Nenek Larasati menunggu sampai Kaba dan Mbok Inah tertidur lelah di balai, sampai hanya tinggal nyala bara di tungku yang menjilat-jilat malam, sebelum ia memanggil Maya duduk di sampingnya di tikar.
"Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan padamu," katanya. Mata kelabunya menatap bara, bukan Maya, seakan lebih mudah bicara pada api. "Bukan karena Penjaga tidak tahu—Penjaga tahu, tentu saja. Tapi karena aku menyuruh diriku sendiri lupa. Selama tujuh puluh tahun aku berpura-pura tidak tahu, supaya aku tidak pernah harus melakukannya. Itu cara seorang pengecut tua bertahan hidup, Nak. Lupa yang dipilih sendiri."
Maya menunggu, diam. Ia sudah belajar sejak kecil bahwa Nenek bicara seperti pohon tumbuh—lambat, dari akar, dan tak bisa dipaksa cepat.
"Kau sudah menemukan cara membagi harga," lanjut Nenek. "Rantai penambat. Itu pintar, Nak. Lebih pintar dari semua leluhur kita yang sombong dan kesepian. Tapi kau tahu sendiri, di dalam hatimu kau sudah tahu: membagi harga tidak menghapusnya. Untuk menumbuhkan segel utuh—segel yang menidurkan Yang Tertidur sepenuhnya untuk tujuh generasi lagi, bukan sekadar menunda semalam—harganya bukan sepotong jari. Bukan sebelah tangan. Bukan dua puluh tangan menggigil bersama." Ia akhirnya menoleh, dan dalam cahaya bara yang merah, wajahnya tampak setua tugu batu itu sendiri, penuh garis dan bayang. "Harganya satu nyawa penuh. Satu jiwa, melebur seutuhnya menjadi simpul terakhir segel. Itu sebabnya Penjaga dulu bilang kau mungkin harus memberikan dirimu seutuhnya. Itu sebabnya semua leluhur kita melebur jadi hutan dan kabut. Selalu, selalu ada satu yang harus pergi total. Tak pernah ada segel tanpa jiwa di simpulnya."
"Rantai penambat—" mulai Maya, suaranya tercekat.
"Rantai menipiskan harga kecil. Tidak harga terakhir." Nenek menggeleng, pelan dan pasti. "Simpul terakhir tidak bisa dibagi dua puluh tangan, Nak. Kabut tidak menerima dua puluh kepingan jiwa yang retak. Ia hanya menerima satu jiwa utuh, satu nyawa penuh yang diberikan bulat. Itu hukum yang lebih tua dari rantaimu, lebih tua dari desa, lebih tua dari aku."
Maya merasa lantai tanah seakan miring di bawahnya, seperti perahu yang oleng. Ia telah membiarkan dirinya berharap. Cara ketiga, jalan yang belum pernah ada, jalan yang ia banggakan di depan warga. Rantai manusia. Dan kini Nenek mencabut harapan itu dari tangannya pelan-pelan, seperti mencabut duri dalam-dalam dari daging.
"Tapi ada rahasia di balik rahasia." Suara Nenek melembut, dan untuk pertama kali malam itu ia tersenyum—sebuah senyum yang justru membuat dada Maya membeku. "Hukum kabut tidak peduli siapa jiwa yang dibayarkan, asal jiwa itu darah penjaga, dan asal diberikan dengan sukarela penuh. Bukan dirampas. Bukan dipaksa. Diberikan dengan tangan terbuka." Ia mengangkat kalung dari lehernya sendiri—dan Maya bahkan tidak sadar Nenek telah memakainya malam ini—dan menggenggamnya erat di kepalan tua. "Kau pikir kau satu-satunya darah penjaga yang tersisa di desa ini, Maya. Kau salah, Nak. Aku juga darah penjaga. Tua, hampir habis, tubuh yang sudah tidak banyak gunanya lagi selain menumbuk kunyit dan menunggu mati. Tapi darah di nadiku sama dengan darah di nadimu. Sama tuanya. Sama bisa."
"Tidak." Maya berdiri, dan kata itu keluar sebelum ia sempat memikirkannya. "Tidak, Nenek. Tidak akan."
"Aku sudah hidup tujuh puluh tahun, Nak. Aku sudah membesarkanmu dari bayi merah. Aku sudah menyaksikan ibumu mencoba jalan yang sama dan gagal, dan aku menyimpan rahasia ini selama ini justru supaya aku tidak pernah harus menawarkannya—karena aku pengecut, karena aku ingin mati di tikarku sendiri, di rumah ini, bukan jadi simpul di jantung hutan yang dingin." Air menggenang di mata kelabu itu, berkilau merah oleh bara. "Tapi tadi malam aku melihat Darmo mati. Aku melihatmu kehilangan tiga jari lagi dalam satu malam. Dan aku tidak bisa lagi berpura-pura lupa. Kalau memang ada satu jiwa yang harus diberikan supaya kau tidak harus memberikan jiwamu yang masih muda, biarkan itu jiwa yang sudah hampir habis dengan sendirinya. Biarkan itu aku. Itu satu-satunya hal berguna yang bisa kuberikan sebelum aku mati."
Maya berlutut dan menggenggam kedua tangan tua itu, kedua tangan yang dulu memandikannya di sumur, menyuapinya bubur, menyelipkan kalung ke telapaknya di malam paling kacau dalam hidupnya sambil berbisik *darah selalu menemukan jalannya pulang*. Tangan-tangan itu gemetar dalam genggamannya. Dan untuk pertama kali sejak ia mengenal dunia, Maya tidak melihat penjaga sumpah, tidak melihat perempuan tua bermata kelabu yang tahu segalanya tentang hutan dan darah. Ia melihat neneknya. Hanya neneknya. Takut. Tua. Dan sudah memutuskan untuk pergi.
"Tidak," ulang Maya, dan kali ini suaranya tak gemetar lagi, mengeras jadi sesuatu seperti batu kapur. "Aku tidak akan membawamu ke jantung untuk mati menggantikan aku. Kita akan cari jalan lain. Kita selalu menemukan jalan lain, Nenek. Selalu."
Nenek Larasati menatapnya lama, sangat lama, api memantul di matanya. Lalu ia mengangguk—terlalu mudah, terlalu cepat untuk perempuan sekeras kepala dirinya—dan tersenyum lagi.
Dan di senyum itu Maya, yang seumur hidup belajar membaca getaran terkecil di tanah dan pepohonan, getaran yang tak terdengar telinga, gagal membaca satu hal yang seharusnya paling ia kenali di seluruh dunia: senyum seseorang yang telah memutuskan untuk tidak meminta izin.