Namanya Pak Darmo. Ayah Nirmala—gadis kecil yang dulu Maya tarik pulang dari danau bara, satu-satunya yang pernah berhasil dibawa keluar, tetapi pulang hanya separuh hidup karena separuh napasnya masih tertahan di jantung hutan. Salah satu dari belasan tangan pertama yang terangkat di alun-alun beberapa hari lalu, ketika Maya bertanya dari atas balai bambu siapa yang berani percaya, siapa yang berani berdiri.
Mereka menemukannya di sisi timur, di tempat sulur sempat jebol selama beberapa hela napas sebelum Maya menambalnya. Ia pasti berdiri di celah itu, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai pengganti pagar yang runtuh, menahan sosok kelaparan dengan dadanya agar tak masuk ke tengah tempat anak-anak berlindung. Napasnya telah dihisap habis sampai ke akar. Wajahnya tenang, seakan tidur nyenyak setelah hari yang panjang, tetapi dadanya tak naik turun, dan ketika Maya berlutut dan menyentuh tanah di sebelahnya dengan telapak yang gemetar, tanah itu sunyi. Tak ada getaran. Tak ada gema, tak ada sisa, tak ada apa pun. Hanya hilang—sebersih kabut yang menelan tanpa meninggalkan jejak, seakan Pak Darmo tak pernah ada.
Maya pernah melihat kematian. Ia tumbuh di desa yang membakar orang di alun-alun yang sama ini. Tetapi kematian Pak Darmo terasa berbeda, lebih berat, karena ini kematian yang dibayar untuk pilihannya sendiri—pilihan yang Maya tawarkan dari atas balai bambu beberapa hari lalu, ketika ia berkata dengan begitu yakin, *kalian tidak akan menonton dari balik pagar.*
"Aku yang menyuruhnya berdiri," bisik Maya. Tangannya gemetar di atas tanah yang sunyi. "Aku yang bilang ada kehormatan dalam berdiri di rantai. Kalau aku diam, kalau aku menyuruhnya jaga anak-anak saja di tengah, ia masih—"
"Ada." Sembada berdiri di belakangnya, dan suaranya serak. Ketika Maya mendongak, ia melihat mata tua Pak Lurah itu basah, sesuatu yang tak pernah ia kira akan ia saksikan. "Ada kehormatan dalam berdiri, Nak. Jangan kau rampas itu darinya sekarang dengan menyalahkan dirimu. Aku mengenal Darmo sejak ia anak kecil yang mengejar layangan di ladang. Aku yang mengajarinya takut pada sihir. Aku yang dulu, kalau keadaannya lain, pasti memerintahkan dia mengangkat obor untuk membakarmu, dan ia akan menurut karena ia menghormatiku." Sembada berlutut perlahan di sisi jenazah, lututnya yang tua berbunyi, dan menutup mata Darmo yang setengah terbuka dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapal. "Tadi malam ia mati menahan kabut supaya anak orang lain tidak terhisap napasnya. Bukan karena aku menyuruhnya. Karena ia memilih sendiri. Itu kematian yang lebih mulia dari apa pun yang pernah kuajarkan padanya."
Bu Larsih datang menerobos kerumunan, menjatuhkan diri di samping jenazah suaminya, dan tidak menjerit—itu yang paling menusuk hati Maya. Perempuan itu hanya menggenggam tangan suaminya yang dingin dan menatap wajahnya yang tenang, seakan menghafalnya. Nirmala, yang separuh tubuhnya masih berkelip kabut, berdiri di belakangnya menggenggam ujung baju ibunya dengan tangan yang setengah nyata. "Ia bilang padaku semalam," kata Bu Larsih akhirnya, suaranya rata dan hampa, "kalau ia tidak berdiri di rantai, ia tidak akan bisa menatap mata Nirmala nanti ketika anak itu pulang utuh. Ia bilang lebih baik mati berdiri daripada hidup sambil menunduk." Ia mendongak menatap Maya, dan dalam matanya tak ada tuduhan, hanya duka yang dalam. "Pulangkan sisa napas anakku, Nak. Itu saja yang ia minta. Pulangkan Nirmala seutuhnya, supaya kematiannya berarti."
Maya tak sanggup menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk, dan janji tak terucap itu menambah berat di pundaknya yang sudah sarat.
Para ibu mulai menyanyikan lagu itu lagi—bukan untuk menidurkan kabut kali ini, karena kabut sudah surut, tetapi untuk Darmo. Lagu tidur yang ternyata juga lagu segel, dan Maya menyadari betapa pas lagu yang sama itu untuk keduanya: untuk menidurkan yang lapar, dan untuk mengantar yang pergi tidur untuk selamanya. Suara para perempuan mengambang di atas alun-alun yang basah, lembut, dan untuk sesaat seluruh desa diam mendengarkannya.
Mereka mengubur Pak Darmo di kaki tugu batu tujuh nama, di tanah yang menyimpan abu tujuh penjaga yang dibakar dahulu. Dan Sembada, dengan tangannya sendiri, dengan pahat dan palu yang ia bawa dari rumahnya, memahat sebuah goresan baru di batu itu, di bawah tujuh nama lama yang pudar. Bukan nama korban yang dibakar karena takut. Nama orang yang gugur karena berani.
"Delapan nama sekarang," kata Nenek Larasati pelan, berdiri di samping Maya menatap tugu yang baru dipahat. "Tujuh yang kita bakar karena takut pada sihir. Satu yang mati karena berdiri di sisi sihir, melindunginya. Tugu yang sama, batu yang sama, ditatahkan oleh tangan keturunan yang sama. Hanya artinya yang berubah seluruhnya." Ia menghela napas panjang. "Mungkin itu satu-satunya cara desa berubah, Nak. Bukan dengan merobohkan tugu lama. Dengan menambahkan nama baru di bawahnya."
Maya menatap tangan kirinya. Tiga jari hilang, kabut berputar pelan di tempatnya. Lalu ia menatap gundukan tanah baru di kaki tugu, masih lembap dan gembur. Selama ini ia membawa hitungan harga seakan hanya tubuhnya yang sedang ditimbang di neraca—ruas demi ruas, jari demi jari, telapak demi telapak, sebuah jam pasir yang mengalir dari dagingnya sendiri. Ia lupa, atau memilih lupa, bahwa begitu desa ikut berdiri di sisinya, harga itu tak lagi dibayar oleh dagingnya saja.
Kini darah manusia telah ikut dibayarkan. Dan Maya tahu, dengan kepastian yang membuat perutnya mengeras seperti batu, bahwa Pak Darmo tidak akan jadi yang terakhir gugur.
"Kita harus berangkat," katanya akhirnya, suaranya datar oleh tekad yang dingin. "Secepatnya. Sebelum desa membayar lebih banyak nyawa di halamannya sendiri sambil menunggu. Kita bawa perang ini ke jantungnya, bukan menunggunya datang lagi ke pintu kita malam demi malam."
Nenek Larasati tidak menjawab. Tetapi malam itu, Maya melihat neneknya duduk lama sendirian di dekat tungku, kalung tergenggam di telapaknya—kalung yang seharusnya hanya boleh dipegang Maya—dan menatap api dengan mata seseorang yang sedang menimbang sebuah keputusan berat yang ia rahasiakan dari semua orang.