Langit malam berhiaskan bulan pucat, sementara hujan gerimis membasahi tanah yang dingin. Napasnya tersengal, tubuhnya menggigil dalam balutan pakaian tipis yang sudah basah kuyup. Wanita muda itu terus berlari, sesekali menoleh ke belakang seolah memastikan dirinya tak diikuti. Setiap detik terasa begitu berharga, dan setiap langkahnya dipenuhi dengan ketakutan yang mendalam.
Dalam gendongannya, seorang bayi mungil menangis pelan, suaranya tersamarkan oleh rintik hujan yang makin deras. Wanita itu menghentikan langkahnya di depan rumah sederhana berhiaskan lampion merah yang menggantung di tiang depan. Tangannya gemetar saat perlahan meletakkan bayi itu di depan pintu. "Maafkan aku…" bisiknya lirih, menatap wajah kecil yang begitu damai meski tubuhnya kedinginan. Dengan hati yang hancur, ia menyelipkan sepotong kain berbordir lambang bunga teratai putih ke dalam selimut bayi itu. "Semoga kau tetap hidup…"
Tangannya terulur, hendak menyentuh pipi bayi itu sekali lagi. Namun, langkah kaki yang mendekat dari kejauhan membuatnya tersentak. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan menghilang di kegelapan malam, menyisakan jejak kesedihan yang mendalam di hatinya.
Pintu rumah terbuka, menampilkan sosok seorang wanita setengah baya dengan wajah keibuan. Raut wajahnya berubah terkejut saat melihat bayi yang tergeletak di ambang pintu, basah kuyup dan menggigil. "Ya ampun… siapa yang meninggalkan bayi sekecil ini di malam sedingin ini?" Ia buru-buru menggendongnya, membawanya masuk ke dalam rumah.
Di dalam, seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah sederhana menoleh dari balik meja kayu. "Apa yang kau bawa, Liu?"
"Bayi… dia ditinggalkan di depan rumah kita," jawab wanita yang dipanggil Liu dengan suara lembut, matanya menatap wajah mungil itu penuh iba. "Dia masih hidup, tapi sangat dingin."
Pria itu mendekat, mengamati bayi tersebut dengan dahi berkerut. "Kenapa seseorang tega membuang anaknya sendiri?"
Liu tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, kemudian membungkus bayi itu dengan kain kering. "Aku akan merawatnya," ujarnya mantap.
"Kau yakin?"
Liu menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan. "Dia sudah ditinggalkan. Jika aku juga menolaknya, dia akan mati."
Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah… tapi kita harus memberinya nama."
Liu tersenyum kecil. Ia menatap ke luar jendela, di mana hujan telah berhenti dan salju mulai turun perlahan. "Lian Xue," gumamnya. "Salju Teratai."
Lian Xue tumbuh sebagai gadis kecil yang ceria. Sejak kecil, ia membantu Bibi Liu di kedai teh, belajar menyeduh teh dan melayani pelanggan dengan senyuman manis. Para pelanggan yang datang sering kali mengelus kepalanya dan memujinya sebagai anak yang manis dan rajin. Kehangatan di kedai teh itu menjadi tempat perlindungan yang nyaman bagi Lian Xue, di mana ia merasa dicintai dan diterima.
Namun, segalanya berubah pada suatu malam yang kelam.
Suasana kedai teh sunyi. Lian Xue, yang saat itu berusia tujuh tahun, berjongkok di sudut dapur, mengamati dari balik tirai bambu. Ia melihat Bibi Liu menangis, sementara suaminya berdiri di hadapannya dengan ekspresi tegang. "Bagaimana bisa ini terjadi?" suara Bibi Liu bergetar, tangannya mencengkeram kain di pangkuannya.
"Putra kita… dia meninggal."
Dunia seakan runtuh. Lian Xue tidak memahami banyak hal, tapi ia tahu bahwa kakak tirinya, putra kandung Bibi Liu, adalah segalanya bagi keluarga itu. Dan sejak hari itu, sikap mereka padanya berubah. Pujian yang dulu ia terima berubah menjadi tatapan dingin. Tangan yang dulu membelai kepalanya kini hanya memberi perintah. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi kasih sayang.
Ia tidak pernah mengerti mengapa. Mengapa hidupnya yang penuh warna tiba-tiba menjadi kelabu.
Hingga suatu hari, saat ia tersandung dan menjatuhkan nampan teh di hadapan pelanggan, suara Bibi Liu terdengar tajam menusuk telinganya. "Kalau bukan karena kau, anakku pasti masih hidup!"
Lian Xue membeku. Tatapan penuh kebencian itu menusuk jantungnya. "A-aku… aku tidak tahu…"
"Tutup mulutmu! Kau hanya pembawa sial!"
Sejak saat itu, Lian Xue bukan lagi anak yang mereka rawat. Ia menjadi pelayan di rumah itu. Pagi-pagi ia harus bangun untuk membersihkan kedai, menyapu, memasak, mencuci piring—semua pekerjaan kasar menjadi tanggung jawabnya. Jika ia berbuat salah, hukuman selalu menantinya. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya menunduk dan menerimanya, berharap suatu hari semuanya akan berubah.
Bulan demi bulan berlalu, dan harapan itu pupus ketika suatu sore, saat hujan turun deras, seseorang datang mengetuk pintu kedai teh.
Bibi Liu membuka pintu, dan di ambangnya berdiri seorang pria tua dengan jubah kelabu, wajahnya keras dan penuh perhitungan. "Kau pemilik kedai ini?" tanyanya dengan suara dalam.
"Ya, benar," jawab Bibi Liu dengan waspada.
"Aku mendengar kau memiliki seorang anak perempuan yang bisa dijual."
Lian Xue yang sedang menyapu di pojok ruangan terdiam. Ia menoleh, menatap pria itu dengan kebingungan. "Apa maksudnya?" tanyanya lirih.
Bibi Liu tak menoleh ke arahnya. "Berapa kau menawarkannya?"
Jantung Lian Xue seakan berhenti berdetak. "Bibi?"
Pria itu mengeluarkan kantong koin, meletakkannya di atas meja. "Jumlah ini cukup?"
Bibi Liu mengambil kantong itu, membuka isinya, lalu mengangguk pelan. "Ya."
Lian Xue merasa kakinya lemas. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Tidak… tidak, Bibi!" Ia berlari mendekat, mencengkeram lengan wanita yang telah merawatnya sejak kecil. "Aku tidak mau pergi! Kumohon…!"
Bibi Liu melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Kau hanya beban! Aku sudah cukup bersabar selama ini!"
Lian Xue tersentak mundur. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak. "Aku… aku sudah bekerja keras… aku sudah berusaha sebaik mungkin…" suaranya lirih, penuh putus asa.
Pria tua itu hanya menatapnya datar sebelum akhirnya menarik lengannya dengan kasar. "Kita pergi sekarang."
Tidak ada perpisahan. Tidak ada belas kasihan.
Hujan turun semakin deras saat Lian Xue diseret pergi, meninggalkan satu-satunya tempat yang selama ini ia sebut rumah. Di belakangnya, suara pintu tertutup mengukir kenangan pahit yang akan membekas selamanya.
Lian Xue menyadari… ia tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu.
Di dalam gerobak kayu yang berguncang, air matanya jatuh satu per satu. "Kenapa… kenapa aku tidak bisa memilih nasibku sendiri…?"
Pria tua itu meliriknya dari balik bahunya, sebelum tertawa kecil. "Nasibmu bukan milikmu, anak kecil."
Lian Xue mengepalkan tangannya, menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia berjanji pada dirinya sendiri—suatu hari, ia tidak akan membiarkan siapa pun lagi menentukan nasibnya.
Namun, untuk saat ini…
"Aku akan dibawa ke mana…?" tanyanya dengan suara bergetar.
Pria itu tersenyum miring. "Kau akan segera tahu."
Lian Xue teringat akan hari-hari ketika ia masih merasa aman dan dicintai. Di kedai teh, ia sering kali membantu Bibi Liu menyiapkan teh untuk para pelanggan. Ia mengingat aroma harum teh melati yang selalu mengisi udara, dan bagaimana senyuman pelanggan bisa membuat harinya lebih cerah. Namun, semua itu tampak seperti mimpi yang jauh sekarang.