“Dasar anak sialan! Kau pikir aku memeliharamu untuk jadi benalu?!”
Cambuk kulit itu melayang, menebas udara dengan suara mengerikan sebelum mendarat di punggung Lian Xue. Rasa sakitnya seakan mengalir menyusup ke dalam jiwa, bukan hanya fisiknya.
Braak!
Tubuh kurusnya terhuyung ke lantai dapur yang dingin dan berdebu. Napasnya tersengal, d**a naik turun dengan kesakitan yang menyesakkan. Tetapi, tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya.
“Bahkan menangis pun kau tidak bisa?! Atau kau sudah mati rasa, hah?!” Bibi Liu berteriak, menggenggam erat gagang cambuknya dengan wajah merah padam.
Lian Xue tetap diam. Ia terlalu lelah. Terlalu hampa. Bahkan, cambukan itu pun terasa seperti bagian dari dirinya sekarang. Setiap rasa sakit yang ia terima, seolah mengukir luka baru di dalam hatinya yang sudah penuh dengan luka.
“Kau benar-benar menjijikkan.”
Tatapan penuh kebencian itu membakar lebih sakit dibanding luka di tubuhnya. Lian Xue merasa terperangkap dalam dunia yang tidak ada tempat untuknya, di mana semua orang bersikap seolah ia bukan manusia.
Pintu dapur tiba-tiba terbuka, dan masuklah seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar dan wajah keras—Paman Han.
“Apa lagi sekarang?” tanya pria itu dengan suara berat, tatapannya jatuh pada Lian Xue yang masih tersungkur di lantai.
“Dia membuat tamu-tamu kehilangan selera makan! Aku sudah tidak tahan, Han!” Bibi Liu mendengus, menggertakkan giginya. “Kalau dibiarkan, kita akan kehilangan pelanggan! Aku ingin membunuhnya saja!”
Paman Han melipat tangan di d**a, memandang istrinya dengan ekspresi berpikir. “Bunuh dia? Dan kita tidak dapat apa-apa?”
Bibi Liu mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Jual saja dia.”
Lian Xue merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tangan kecilnya mengepal, kuku-kuku menekan kulit telapak tangannya.
“Siapa yang mau membeli b***k yang lemah begini?” Bibi Liu mendecak.
“Pedagang b***k tidak peduli seberapa lemahnya seseorang, asal mereka bisa dijual kembali,” kata Paman Han santai. “Kalau kita buang, tidak ada untungnya. Tapi kalau kita menjualnya, setidaknya kita dapat beberapa koin perak.”
Bibi Liu terdiam. Napasnya masih memburu, tetapi ada kilatan serakah di matanya.
“Berapa harga yang bisa kita dapat?”
“Tak banyak, mungkin cukup untuk membeli sekarung beras.” Paman Han mengangkat bahu.
Hening.
Bibi Liu menatap Lian Xue, seolah menimbang sesuatu. Lian Xue merasa seolah hidupnya sedang dipertaruhkan dalam sebuah permainan yang tidak bisa ia menangkan.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Bawa dia pergi sebelum aku berubah pikiran.”
Malam itu, Lian Xue duduk di pojok ruangan kecil di belakang kedai. Tangannya terikat dengan tali kasar, pergelangan tangannya memerah akibat gesekan. Ia tidak menangis. Tidak meronta. Tidak meminta ampun. Terlalu sering dihina membuatnya lupa bagaimana rasanya melawan.
Di luar, suara Bibi Liu dan Paman Han terdengar samar-samar. Mereka berbicara dengan seseorang—mungkin pedagang b***k yang akan membawanya pergi.
Langkah kaki mendekat.
Pintu terbuka, dan seorang pria asing dengan pakaian lusuh berdiri di ambang pintu. Bau alkohol dan keringat menyeruak dari tubuhnya.
“Inikah anaknya?” suaranya parau, matanya menyipit menatap Lian Xue.
“Ya. Kau mau membelinya atau tidak?” suara Bibi Liu terdengar tidak sabar.
Pria itu berjalan mendekat, lalu meraih dagu Lian Xue dengan kasar.
“Lemah dan kurus. Apa dia bisa bekerja?”
“Setidaknya lebih berguna daripada sapi tua,” Paman Han menyeringai.
Pria itu tertawa kecil, lalu merogoh kantongnya dan melempar beberapa koin perak ke tanah.
“Ambil atau tidak, terserah.”
Bibi Liu buru-buru memungut koin-koin itu, matanya berbinar.
“Bawa dia pergi sekarang,” katanya.
Lian Xue diam saat pria itu menariknya berdiri.
Dijual.
Seperti barang.
Seperti ia bukan manusia.
Hatinya kosong. Ia tidak tahu apakah seharusnya ia merasa lega atau semakin terpuruk.
Namun, satu hal yang ia tahu—sejak hari ini, ia bukan lagi milik siapa pun.
Dan suatu hari nanti, ia akan memastikan bahwa mereka yang menjualnya akan menyesali perbuatannya.
“Kau tidak bicara?”
Pria yang membelinya menatapnya dengan alis terangkat.
Lian Xue tidak menjawab.
Kereta yang membawanya berderak pelan di jalan berbatu, menuju tempat yang tidak ia ketahui.
“Apa kau bisu?” pria itu mendesah. “Bukan urusanku, sih. Yang jelas, nasibmu sekarang ada di tanganku.”
Lian Xue menggigit bibirnya.
“Anak sepertimu biasanya tidak bertahan lama,” pria itu melanjutkan. “Tapi kalau kau beruntung, mungkin tuan barumu tidak akan membunuhmu dalam sehari.”
Lian Xue tetap diam. Kegelapan menyelimuti pikirannya.
Di luar jendela kereta, bulan bersinar redup. Udara dingin menelusup masuk, menusuk kulitnya yang tipis.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Apa yang menantinya di depan sana?
Kereta itu terus berguncang di jalan berbatu, suara derakannya menciptakan irama yang menakutkan. Setiap guncangan membuat Lian Xue teringat pada perlakuan kejam Bibi Liu. Seolah-olah ia masih terjebak dalam siklus penderitaan yang tidak pernah berakhir.
“Kalau kau tidak mau bicara, baiklah,” kata pria itu dengan nada sinis. “Tapi ingat, di tempatku, kau harus beradaptasi. Jika tidak, kau akan berakhir seperti barang yang tidak berguna.”
Lian Xue tidak menghiraukan. Pikiran-pikirannya berputar, mencoba merangkai harapan di tengah kegelapan yang menyelimuti hidupnya.
Apakah ia akan menemukan kebebasan di tempat baru ini? Atau justru akan terjebak dalam belenggu yang lebih kuat?
“Berhenti melamun!” teriak pria itu, membuat Lian Xue terkejut. “Kau harus bersiap-siap. Di tempat tuanmu, tidak ada tempat untuk anak-anak yang lemah seperti kau.”
Saat kereta berhenti, Lian Xue melihat sekelilingnya. Tempat itu tampak suram dan tidak ramah. Bangunan-bangunan tua dan kotor berdiri di sekelilingnya. Aroma busuk menyengat hidungnya, menciptakan suasana yang menakutkan.
“Ayo, keluar!” pria itu menariknya keluar dari kereta dengan kasar.
Lian Xue merasa lehernya tercekik oleh rasa takut. Ia tidak ingin pergi ke tempat yang dipenuhi dengan orang-orang asing. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia terpaksa mengikuti pria itu, merasa seolah ditarik ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
Setelah melewati pintu besar yang berkarat, Lian Xue menemukan dirinya berada di dalam sebuah ruangan luas yang dipenuhi dengan berbagai barang aneh dan tua. Di sudut ruangan, terdapat banyak b***k lain yang duduk bersimpuh, terlihat lemah dan lesu.
“Selamat datang di rumah tuanmu,” pria itu berkata dengan nada mengejek. “Di sini, kau akan belajar arti dari kerja keras.”
Lian Xue menundukkan kepala. Jiwanya terasa tertekan. Ia tidak ingin menjadi bagian dari dunia ini. Namun, saat ia menengadah, tatapan sinis dari b***k-b***k lain membuatnya merinding. Mereka seolah memberikan isyarat bahwa harapan tidak ada di tempat ini.
“Aku ingin kalian semua mengenal anak baru kita,” pria itu berteriak, menarik perhatian semua orang. “Dia belum menjadi pemilik siapapun. Perlakukan dia dengan buruk… atau tidak, terserah pada kalian.”
Lian Xue merasakan tatapan penuh kebencian dari para b***k lainnya. Beberapa di antaranya malah tersenyum sinis, seolah menunggu saatnya untuk menyakiti dirinya.