Foto itu mengubah rumah besar Pradipta dalam satu jam.
Bukan ke rumah berkabung seperti dulu — rumah itu tidak akan pernah kembali ke sana, Nayaka bersumpah di dalam hati — tetapi ke rumah yang berjaga. Reza membuat tiga panggilan telepon dari teras: ke AKP Ratna, ke pengacara, dan ke sekolah Bara. Nayaka membuat satu keputusan: tidak ada yang disembunyikan dari Bara, dan tidak ada yang dibesar-besarkan untuknya.
Kepala sekolah Bara menerima telepon itu dengan ketenangan yang mengejutkan Reza. 'Pak Reza, kami sudah membaca berita-berita. Kami tidak bertanya mana yang benar — tugas kami bukan menilai berita, tugas kami menjaga anak-anak. Mulai besok, gerbang dijaga dua orang, dan siapa pun yang berdiri terlalu lama di depan pagar akan disapa ramah dan dicatat platnya. Sampaikan ke Bara: gurunya tahu, dan tidak ada yang berubah untuknya di dalam kelas.'
Reza menutup telepon itu dengan ucapan terima kasih yang lebih panjang dari biasanya. Di zaman ketika semua orang berdiri jauh dari keluarga yang terseret berita, sekolah kecil itu berdiri dekat — dan ia mencatatnya di tempat ia mencatat hal-hal yang akan dibalaskan suatu hari nanti.
Mereka duduk bertiga di ruang keluarga sore itu, dengan es krim sebagai alat bantu diplomasi.
'Bara,' kata Reza, memilih kata seperti memilih pijakan di batu licin, 'kamu tahu kan, Mama dan Ayah sedang membantu polisi mencari orang jahat dari cerita yang lama.'
'Yang menyakiti Mama Laras dan kakaknya Mama Nayaka.' Bara mengangguk. Anak itu tahu versi yang sudah disederhanakan — bukan detail, hanya bentuk besarnya.
'Nah. Orang jahatnya punya teman. Dan temannya itu... pengecut. Dia tidak berani ke orang dewasa, jadi dia mengambil foto Bara di sekolah. Untuk menakut-nakuti Ayah dan Mama.'
Bara memikirkan itu sambil mengaduk es krimnya. 'Foto Bara pas lagi apa?'
'Pas lagi lari.'
'Larinya kencang tidak?'
Nayaka hampir tertawa — hampir — karena itulah anak tujuh tahun: ditunjukkan ancaman, ia menilai performanya. 'Kencang sekali, Sayang. Tapi mulai besok, ada kakak polisi yang jaga di dekat sekolah. Tidak pakai seragam, tidak usah disapa. Dan Ayah atau Mama yang antar-jemput. Setiap hari. Sampai teman pengecut itu ketemu.'
'Lama tidak?'
'Semoga tidak lama.'
'Kalau lama?'
Reza dan Nayaka bertukar pandang di atas kepala anak itu. Reza yang menjawab: 'Kalau lama, ya kita jalan terus. Seperti selama ini. Yang berubah cuma ada kakak polisi dan jadwal antar-jemput. Hidupnya sama.'
'Bimo boleh main ke sini tidak?'
'Boleh.'
'Ya sudah, tidak apa-apa.' Bara kembali ke es krimnya, perkara selesai, dan Nayaka menatap anak tiri yang sudah tidak pernah terasa 'tiri' itu dengan campuran bangga dan sesak yang tidak ada namanya.
Bi Inah, yang mendengar percakapan itu dari dapur, kemudian berkata kepada Nayaka di lorong: 'Ibu benar tidak menyembunyikan. Anak yang tidak diberi tahu akan mengisi sendiri kekosongannya — dan anak-anak mengisi kekosongan dengan rasa takut yang lebih besar dari kenyataan.'
'Bi pernah mengalami?'
'Saya dibesarkan di rumah yang semua pintunya tertutup, Nak. Sampai sekarang saya tidak suka pintu tertutup.' Perempuan tua itu tersenyum kecil. 'Makanya kamar kerja itu saya bukakan. Pintu yang terbuka tidak bisa menyimpan hantu.'
Malamnya, setelah Bara tidur, mereka bekerja. Papan kecil di kamar kerja — dulu kamar Laras, sekarang perpustakaan keluarga — dipenuhi garis dan foto. Nayaka memetakan ulang semuanya dengan kepala yang sudah empat tahun berlatih membaca kejahatan.
Bi Inah masuk membawa teh tanpa diminta, menatap papan itu, dan tidak pergi. 'Almarhumah dulu juga suka menulis-nulis di malam hari,' kata perempuan tua itu pelan. 'Saya tidak pernah tanya. Sekarang saya menyesal tidak pernah tanya.'
'Bi tidak bisa mencegah apa pun.'
'Saya tahu, Nak Nayaka. Tapi menyesal tidak butuh bisa. Menyesal cuma butuh ingat.' Ia meletakkan teko di meja, dan sebelum keluar berkata satu hal lagi: 'Kalau perlu saya lagi — Alkitab, amplop, apa pun — jangan sungkan. Saya sudah terlalu lama jadi dinding rumah ini. Dinding juga mau ikut menjaga.'
Nayaka menatap pintu yang tertutup pelan di belakangnya. Rumah ini, pikirnya, punya lebih banyak penjaga daripada yang pernah ia kira.
'Yanto dibayar untuk tutup dan pergi. Tapi orang yang datang ke bengkel bukan pembayar biasa — dia yang turun tangan sendiri. Itu artinya bukan orang suruhan jauh. Itu orang dalam lingkaran kecil.'
'Danu tidak punya banyak lingkaran kecil,' kata Reza. 'Dia pria paling ramah di ruangan dan paling kesepian di balik pintu. Yang benar-benar dekat dengannya cuma...' Ia berhenti.
'Cuma siapa?'
Reza menulis satu nama di papan. Nayaka membacanya dan merasakan udara berubah: **Arga Mahesa** — manajer operasional proyek Kalimaya empat tahun lalu, orang yang mengurus vendor-vendor, yang mengundurkan diri setahun setelah kasus Sekar dengan alasan 'mengurus keluarga', dan sekarang bekerja di perusahaan lain, tenang, tak tersentuh.
'Amplop kas kecil,' kata Reza, suaranya menurun satu oktaf. 'Kas kecil proyek dipegang operasional. Direktur keuangan tidak pernah membawa amplop sendiri. Danu memberi perintah — Arga yang berjalan.'
'Dan sekarang Arga panik. Danu di dalam, kasus dibuka lagi, dan dia satu-satunya yang tersisa di papan. Panik membuat orang bodoh. Foto Bara ini bodoh.'
'Atau panik membuat orang berbahaya.'
Nayaka menatap nama itu di papan. 'Dua-duanya. Itu sebabnya kita tidak menunggu polisi menemukannya. Kita buat dia datang.'
Reza menoleh. 'Kamu mau menjadikan sesuatu sebagai umpan.'
'Kamu mau mengatakan jangan.'
'Aku mau mengatakan,' Reza meletakkan spidol, 'bahwa terakhir kali seseorang di keluarga ini bermain umpan dengan orang-orang ini, dua perempuan tidak pulang. Kita buat dia datang, Nayaka — tapi dengan polisi di sebelah kita sejak detik pertama, bukan di belakang kita.'
Nayaka menatap suaminya. Sekali lagi, di luar semua rencana dan semua dendam yang sudah selesai, ia teringat kalimat malam pernikahan pertama mereka: *kamu tidak seperti yang kuduga.*
'Sepakat,' katanya. 'Polisi di sebelah kita. Mulai detik pertama.'
Di papan kecil itu, di antara foto dan garis, satu nama berdiri di tengah lingkaran merah. Dan di kota yang sama, di apartemen kecil yang lampunya menyala sampai pagi, Arga Mahesa sedang menghitung sesuatu yang tidak bisa dihitung: berapa lama lagi namanya sampai ke papan orang lain.