“Pergi dari sini! Kau membuat tamuku kehilangan selera makan!”
Bentakan Bibi Liu menggelegar, disertai dorongan kuat yang membuat tubuh kecil Lian Xue tersungkur ke lantai dapur yang dingin. Tangannya yang kurus mencakar tanah, berusaha menahan sakit yang menjalar dari lututnya yang membiru akibat terjatuh. Rasa sakit itu seakan menjadi bagian dari hidupnya yang tidak terpisahkan.
Ia belum sempat bangkit ketika suara tamu-tamu di luar terdengar mengejek.
“Anak itu masih di sini? Kudengar dia sering batuk-batuk. Jangan-jangan membawa penyakit menular!”
“Benar! Lihat wajahnya yang pucat. Kalau aku punya kedai, sudah sejak lama aku membuangnya ke jalan!”
Tawa kasar menggema di ruangan depan. Suara mereka menyakitkan, menghujam lebih dalam dari luka fisik yang sering ia terima.
Lian Xue menunduk, menahan air mata yang menggenang di sudut matanya. Namun, tangannya yang bergetar tetap meraih kain lap yang sudah usang, berniat kembali bekerja. Bekerja adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa dirinya masih berguna, meskipun semua orang di sekelilingnya seolah tidak peduli.
PLAK!
Tamparan lain kembali mendarat di pipinya.
“Kau tuli?! Aku bilang pergi ke dapur! Jangan biarkan pelanggan melihatmu!” Bibi Liu menarik kerah bajunya yang sudah lusuh, menyeretnya tanpa peduli apakah kaki kecilnya terseret di tanah berbatu.
Lian Xue tidak melawan. Ia sudah terlalu terbiasa. Dalam hidupnya yang penuh dengan penghinaan dan penolakan, melawan hanya akan membuatnya lebih menderita.
---
Dapur kedai terasa pengap. Aroma asap kayu bercampur dengan sisa makanan basi yang dibiarkan mengering di sudut ruangan. Lian Xue meringkuk di pojok, memegangi pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan tadi. Setiap detik di ruangan itu terasa semakin menyesakkan, seolah udara di sekitarnya semakin menipis.
Suara dentingan panci dari juru masak terdengar keras, diikuti dengan suara mendesah kesal.
“Bahkan di dapur pun dia hanya jadi beban,” gumam salah satu pelayan yang lebih tua, melemparkan sisa potongan sayur ke arah Lian Xue.
Lian Xue menunduk, tidak menghindar. Ia tahu, membalas hanya akan membuat hukumannya lebih berat. Ia merasa seolah dirinya adalah benda mati, tidak berharga, dan tidak ada yang peduli apakah ia hidup atau mati.
“Kalau kau sakit, setidaknya jangan menularkan ke orang lain,” ucap wanita itu lagi, menatapnya jijik.
Sakit…
Kata itu terasa menghantam lebih keras dibanding tamparan Bibi Liu. Sejak kecil, tubuhnya memang selalu lemah. Dulu, sebelum kematian kakak tirinya, ia masih mendapatkan sedikit perhatian. Namun setelah tragedi itu, tidak ada lagi yang peduli. Ia hanya dianggap beban.
Sampai kapan aku harus hidup begini?
Lian Xue mengeratkan pelukannya pada tubuhnya sendiri, mencoba menghangatkan diri dari rasa dingin yang tiba-tiba menyergap hatinya. Di luar, suara riuh pelanggan masih terdengar. Namun bagi Lian Xue, semua itu terasa semakin jauh. Seperti ia benar-benar telah dilupakan oleh dunia.
Dan ia mulai bertanya-tanya—apakah sebaiknya ia benar-benar pergi dari sini?
Sejak hari-hari penuh penderitaan itu, Lian Xue mulai merenungkan tentang kehidupannya. Ia sering kali menatap ke luar jendela, melihat anak-anak seusianya bermain tanpa beban, tertawa dan berlari-lari. Rasa iri dan kesedihan menyelimuti hatinya. Kenangan indah tentang masa kecilnya bersama Lie Ming seolah terus menghantuinya.
“Aku tidak ingin hidup seperti ini,” pikirnya, mencoba menyalakan secercah harapan di dalam hatinya. Namun, harapan itu semakin sulit diraih ketika setiap hari ia harus menghadapi penghinaan.
Suatu malam, saat kedai tutup dan semua orang telah pergi, Lian Xue duduk di sudut dapur yang gelap. Ia mendengarkan suara angin yang berdesir di luar, seolah membawa bisikan harapan. “Mungkin aku bisa pergi… mencari tempat yang lebih baik.”
Namun, pikirannya segera dibanjiri rasa takut. “Tapi ke mana aku akan pergi?” Ia tidak memiliki tempat yang bisa disebut rumah. Bibi Liu telah menutup semua pintu untuknya.
“Aku tidak bisa terus begini,” ucapnya pada dirinya sendiri. “Aku harus berjuang untuk diri sendiri.”
Hari-hari berlalu, dan Lian Xue semakin merasa terperangkap dalam kehidupannya yang kelam. Keduanya, Bibi Liu dan Paman Xu, tidak pernah menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Suatu hari, saat bekerja di dapur, ia melihat sekelompok pelanggan duduk di meja, mengobrol dengan ceria.
“Lihat anak itu,” kata salah satu pelanggan. “Dia seharusnyanya tidak berada di sini. Dia adalah benalu.”
Lian Xue tidak bisa menahan diri. Ia berbalik dan menatap mereka. “Aku bukan benalu!” suaranya nyaring, tetapi segera terhenti ketika ia melihat tatapan terkejut mereka.
Bibi Liu yang mendengar teriakan itu bergegas menuju dapur. “Apa yang kau lakukan?! Kau berani melawan pelanggan?!”
“Dia bilang aku benalu!” Lian Xue tidak bisa menahan amarahnya.
“Berhenti berbicara!” Bibi Liu berteriak, membuat Lian Xue terdiam. “Kau tidak berhak untuk berbicara! Kau hanya anak tanpa orang tua!”
Kata-kata itu membuat hati Lian Xue hancur. Ia merasa terjebak dalam lingkaran kebencian yang tidak kunjung berakhir.
Hari demi hari, Lian Xue terus berjuang melawan rasa putus asa. Ia berusaha untuk bekerja lebih keras, berharap Bibi Liu akan melihat jerih payahnya. Namun, semua itu sia-sia. Bibi Liu semakin memperlakukannya dengan buruk, menganggapnya sebagai penghalang yang hanya menghambat kehidupannya.
Suatu malam, saat semua orang sudah tidur, Lian Xue duduk sendiri di sudut gudang. Ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. “Apakah ini semua yang ditakdirkan untukku?” tanyanya dalam hati. “Apakah aku akan selamanya menjadi buruh di rumah ini?”
Pikiran itu menghantuinya. Ia merasa seolah terasing dari dunia luar. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang peduli. Begitu banyak orang di luar sana yang hidup bahagia, sedangkan ia terjebak dalam kegelapan.
“Aku harus pergi,” ucapnya pada diri sendiri. “Aku tidak bisa terus hidup dalam cengkeraman ini.”
Keesokan harinya, saat Lian Xue sedang menyapu halaman belakang, ia melihat anak laki-laki yang pernah menawarkannya persahabatan. Anak itu berdiri di dekat pagar kayu, menatapnya dengan penuh perhatian.
“Kenapa kau tidak datang lagi?” tanya Lian Xue, suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku ingin tahu bagaimana kabarmu,” jawab anak laki-laki itu. “Kau terlihat sedih. Apa ada yang salah?”
Lian Xue merasa ada sesuatu yang hangat mengalir dalam hatinya. “Aku… aku tidak bisa melakukan apa pun yang benar.”
“Kenapa kau tidak pergi dari tempat ini?” tanya anak itu dengan polos.
“Aku tidak tahu ke mana harus pergi. Aku tidak punya siapa-siapa.”
Anak itu mengerutkan kening. “Kau bisa ikut denganku. Aku bisa membantumu.”
Tawaran itu membuat Lian Xue tertegun. “Benarkah? Tapi… bagaimana dengan Bibi Liu?”
“Dia tidak berhak mengendalikan hidupmu. Kau berhak mendapatkan kebahagiaan,” jawab anak itu tegas.
Lian Xue merasa hatinya bergetar mendengar kata-kata itu. Apakah mungkin ia bisa mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dicari?
Setelah pertemuan itu, Lian Xue mulai berpikir lebih serius tentang tawaran anak laki-laki itu. Setiap malam, saat ia berbaring di tempat tidurnya yang sempit, ia membayangkan hidup di tempat lain—tempat di mana ia tidak lagi menjadi sasaran kebencian dan hinaan.