Kantor polisi itu tidak seperti yang Nayaka bayangkan dari televisi: tidak dramatis, hanya neon, kipas angin, dan bau kopi sachet. AKP Ratna Juwita menerima mereka di ruang kecil dengan papan penuh foto dan garis penanda waktu. Perempuan itu empat puluhan, rambut dicekal seadanya, dan mata yang tidak membuang waktu.
'Saya akan lurus,' kata Ratna. 'Tiga tahun lalu, kematian Laras Pradipta ditutup sebagai kecelakaan tunggal: mobil kehilangan kendali di tikungan, malam hujan, tidak ada saksi. Semua sah secara administratif. Yang tidak sah adalah ini.'
Ia menempelkan dua foto ke papan. Foto pertama: struk bengkel atas nama Laras, dua hari sebelum kematiannya, dengan catatan keluhan 'rem terasa dalam'. Foto kedua: mobil yang sama, difoto petugas di lokasi kecelakaan.
'Keluhan rem masuk, mobil diperiksa, dan menurut mekanik yang menangani — yang akhirnya kami temukan setelah tiga minggu mencari — remnya dinyatakan aman dan mobil diambil sore harinya. Dua hari kemudian mobil itu gagal berhenti di tikungan.'
'Mekaniknya,' kata Reza pelan. 'Siapa?'
'Nama ini masalahnya.' Ratna meletakkan foto ketiga: seorang lelaki lima puluhan, foto KTP yang buram. 'Yanto Sularso. Pemilik bengkel kecil di pinggir kota. Bengkelnya tutup dua bulan setelah kecelakaan almarhumah. Dia pindah, tidak ada alamat. Kami menemukannya minggu lalu di kota lain — mengontrak, bekerja serabutan, hidup seperti orang yang tidak mau ditemukan.'
'Bagaimana kalian menemukannya?' tanya Nayaka.
'Cara kuno. Anaknya masih sekolah, dan sekolah butuh surat pindah. Orang bisa menghilang dari alamat, tapi tidak bisa menghilang dari kebutuhan anaknya.' Ratna mengetuk foto itu. 'Waktu kami datangi, dia tidak kaget. Dia bilang satu kalimat sebelum kami bertanya apa pun: "Akhirnya." Orang yang tiga tahun menunggu ketukan di pintu tidak pernah benar-benar hilang, Bu. Mereka cuma menunggu pintunya diketuk oleh orang yang benar.'
Nayaka merasakan dingin naik dari tengkuknya. 'Dia dibayar.'
'Kami belum bisa membuktikan. Tapi ada hal lain.' Ratna menatap mereka bergantian. 'Pak Yanto ini gugup bukan karena uang. Dia gugup karena dia mengaku — lepas dari catatan, tanpa pengacara, mungkin karena tiga tahun menahan — bahwa hari itu ada yang datang ke bengkelnya setelah mobil diperiksa. Menanyakan mobil itu. "Merawat" sesuatu, kata dia. Dia tidak melihat apa yang dikerjakan. Dia hanya melihat orangnya.'
'Siapa?' tanya Reza.
'Dia tidak tahu nama. Tapi dia menyimpan ini.' Ratna mengeluarkan satu kertas dari map — fotokopi nota kas bengkel, tiga tahun lalu, dengan ujung sobek. 'Di belakang nota ini ada tulisan tangannya malam itu juga. Dia menulis ciri-ciri orang yang datang. Dan satu hal yang paling dia ingat: orang itu membayar dengan uang tunai dari amplop cokelat bertuliskan sesuatu.'
Nayaka mencondongkan badan. 'Bertuliskan apa?'
Ratna membalik kertas itu. Di sana, tulisan tangan tua yang miring: *Amplopnya ada tulisan: PROYEK KALIMAYA — kas kecil.*
Ruang kecil itu sunyi. Reza duduk sangat diam, dan Nayaka tahu suaminya sedang berada di tempat yang sama dengannya: amplop kas kecil proyek tidak pernah keluar dari kantor direktur keuangan. Siapa pun yang datang ke bengkel malam itu, dia datang dari satu pintu — pintu Danu, atau pintu orang yang bekerja untuknya.
'Kasus Sekar juga kami buka lagi,' lanjut Ratna. 'Jalur Puncak, dua bulan setelah pemecatan. Kecelakaan tunggal juga. Malam juga. Rem juga diduga.' Ia melempar map ke meja, tidak kasar, hanya lelah. 'Dua perempuan, dua tikungan, dua rem. Saya tidak bilang ini pembunuhan, Pak, Bu. Saya bilang ini pola. Dan pola punya pembuat.'
Ratna menyandarkan punggung dan, untuk sesaat, penyidik itu keluar dari profesionalismenya. 'Saya ceritakan satu hal supaya Bapak dan Ibu tahu saya tidak setengah-setengah. Berkas Laras ini lewat di meja saya tiga tahun lalu — bukan sebagai perkara saya, hanya sebagai arsip yang saya tanda tangani untuk digudangkan. Saya membaca laporan bengkel ini malam itu juga, dan saya menulis catatan: 'perlu klarifikasi bengkel'. Catatan itu tidak pernah dibaca siapa pun. Minggu berikutnya saya dipindah ke unit lain.' Ia menatap foto Laras di papan. 'Tiga tahun saya ingat catatan itu. Jadi ketika berkas ini resmi dibuka, saya yang mengangkat tangan duluan. Bukan karena heroik. Karena utang.'
Nayaka menatap penyidik itu lama. 'Terima kasih sudah menyimpan utangnya, Bu Ratna.'
'Jangan berterima kasih sebelum lunas,' jawab Ratna. 'Kebiasaan buruk orang baik: berterima kasih terlalu awal.'
Mereka keluar dari kantor polisi itu di bawah matahari siang yang tidak terasa hangat. Di mobil, Nayaka akhirnya bicara.
'Danu di tahanan. Tapi tangannya — orang yang datang ke bengkel itu — masih di luar.'
'Dan orang itu tahu kita sedang mencarinya,' jawab Reza. 'Sejak rapat dewan, sejak sidang pertama. Orang seperti itu tidak menunggu. Orang seperti itu bergerak duluan.'
Telepon Nayaka bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal. Tidak ada teks — hanya satu foto, diambil dari jarak jauh, melalui pagar: Bara di halaman sekolahnya, saat jam istirahat, sedang berlari.
Nayaka menatap foto itu sampai layarnya padam sendiri. Lalu ia menyerahkan ponselnya kepada Reza dengan tangan yang tidak gemetar — karena ia tidak mengizinkannya gemetar.
'Za,' katanya, sangat pelan. 'Papan itu tidak kosong. Papan itu baru saja menjawab.'
Reza menatap foto anaknya berlari di halaman sekolah — foto yang diambil oleh tangan yang tidak terlihat, dari jarak yang cukup dekat untuk menjadi ancaman dan cukup jauh untuk menjadi alibi. Wajahnya tidak berubah, tapi ada sesuatu yang mengeras di garis rahangnya, sesuatu yang Nayaka kenali dari malam rapat dewan: lelaki ini baru saja menyelesaikan perhitungannya.
'Mereka salah memilih sasaran,' kata Reza akhirnya, suaranya rendah dan rata. 'Menakut-nakuti orang lewat anaknya tidak membuat orang mundur. Itu membuat orang berhenti mempertimbangkan batas.'
'Kita tidak melewati batas hukum.'
'Tidak.' Reza mengangkat wajah. 'Tapi kita juga tidak lagi berjalan pelan-pelan. Besok kita ke Ratna, dan kita tidak pulang sebelum ada nama.'
Malam itu, Nayaka berdiri lama di depan kamar Bara, mendengarkan napas anak itu yang tenang — anak yang tidak tahu wajahnya sudah dipakai sebagai peluru. Dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke rumah ini bertahun-tahun lalu dengan dendam di dadanya, Nayaka merasakan dendam yang baru: bukan untuk dirinya, bukan untuk Sekar, tapi untuk seorang anak yang berlari di halaman sekolah tanpa tahu sedang difoto.
Dendam ini, pikirnya, tidak akan kumakan sendirian empat tahun. Dendam ini kusampaikan kepada hukum — secepatnya.