Pesta kedua itu menyisakan hal-hal kecil yang lucu: tiga puluh gelas kembali ke dapur dengan lipatan serbet yang tidak sama, sepasang sandal anak tertinggal di taman, dan bunga-bunga yang masih segar di meja makan tiga hari setelah tamu terakhir pulang. Rumah besar keluarga Pradipta tidak buru-buru dibersihkan. Untuk pertama kalinya, tidak ada yang terburu-buru di rumah itu.
Nayaka bangun di pagi keempat setelah pernikahan kedua mereka dan mendapati kamar kerjanya — kamar yang dulu ia tempati sebagai pengantin kontrak — sudah kosong. Barang-barangnya dipindahkan. Bukan oleh Bi Inah, tapi oleh Reza sendiri, malam sebelumnya, dengan koper dan tas yang diangkatnya satu per satu ke kamar utama.
'Aku tidak bertanya,' kata Reza di meja sarapan, menangkap tatapan istrinya. 'Aku memindahkan. Kalau kamu keberatan, katakan, dan aku pindahkan balik malam ini. Tapi aku berharap kamu tidak keberatan.'
Nayaka duduk di seberangnya dengan secangkir kopi. 'Kamu belajar memindahkan barang orang tanpa bertanya dari siapa?'
'Dari seorang perempuan yang masuk ke rumahku dengan rencana menghancurkanku dan tidak bertanya dulu.'
Nayaka tertawa — tawa pagi yang masih serak. 'Adil. Kali ini aku izinkan.'
Bara turun dengan rambut yang berdiri di satu sisi, boneka dinosaurus di ketiaknya, dan mengumumkan tanpa diminta, 'Bara mimpi ada kue. Terus bangun, kue-nya tidak ada. Ini namanya kecewa, Ma.'
'Ini namanya lapar,' jawab Nayaka. 'Duduk. Ada roti.'
'Bukan kue.'
'Roti adalah kue yang belum berusaha.'
Bara mempertimbangkan filsafat sarapan itu dengan serius, lalu memutuskan untuk menerima roti. Di dapur, Bi Inah tersenyum sambil menggoreng telur — senyum yang dua tahun lalu tidak akan dipercayai oleh dinding-dinding rumah ini.
Pagi-pagi itu berjalan seperti pagi-pagi yang sedang belajar menjadi normal. Reza mengantar Bara ke sekolah sebelum ke kantor — kebiasaan baru yang dimulai sejak rapat dewan itu dan tidak pernah berhenti lagi. Nayaka mengambil alih bagian yang tidak pernah ada dalam kontrak apa pun: mengecek bekal, menandatangani buku penghubung, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul di ambang pintu.
'Ma,' kata Bara sebelum masuk gerbang sekolah, 'teman-teman Bara bilang Mama sekarang terkenal. Ada di TV.'
'Terkenal itu bukan pekerjaan, Sayang. Itu efek samping.'
'Efek samping apa?'
Nayaka berjongkok, merapikan kerah anak itu. 'Efek samping membuka pintu yang ditutup terlalu lama. Sekarang berangkat. Nanti sore kita menggambar.'
Di kantor, Grup Pradipta sedang menjalani musim semi yang canggung. Dana Santika tetap mengalir. Proyek yang macet kembali bergerak. Tetapi di koridor-koridor, karyawan berjalan dengan hati-hati yang baru: bukan takut, melainkan sadar bahwa gedung ini baru saja selamat dari sesuatu yang hampir menenggelamkannya, dan semua orang tahu siapa yang menyelamatkannya. Direktur keuangan yang baru — diangkat dari luar, atas rekomendasi headhunter, bukan dari lingkaran sahabat — memulai kerjanya dengan audit menyeluruh yang disiarkan transparan ke seluruh dewan.
Reza menyetujuinya tanpa membaca ulang. 'Dulu aku menandatangani tanpa membaca,' katanya kepada direktur baru itu. 'Sekarang aku menandatangani setelah membaca. Bedakan aku dari yang dulu dengan cara itu.'
Ada satu momen di minggu pertama itu yang tidak masuk laporan mana pun. Saat makan siang, Reza turun ke lantai delapan — lantai analis, lantai tempat Sekar dulu bekerja — dan berdiri di ujung ruangan tanpa berkata apa-apa. Beberapa karyawan lama menunduk canggung; mereka ingat kasus itu, dan mereka ingat pernah diam. Reza tidak mencari siapa-siapa. Ia hanya berdiri di sana satu menit penuh, di lantai tempat seorang analis muda pernah menemukan angka yang salah dan membayarnya dengan nyawa, lalu pergi. Besoknya, tanpa pengumuman, meja kecil di sudut lantai itu dipasangi plakat peringatan dengan satu baris: *Untuk yang berani melaporkan.* Tidak ada nama. Semua orang lama tahu namanya.
Malamnya, rumah besar itu ramai dengan suara yang dulu tidak pernah ada: Bara berdebat dengan dinosaurusnya, Bi Inah menonton sinetron dengan volume yang akhirnya berani dinaikkan, dan dua orang dewasa di teras belakang membicarakan bukan proyek, bukan saham, melainkan apakah halaman belakang cukup besar untuk kolam renang kecil atau lebih baik jadi kebun.
'Kebun,' kata Nayaka. 'Bara harus tahu wortel tidak tumbuh di supermarket.'
'Kolam,' kata Reza. 'Aku harus tahu istriku pakai baju renang.'
Nayaka melempar bantal teras ke wajahnya. Reza menangkapnya, tertawa, dan menarik istrinya ke pelukan. Di atas mereka, jendela kamar Bara menyala lemah — lampu hujan yang dipasang Nayaka setahun lalu, yang sekarang tidak pernah benar-benar dimatikan.
Kedamaian itu berumur sebelas hari.
Sebelas hari yang, menurut catatan kecil Bi Inah di buku belanjanya, adalah sebelas hari paling ramai yang pernah dialami rumah itu dalam tiga tahun. Ayah Hendra datang dua kali — bukan untuk bicara bisnis, melainkan untuk duduk di taman menemani Bara mengumpulkan daun, dengan kekakuan kakek yang baru belajar jadi kakek. Nayaka melihat dari jendela bagaimana ayahnya menyerahkan daun yang salah dengan wajah serius, dan Bara membuangnya sambil mengomel, dan ayahnya tertawa — tawa yang menurut ibu tiri Nayaka sudah tidak terdengar sejak pemakaman Sekar. Tidak ada yang membicarakan pemakaman itu. Tapi semua orang di rumah itu tahu, orang-orang yang datang terlambat sedang membayar utangnya perlahan-lahan, dengan daun-daun dan sore yang tidak dibatalkan.
Pada hari keduabelas, amplop cokelat dari pengadilan negeri tiba di meja Reza: panggilan sidang pertama. Perkara atas nama terdakwa Danu Wijaya. Dan di bawahnya, terpisah, satu lembar pemberitahuan dari kepolisian: penyelidikan ulang atas kematian Laras Pradipta resmi dibuka — dan penyidik meminta keluarga bersedia dimintai keterangan tambahan.
Reza membaca dua surat itu di meja kerjanya, lama. Lalu ia membawanya pulang, meletakkannya di meja makan di hadapan Nayaka, dan berkata kalimat yang sudah menjadi hukum rumah mereka:
'Semua dibuka. Mulai dari sini.'
Nayaka membaca kedua surat itu sampai habis, dua kali, lalu meletakkannya kembali dengan rapi. 'Sidang pertama dan penyelidikan ulang dalam amplop yang sama. Seperti dipesankan.'
'Atau seperti kebetulan yang tepat waktu,' kata Reza. 'Besok kita atur. Pengacara, jadwal Bara, semuanya.'
'Dan malam ini?'
Reza menatap dua surat itu, lalu menatap istrinya. 'Malam ini kita makan malam, menemani Bara menggambar, dan tidur. Badai boleh datang besok. Malam ini milik kita.'
Dan malam itu, untuk terakhir kalinya sebelum badai yang mereka tahu akan panjang, rumah besar itu tidur dengan tenang.