Ruang sidang yang memeriksa perkara Danu Wijaya tidak besar, tetapi penuh sejak pukul tujuh pagi. Wartawan memadati tangga pengadilan seperti musim mudik. Kasus ini punya semua yang disukai berita: konglomerat, persahabatan yang berkhianat, dua kematian, dan seorang istri kedua yang masuk ke dalam rumah seperti detektif.
Reza dan Nayaka datang bersama, lewat pintu samping, dikawal pengacara perusahaan. Tidak ada pernyataan. Tidak ada senyum. Nayaka mengenakan blazer gelap dan ekspresi yang sudah ia putuskan sejak semalam: datar, tapi tidak dingin.
Di kursi terdakwa, Danu Wijaya tampak lebih kurus, tetapi tidak hancur. Justru itu yang membuat Nayaka waspada. Lelaki itu masih rapi, masih memandang ruangan seperti pemiliknya, dan ketika matanya menemukan Nayaka, ia tidak menunduk. Ia menatapnya lama — penilaian yang sama dengan yang dulu diberikan Nayaka di meja makan Hendra Santika, hanya saja kali ini dari arah berlawanan.
Sidang pertama adalah pembacaan dakwaan. Jaksa membacakannya selama empat puluh menit: penggelapan dana proyek Kalimaya, pemalsuan dokumen audit, penyuapan vendor, pemalsuan keterangan resmi, dan — di bagian akhir, dengan suara yang sengaja dilambatkan — dugaan keterlibatan dalam dua kematian yang sedang diselidiki terpisah.
Nayaka mendengarkan daftar itu seperti mendengarkan pembacaan panjang sebuah kebenaran yang sudah ia kenal bertahun-tahun sebelum ruangan ini tahu. Ada satu rasa yang tidak ia duga: bukan puas, melainkan lelah yang dalam — lelah empat tahun yang tiba-tiba boleh diakui, karena sekarang ada gedung resmi yang mengakuinya juga. Di dua baris belakangnya, Hendra duduk sendirian dengan jas gelap dan tangan yang menggenggam tongkat yang sebenarnya belum ia butuhkan. Ayah itu tidak datang untuk Danu. Ia datang untuk nama yang disebut jaksa di lembar kelima: Sekar Ayu Santika, korban. Bukan terdakwa. Korban. Empat tahun, dan baru hari ini seorang jaksa mengucapkannya dengan benar di ruang resmi.
Di barisan pengunjung, Reza tidak bergerak selama empat puluh menit itu. Nayaka tahu tanpa menoleh bahwa suaminya sedang menghitung sesuatu yang tidak bisa dihitung: lima belas tahun persahabatan dibagi dua kehidupan yang hilang.
Ketika hakim memberi kesempatan terdakwa bicara, Danu berdiri. Ia tidak menyanggah. Ia tidak membela diri. Ia hanya berkata, dengan suara yang dilatih untuk ruangan besar:
'Yang Mulia, saya serahkan semuanya pada proses. Tapi izinkan saya mencatat satu hal: tidak semua orang di ruangan ini datang dengan tangan bersih. Ada yang masuk ke keluarga ini dengan pernikahan bermotif dendam, dan sekarang duduk di sini sebagai pahlawan. Kebenaran tidak peduli siapa yang membawanya — tetapi ruangan ini berhak tahu siapa yang membawanya.'
Selama kalimat itu diucapkan, mata Danu tidak sekali pun meninggalkan Nayaka. Bukan tatapan menyerang — tatapan mengundang. Ia sedang mengundang Nayaka menjadi cerita utama lagi, menjadi alasan ruangan ini melupakan dakwaan yang baru saja dibacakan. Nayaka menerima tatapan itu tanpa berkedip dan tidak memberinya apa pun: tidak tunduk, tidak membuang muka, tidak marah. Empat tahun ia belajar satu hal dari menyamar di dalam rumah orang: wajah yang paling sulit dibaca adalah wajah yang tidak sedang bermain apa-apa.
Hakim mengetuk palu: tidak relevan dengan dakwaan. Tetapi Danu sudah mendapatkan yang ia mau — kalimat itu akan keluar dari ruang sidang, dan kalimat seperti itu tidak perlu relevan untuk menjadi berita.
Sidang ditunda seminggu untuk pemeriksaan saksi. Di luar ruangan, wartawan menyerbu seperti yang sudah diperkirakan, dan kali ini Nayaka tidak berjalan cepat. Ia berhenti, tepat tiga langkah, memberi kamera waktu yang cukup untuk satu gambar: dirinya berdiri di samping suaminya, tidak sembunyi di belakangnya, tidak melindungi wajah dengan map. Lalu mereka berjalan. Itu satu-satunya pernyataan yang mereka berikan hari itu, dan — menurut akun-akun berita sore harinya — itu satu-satunya yang diperlukan.
Di mobil pulang, Reza memukul setir sekali — pelan, terkendali, satu-satunya luapan yang ia izinkan. 'Dia bermain sampai akhir. Bahkan dari kursi terdakwa, dia masih menyusun papan.'
'Biarkan,' kata Nayaka. 'Kalimatnya benar, itu masalahnya baginya. Aku memang datang dengan dendam. Semua orang sudah tahu itu. Rahasia yang sudah diumumkan tidak bisa lagi dipakai sebagai senjata.'
'Kamu tidak terganggu?'
'Aku terganggu.' Nayaka menatap jalan. 'Tapi aku lebih terganggu oleh satu hal lain. Dia bilang "tidak semua orang datang dengan tangan bersih". Dia tidak bicara tentangku saja, Reza. Dia bicara seolah ada orang lain.'
Reza mengerem lebih dalam dari yang diperlukan di lampu merah. 'Maksudmu?'
'Lima belas tahun, Za. Penggelapan serapi itu, dua kematian yang tidak diselidiki, dokumen yang dimusnahkan sesuai "prosedur" — prosedur siapa? Danu pintar, tapi dia tidak bisa sendirian sebersih itu. Selalu ada orang yang membersihkan.'
'Akuntan pembersih? Pengacara pembersih?'
'Atau tangan yang lebih rendah. Orang yang menekan tombol, mengantar amplop, menyalakan mesin. Pelaku besar tidak pernah menyentuh apa pun dengan tangannya sendiri — itu sebabnya mereka bisa tersenyum di ballroom. Tapi seseorang di bawahnya menyentuh semuanya. Dan orang itu masih bebas, dan orang itu tahu bahwa kalau Danu jatuh sepenuhnya, dia berdiri tepat di sebelahnya.'
Keheningan mengisi mobil. Di luar, Jakarta mengalir seperti tidak ada apa-apa, dan di dalam mobil itu dua orang yang baru sebelas hari menikmati damai menyadari bahwa papan permainan ternyata belum kosong.
Malam itu, telepon Reza berbunyi. Dari kepolisian: AKP Ratna Juwita, penyidik yang menangani penyelidikan ulang kematian Laras. Suaranya singkat, profesional, dan berat.
'Pak Reza, kami menemukan sesuatu di berkas lama. Laporan bengkel terakhir almarhumah, dua hari sebelum kecelakaan. Keluhan rem. Tapi tidak ada tindak lanjutnya di berkas — seolah laporan itu masuk dan menguap. Besok bisa Bapak dan Ibu datang? Ada hal yang perlu kami tanyakan, dan ada orang yang perlu kami tunjukkan fotonya.'
Reza menutup telepon dan menatap istrinya. Di dapur, Bi Inah sedang menyuapi Bara es krim, dan dari ruang tengah terdengar tawa anak itu. Dua dunia itu — tawa es krim dan laporan bengkel yang menguap — berdiri di rumah yang sama, dan malam itu keduanya sama-sama nyata.