“Kau tidak becus bekerja! Mau makan tapi malas bergerak, hah?!”
Tamparan itu mendarat di pipi Lian Xue. Anak berusia delapan tahun itu terhuyung ke belakang, kedua tangannya menempel di pipinya yang mulai terasa panas dan perih. Matanya melebar, tetapi ia tidak menangis. Tidak lagi. Rasa sakit fisik kini menjadi hal yang biasa, dan air mata hanya akan menambah penderitaan yang sudah ada.
Bibi Liu berdiri di depannya dengan wajah merah padam. Wanita itu tampak semakin marah ketika melihat anak itu hanya diam dan tidak meminta maaf. Amarah itu menciptakan jarak yang semakin jauh antara mereka, seolah Lian Xue adalah orang asing di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.
“Jawab, Lian Xue! Kenapa kau menjatuhkan nampan itu?” bentak Bibi Liu lagi, suaranya mengoyak keheningan.
Lian Xue menunduk, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar. “Aku... aku tidak sengaja.”
“Hah?! Tidak sengaja?!”
Lengan kurusnya ditarik kasar. Lian Xue terpaksa menatap mata penuh amarah itu. Bibi Liu mencengkeram dagunya, membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan.
“Kau pikir semua orang bisa hidup dengan alasan tidak sengaja?! Kau pikir aku bisa memberi makan anak pemalas sepertimu hanya karena kau bilang tidak sengaja?!”
Lian Xue menahan napas, tubuhnya menegang. Ia ingin menjelaskan bahwa tadi ada pelanggan yang menyenggolnya dari belakang hingga nampan berisi teh panas itu jatuh dan pecah. Tapi, percuma. Bibi Liu tidak akan mendengarkan.
Bibirnya terasa kering. Sakit di pipi mulai mereda, tetapi cengkeraman di dagunya semakin erat.
“Kau akan bekerja lebih keras untuk mengganti cangkir yang kau pecahkan. Mulai hari ini, kau harus bangun lebih pagi, membersihkan kedai sebelum fajar, dan melayani tamu tanpa istirahat. Mengerti?!”
Lian Xue hanya mengangguk pelan.
“Jawab dengan suara yang jelas!”
“Mengerti, Bibi Liu.”
Wanita itu akhirnya melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh kecil itu ke belakang. Lian Xue tersandung dan jatuh ke lantai, tetapi ia segera bangkit lagi. Punggungnya terasa sakit, tetapi ia menahan diri agar tidak meringis.
Tamparan, cengkeraman, dorongan—semua itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
---
Udara pagi masih dingin ketika Lian Xue sudah mulai bekerja. Kedai teh milik Bibi Liu selalu ramai, terutama di waktu pagi dan sore. Ia harus bangun sebelum fajar, menyapu halaman, membersihkan meja, menyiapkan air panas, dan memastikan bahwa semua peralatan dalam keadaan bersih.
Dulu, sebelum Lie Ming meninggal, pekerjaannya hanya membantu membersihkan peralatan dapur. Namun, setelah kejadian itu, ia tidak hanya harus mengurus kedai, tetapi juga melayani tamu dan melakukan pekerjaan kasar lainnya.
“Cepat sedikit, Lian Xue! Jangan lambat seperti kura-kura!” seru salah satu pelayan, seorang wanita yang sudah bekerja lama di kedai itu.
Lian Xue mengangguk dan mempercepat gerakannya. Tangannya yang kecil harus menahan beban teko panas yang nyaris lebih besar dari tubuhnya.
Beberapa pelanggan yang sudah sering datang ke kedai mulai memperhatikannya. Beberapa hanya melirik dengan tatapan acuh tak acuh, sementara yang lain mulai berbisik-bisik.
“Itu anak yatim piatu itu, ya?”
“Iya. Kudengar dia anak pungut, tapi sekarang jadi pelayan di rumah sendiri.”
“Lihat tubuhnya, kurus seperti ranting pohon. Kasihan sekali.”
Lian Xue berpura-pura tidak mendengar. Ia sudah terbiasa dengan bisikan-bisikan itu.
Namun, beberapa pelanggan tidak hanya sekadar berbisik. Ada yang terang-terangan menghinanya.
“Hoi, anak bau, kenapa kau melamun? Cepat tuangkan tehnya!” seru seorang pria gemuk dengan suara keras.
Lian Xue tersentak dan segera bergerak. Dengan hati-hati, ia menuangkan teh ke dalam cangkir pria itu.
“Astaga! Lihat tangan anak ini, kecil sekali! Kau yakin dia cukup kuat untuk bekerja di sini?” kata pria itu sambil tertawa, membuat orang-orang di meja sekitarnya ikut tertawa.
Lian Xue menggigit bibirnya. Ia ingin membalas, tetapi ia tahu itu hanya akan membuat Bibi Liu semakin marah nanti.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan.
---
Malam hari, setelah kedai tutup, Lian Xue masih harus membersihkan dapur. Tubuhnya sudah lelah, tetapi ia tidak berani mengeluh.
Bibi Liu sedang menghitung hasil penjualan hari itu, sementara suaminya, Paman Xu, duduk santai di kursi dekat perapian.
“Hari ini pelanggan banyak, tapi kita kehilangan satu set cangkir karena anak itu,” gumam Bibi Liu sambil melirik tajam ke arah Lian Xue.
Paman Xu menghela napas. “Sudahlah, jangan terlalu keras padanya. Dia masih anak-anak.”
“Anak-anak? Hah! Kalau dia masih anak-anak, lalu aku harus bagaimana? Harus membiarkannya makan gratis tanpa bekerja?!”
Lian Xue menundukkan kepala.
Paman Xu tidak menjawab. Ia tahu, sejak kematian Lie Ming, istrinya berubah drastis. Rasa sayangnya pada Lian Xue menghilang begitu saja, digantikan dengan kebencian yang semakin lama semakin dalam.
“Pokoknya, dia harus lebih banyak bekerja! Aku tidak peduli!” Bibi Liu bangkit dan berjalan ke kamarnya, meninggalkan ruangan dengan wajah kesal.
Paman Xu menatap Lian Xue sebentar, lalu beranjak pergi.
Kini, gadis kecil itu sendirian di dapur, ditemani suara angin malam yang berhembus pelan dari celah jendela.
Tangannya gemetar. Bukan karena dingin, tetapi karena lelah yang sudah menumpuk.
Ia menatap bayangannya di permukaan air di dalam ember.
“Apa aku memang hanya layak menjadi b***k di rumah sendiri?” gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air matanya jatuh.
---
Suatu siang, Lian Xue sedang menyapu di halaman belakang ketika tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
“Lian Xue.”
Ia menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berdiri di dekat pagar kayu.
Anak itu sebaya dengannya, mungkin lebih tua satu atau dua tahun. Bajunya bersih dan rapi, berbeda dengan pakaian Lian Xue yang lusuh dan kotor.
“Kau kenapa?” tanya anak itu.
Lian Xue mengerutkan kening. “Kenapa apa?”
“Kenapa kau selalu sendirian? Kenapa kau selalu bekerja sendirian?”
Lian Xue terdiam.
Anak itu menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Apa mereka tidak sayang padamu?”
Pertanyaan itu membuat Lian Xue membeku. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Tidak ada yang pernah menanyakan hal itu padanya sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai berpikir.
Apakah benar tidak ada seorang pun yang menyayanginya?
Atau... ia hanya terlalu berharap pada sesuatu yang tidak akan pernah ada?
Pikirannya melayang kembali ke kenangan-kenangan masa lalunya. Kenangan-kenangan indah saat ia masih kecil, saat Bibi Liu dan Paman Xu memberinya kasih sayang yang tulus. Ketika mereka merawatnya seperti anak kandung mereka sendiri. Namun, semua itu hancur seiring dengan kematian Lie Ming.
“Dulu, mereka sangat baik padaku,” gumamnya, hampir tidak terdengar. “Tapi sekarang, semua itu hanya mimpi.”
Anak laki-laki itu mengamati wajahnya dengan seksama. “Kalau begitu, kenapa kau tidak pergi dari sini? Kenapa tidak mencari tempat yang lebih baik?”
Lian Xue menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu ke mana harus pergi. Aku tidak punya siapa-siapa.”
Senyum simpul muncul di wajah anak laki-laki itu. “Setiap orang butuh teman. Aku bisa jadi temanmu.”
Teman.
Kata itu terasa asing di telinga Lian Xue. Ia tidak tahu apa rasanya memiliki teman. Sejak kehadirannya di rumah Bibi Liu, ia selalu merasa terasing. Semua orang di sekitarnya hanya melihatnya sebagai pengganggu, bukan sebagai manusia yang memiliki perasaan.