"Kamu yang dorong Ming’er dari pohon itu, kan?!"
Teriakan Bibi Liu menggema di halaman belakang kedai teh. Suaranya bergetar, penuh amarah dan kesedihan yang teramat dalam. Lian Xue berdiri terpaku di tanah yang becek, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya yang kecil mencengkeram ujung bajunya, berusaha mencari pegangan di tengah badai yang tiba-tiba menghantam dunianya.
"A-aku tidak mendorongnya, Bibi..." suaranya lirih, hampir tak terdengar. "Ming'er terpeleset sendiri... Aku—aku mencoba meraihnya, tapi tanganku tidak cukup kuat..."
PLAK!
Tamparan itu datang begitu cepat hingga Lian Xue tak sempat menghindar. Kepalanya tersentak ke samping, rasa panas menjalar di pipinya. Dia mengangkat tangan untuk menahan, tapi tatapan Bibi Liu yang dipenuhi kebencian membuatnya membeku.
"Jangan bohong! Aku tidak buta, Lian Xue! Kamu selalu iri dengan Ming'er, kan? Kamu anak buangan, anak yang kutemukan di depan rumah ini! Ming'er satu-satunya anakku, dan sekarang dia mati!" Suara Bibi Liu pecah, isakannya memenuhi udara malam yang dingin.
Di belakangnya, beberapa tetangga mulai berkumpul. Mereka berbisik-bisik, namun tak ada satu pun yang berani mendekat. Seorang wanita tua menghela napas, "Kasihan anak itu... Tapi kehilangan anak sendiri pasti lebih menyakitkan."
Lian Xue menunduk. Tubuhnya kecil, terlalu kecil untuk menanggung beban sebesar ini. Dia ingin berteriak, ingin membela diri, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Setiap kata yang ingin ia ucapkan terasa sia-sia.
"Mulai hari ini, jangan panggil aku Bibi lagi. Aku tidak akan menganggapmu bagian dari keluarga ini!"
Lian Xue merasakan sesuatu dalam dirinya retak.
---
Hari-hari setelah kematian Lie Ming berubah menjadi neraka bagi Lian Xue.
Jika dulu dia adalah gadis kecil yang disayang, sekarang dia tak lebih dari bayangan di rumah itu. Dulu, Bibi Liu sering menyisir rambutnya, menyiapkan baju yang hangat untuknya saat musim dingin, dan menepuk punggungnya dengan lembut saat ia sulit tidur. Tapi semua itu lenyap dalam semalam.
"Pagi-pagi masih berdiri di situ? Apa kamu pikir kamu masih anak majikan di rumah ini?"
Suara kasar itu membuat Lian Xue terlonjak. Dari dapur, Bibi Liu berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Wajahnya keras, jauh berbeda dengan senyuman hangat yang dulu selalu ia berikan.
"Ambil air dari sumur! Dan jangan lama-lama!"
Lian Xue mengangguk cepat, lalu bergegas membawa ember kayu yang ukurannya hampir sebesar tubuhnya.
Di luar rumah, angin pagi berembus menusuk tulang. Langkahnya tertatih menuju sumur yang terletak di belakang desa. Jalannya berbatu, beberapa kali dia hampir terjatuh, tapi dia tak berani mengeluh.
Saat sampai di sumur, suara tawa anak-anak desa menyadarkannya.
"Lihat! Itu anak pembawa sial!"
Seketika, jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh dan menemukan sekelompok anak menatapnya dengan mata penuh kebencian.
"Dia yang membunuh Lie Ming! Ibuku bilang dia anak yang ditemukan di depan rumah orang lain! Pasti ada alasannya kenapa dia dibuang!"
Lian Xue menggigit bibir. "Aku tidak membunuh Ming'er..." bisiknya, tapi mereka tak peduli.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki mendorongnya.
BRUK!
Dia jatuh ke tanah, ember kayunya terguling. Lututnya berdarah akibat gesekan dengan batu tajam, tapi dia tak menangis. Menangis hanya akan membuat mereka semakin puas.
"Kamu harusnya ikut mati bersama Ming'er!"
Sesuatu dalam d**a Lian Xue mencengkeramnya erat. Rasa sakit dan hancur hati menyatu menjadi satu. Ia merasa dunia ini begitu tidak adil, dan semua orang seakan sepakat untuk menyalahkannya.
Tahun-tahun berlalu, dan perlakuan Bibi Liu semakin buruk. Jika dulu ia masih mendapat sepiring nasi hangat, sekarang ia hanya mendapatkan sisa makanan. Jika dulu ia tidur di kamar kecil, sekarang ia harus tidur di gudang.
"Apa gunanya anak seperti kamu tetap di sini? Kamu cuma buang-buang beras!"
Lian Xue hanya diam. Matanya kosong. Ia belajar bahwa membela diri tidak akan mengubah apa pun. Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup, dan ia terpaksa menerima kenyataan pahit ini.
Selama bertahun-tahun, ia berusaha keras untuk tidak menyakiti hati Bibi Liu, berharap bahwa suatu saat wanita itu akan melihatnya sebagai sosok yang berharga, bukan sebagai anak buangan. Namun, harapan itu semakin memudar.
Hidup di rumah itu terasa seperti berada di dalam penjara. Setiap perintah yang diberikan Bibi Liu menjadi beban yang harus ia jalani tanpa keluhan. Lian Xue tidak lagi memiliki impian, hanya bertahan dari satu hari ke hari berikutnya. Setiap malam, saat ia berbaring di atas tumpukan jerami kering di gudang, ia membayangkan hidup di tempat lain, di mana cinta dan kasih sayang mengalir tanpa batas.
Sampai suatu hari, saat tubuhnya semakin lemah karena terlalu banyak bekerja, Bibi Liu membuat keputusan yang mengubah segalanya.
"Kamu tidak bisa tinggal di sini lagi, Lian Xue."
Dia mengangkat wajahnya, menatap wanita yang dulu ia panggil ibu. "A-aku akan bekerja lebih keras... Tolong, jangan usir aku..."
Bibi Liu tak bergeming. "Kamu bukan anakku. Kamu hanya beban."
Lian Xue merasakan sesuatu dalam dirinya hancur untuk kedua kalinya. Dia berpikir bahwa penderitaannya sudah cukup buruk. Namun, ternyata takdir masih menyimpan cobaan lain untuknya.
Bibi Liu menjualnya sebagai b***k.
Di dalam kereta kayu yang berderak melewati jalanan berbatu, Lian Xue duduk diam. Tangannya terikat, tubuhnya lemah, dan matanya menatap kosong ke kejauhan. Dalam perjalanan yang tidak diketahui ini, ia merasakan ketidakpastian yang menggelayuti jiwanya.
Duduk di sebelahnya, seorang gadis kecil lain yang juga dijual sebagai b***k menangis tersedu-sedu.
"Kamu tidak menangis?" tanya gadis itu dengan suara gemetar.
Lian Xue menoleh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum pahit.
"Apa gunanya menangis?" jawabnya sambil menggelengkan kepala.
Di luar sana, matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan semburat merah yang seakan melukiskan darah. Pemandangan itu indah, namun terasa sangat kontras dengan kesedihan yang menyelimuti hatinya.
Gadis itu menghapus air matanya dan melihat Lian Xue dengan penuh harapan. "Kita akan baik-baik saja, kan? Mungkin kita akan bertemu orang yang baik."
Lian Xue hanya bisa tersenyum pahit. "Mungkin..."
Waktu berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setiap guncangan kereta kayu membuat tubuh Lian Xue semakin lelah. Pikiran-pikiran gelap mulai menggerogoti jiwanya, dan ia tak berdaya melawan rasa putus asa yang menggerogoti hatinya.
"Siapa yang akan membeli kita?" tanya gadis itu lagi, suaranya bergetar.
"Aku tidak tahu," jawab Lian Xue, "tapi aku harap mereka baik."
"Aku ingin pulang," gumam gadis itu, air mata mulai menggenang di matanya.
Lian Xue tidak tahu harus berkata apa. Ia pernah berharap untuk pergi dari rumah itu, tetapi sekarang ia merasakan ketakutan yang lebih besar menghadapi ketidakpastian masa depan.
Ketika kereta akhirnya berhenti, Lian Xue merasakan jantungnya berdegup kencang. Suara langkah kaki datang mendekat, dan pintu kereta dibuka dengan keras. Seorang pria tinggi besar dengan wajah garang memandang mereka dengan tatapan menyelidik.
"Keluar!" serunya.
Gadis itu menggenggam tangan Lian Xue, ketakutan terpancar di wajahnya. Lian Xue merasakan getaran tubuh gadis itu, dan ia sendiri merasa sangat ketakutan.