Fajar menolak datang.
Itulah yang paling menakutkan dari segalanya. Maya pernah berdiri di alun-alun sepanjang malam ekspedisi pertama, dan selalu, selalu, langit timur akhirnya memucat, memberi tanda bahwa malam tak abadi. Tetapi malam ini kabut menutup langit setebal kapas basah, dan jam demi jam berlalu tanpa secercah pun warna lain selain kelabu dan denyut merah jauh di kedalaman dinding kabut. Tak ada bintang. Tak ada bulan. Hanya gelap yang menelan waktu.
Warga berkumpul rapat di dalam pagar sulur, punggung saling bersandar untuk berbagi panas, anak-anak di tengah lingkaran, orang tua mengelilingi anak-anak, dan lingkaran terluar adalah para penambat dan pemegang obor yang tangannya tak boleh gemetar. Sosok-sosok kelaparan menabrak pagar sulur berulang-ulang, tanpa lelah, tanpa marah, hanya lapar. Dan tiap kali mereka menabrak, Maya merasakannya di tubuhnya sendiri, seperti seseorang memukul luka yang belum kering.
Maya berjalan di sepanjang pagar bagian dalam, telapaknya menyentuh tiap sulur untuk merasakan denyutnya. Beberapa kuat dan hangat, mengalirkan kehidupan dari tanah. Beberapa sudah mulai mendingin, kelelahan menahan gempuran. Ia menyalurkan sedikit kehangatan dari dirinya ke yang lemah, dan tiap kali, para penambat di dekatnya menggigil, membagi harga yang ia bayar. Ini bukan pertempuran yang bisa dimenangkan dengan satu hantaman besar. Ini pertempuran ketahanan—siapa yang lebih dulu kehabisan: desa yang bertahan, atau kabut yang lapar.
"Sulur melemah di sisi timur," lapor Kaba, kembali dari mengelilingi pagar, wajahnya pucat dan basah oleh embun kabut yang dingin. "Dua sulur sudah mati di sana, mengering. Kabut mulai menyelinap masuk lewat celah. Tidak banyak. Tapi terus, seperti air merembes lewat retak bendungan."
Maya hendak berlari ke timur untuk menambalnya, tetapi Nenek Larasati mencengkeram lengannya dengan kekuatan yang mengejutkan untuk perempuan setua itu, kuku tuanya menancap di kulit. "Jangan kau tumbuhkan lagi sendirian," desisnya, matanya menyala dalam gelap. "Lihat tanganmu, Nak. Lihat. Kalau kau habiskan dirimu di sini menambal pagar semalaman, sulur demi sulur, tidak akan ada Maya yang tersisa untuk pergi ke jantung. Tidak akan ada yang menyanyikan nyanyian itu." Suaranya turun jadi bisik mendesak. "Yang Tertidur tahu itu. Itu sebabnya ia menyerang sekarang—bukan untuk menelan desa malam ini. Untuk menghabiskanmu sebelum kau sempat sampai padanya. Ia ingin kau membakar dirimu sendiri di halaman ini."
Kata-kata itu menampar Maya seperti air sumur yang dingin di wajah. Tentu. Yang Tertidur tak butuh memakan seluruh desa malam ini—ia sudah sabar tujuh generasi, ia bisa menunggu. Ia hanya perlu memaksa Maya membakar dirinya sendiri, sulur demi sulur, harga demi harga, sampai tak ada lagi tubuh tersisa untuk berdiri di jantung dan menyelesaikan nyanyian. Maya hampir saja menari mengikuti irama musuhnya sendiri.
"Mbok Inah," panggil Maya, suaranya berubah. "Lagu para ibu. Mulai menyanyikannya. Sekarang juga."
"Tapi belum utuh, Nak. Bait terakhirnya—"
"Tidak perlu utuh untuk menahan. Hanya untuk menidurkan, walau sebentar." Maya menelan ludah, tenggorokannya kering. "Coba. Tolong. Apa pun yang kalian ingat."
Mbok Inah menatapnya sekejap, lalu menarik napas dalam-dalam dan mulai menyanyi. Suaranya parau, tua, sama sekali tidak indah—suara perempuan yang sudah lama tidak bernyanyi. Tetapi di baris ketiga, seorang ibu lain bergabung, ragu lalu yakin. Lalu seorang lagi. Lalu para nenek, yang ingatannya paling dalam. Lalu para gadis muda yang ibunya menyanyikan lagu itu untuk mereka belum lama berselang. Suara perempuan tiga generasi naik dari tengah lingkaran, dan suara itu tidak keras—tidak ada yang berteriak—tetapi tanah membawanya, menyebarkannya ke seluruh alun-alun, meresapkannya ke akar sulur.
Sosok-sosok kelaparan di luar pagar terhuyung.
Mereka tidak mati—Maya tahu Yang Tertidur tak bisa dibunuh, dan perpanjangan tangannya pun tak bisa benar-benar dipadamkan, hanya ditunda. Tetapi mereka melambat. Gerakan mereka jadi seperti orang yang mengantuk berat, mulut menganga mereka menutup setengah, lengan kabut mereka turun lemas. Dan untuk pertama kali sepanjang malam yang panjang ini, gempuran ke pagar sulur mengendur, menjarang. Lagu yang tak utuh pun cukup untuk membuat yang lapar mengantuk.
Maya menggunakan kesempatan itu. Dengan para penambat menggenggam erat dan lagu menahan musuh, ia menumbuhkan sulur baru di sisi timur, membayar harga setipis yang ia bisa, membiarkan rantai manusia menanggung sisanya seperti yang sudah mereka latih. Pagar utuh kembali, hijau dan kuat.
Mereka bertahan. Jam demi jam, lagu demi lagu yang berulang, sulur demi sulur yang ditambal. Dan akhirnya, ketika Maya yakin malam ini tak akan pernah berakhir, ketika kakinya mati rasa dan suaranya habis, sesuatu berubah di balik dinding kabut. Denyut merah jauh di kedalaman meredup. Kabut, perlahan dan enggan, mulai surut. Bukan kalah—Maya tahu pasti ini bukan kekalahan. Yang Tertidur hanya menarik diri, kenyang oleh berapa banyak tubuh Maya yang telah ia paksa terbakar malam ini, puas telah membuktikan bahwa ia bisa datang ke jantung desa kapan pun ia mau, dengan atau tanpa izin.
Dan ketika kabut surut dan langit kelabu yang akhirnya muncul memperlihatkan alun-alun yang penuh orang lelah, Maya melihat bahwa pertahanan pertama Sumur Kayu telah berhasil. Pagar bertahan. Anak-anak hidup, semua terhitung. Lingkaran tak terpecah.
Tetapi di sisi timur, di tempat sulur sempat jebol selama beberapa hela napas, seseorang terbaring tak bergerak di tanah basah, dan kabut tipis berputar pelan di sekeliling mulutnya yang ternganga.