kecil, seperti orang yang akhirnya menaruh barang berat yang sudah terlalu lama ia gendong.
Ratna tidak merayakan apa pun. Ia menutup map, menatap Reza dan Nayaka, dan berkata dengan datar yang ia pelihara untuk momen-momen seperti ini: 'Dia akan bicara. Orang seperti dia selalu bicara — bukan karena jujur, tapi karena dia akan menghitung bahwa Danu tidak akan melindunginya dari dalam. Dan begitu dia bicara, dakwaan untuk dua kematian itu berubah dari pola menjadi nama.'
Reza mengangguk. Nayaka tidak bicara. Ia sedang menatap monitor yang sudah gelap, dan di dalam kepalanya satu kalimat berputar: *Sekar, hampir selesai. Laras, hampir selesai.*
Malam itu mereka pulang ke rumah besar yang lampunya menyala hangat. Bara menyambut di pintu dengan laporan penting: Bimo datang, mereka membangun benteng bantal, dan benteng itu — menurut pengakuan resmi — 'tujuh dari sepuluh, karena bantuinya kurang'.
Nayaka tertawa, mengangkat anak itu, dan membawanya masuk. Di belakangnya, Reza berdiri sebentar di ambang pintu, memandang halaman yang gelap dan tenang.
Papan itu hampir kosong. Satu nama tersisa di dalam tahanan, satu nama baru bergabung malam ini. Dan untuk pertama kalinya sejak foto dari pagar sekolah itu datang, Reza Pradipta menutup pintu rumahnya tanpa menoleh ke jalan.