Yang Tertidur tidak menunggu mereka selesai bersiap. Mungkin ia mencium bau persiapan itu lewat akar yang menjalar di bawah desa. Mungkin ia hanya lapar.
Malam itu kabut tidak turun seperti biasanya, perlahan dan rendah dari arah hutan. Ia naik—dari dalam, dari sumur, dari celah-celah tanah. Maya terbangun oleh dingin yang salah, bukan dingin kemarau yang kering, tetapi dingin yang punya niat, dingin yang merangkak masuk lewat celah dinding bambu dan meraba kulitnya seperti jari-jari mencari nadi. Ia melompat dari tikar, jantungnya berdebar, dan membuka pintu.
Alun-alun lenyap. Bukan gelap—lenyap. Di tempat sumur tua seharusnya berdiri, hanya ada dinding kabut kelabu yang menjulang setinggi atap rumah, berputar pelan dan rapat, dan dari dalamnya muncul bentuk-bentuk. Bengkok. Bermulut menganga lebar. Sosok-sosok kelaparan, perpanjangan tangan Yang Tertidur, lebih banyak dari yang pernah Maya lihat seumur hidupnya, merayap keluar dari dinding kabut dan menyusuri lorong-lorong desa dengan gerak patah-patah, mencari napas.
Maya menahan napas. Selama ini kabut selalu datang dari hutan, dari arah garis batu merah, dari luar. Tetapi malam ini ia naik dari dalam—dari sumur tua yang memberi nama pada desa, dari celah lantai, dari tanah di bawah kaki mereka sendiri. Yang Tertidur tidak lagi mengetuk pintu desa. Ia sudah masuk lewat akar.
"Bangun!" teriak Maya, dan tanahlah yang meneruskan teriakannya, mengguncang lantai tiap rumah seperti gempa kecil. "Semua bangun! Kabut masuk! Bawa anak-anak ke alun-alun!"
Desa meledak dalam kepanikan. Pintu-pintu terhempas terbuka, obor dinyalakan dengan tangan gemetar, tetapi cahaya obor hanya membuat kabut tampak lebih hidup, bayangan-bayangan menari di dindingnya seperti wayang yang lepas dari dalang. Seorang sosok kelaparan menjulurkan tangan kabutnya ke arah seorang anak yang menangis di ambang pintu, dan udara di sekitar mulut anak itu mulai tertarik, terhisap, napasnya ditarik keluar seperti benang dari gulungan yang berputar.
Maya berlari, kakinya menapak tanah dingin yang basah, dan menumbuhkan tembok sulur antara anak itu dan sosok kelaparan. Harga datang seketika—dingin menggigit tulang keringnya—tetapi ada tangan yang menggenggam bahunya. Kaba, entah dari mana, sudah ada di sana, napasnya berembun di sebelah telinga Maya. Lalu tangan lain di bahu Kaba, dan lain lagi. Para penambat datang berlari dari rumah masing-masing, setengah tidur, rambut acak-acakan, kaki telanjang di tanah dingin, dan menempelkan diri ke rantai tanpa diperintah, naluri yang sudah mereka latih sepanjang pekan ini. Harga itu terbelah tipis di antara mereka semua. Anak itu selamat, napasnya kembali dengan tersengal dan terbatuk, dan ibunya menariknya masuk ke dalam dekapan sambil menjerit syukur kepada langit yang tak terlihat.
Maya nyaris tak sempat bernapas sebelum sosok kelaparan berikutnya muncul dari dinding kabut, lalu satu lagi, lalu tiga sekaligus dari arah sumur. Mereka tidak menyerang seperti binatang buas yang menerjang—mereka merayap, sabar, menyebar ke seluruh penjuru desa mencari mulut yang sendirian, napas yang tak terjaga. Seorang nenek yang terlambat keluar dari rumahnya di ujung lorong sudah dikepung tiga sosok ketika Kaba melompat ke sana, menusuk-nusukkan tombak bambu yang sia-sia menembus kabut, lalu menyeret perempuan tua itu keluar dengan kekuatan tubuhnya sendiri, bukan dengan senjata. Di desa ini, malam itu, tubuh manusia yang berani jauh lebih berguna daripada bilah apa pun.
"Ke alun-alun!" Suara Sembada menggelegar dari arah tugu batu, dan untuk pertama kali parang leluhurnya terhunus di malam hari bukan untuk membakar siapa pun. "Semua ke tugu! Jangan terpencar! Kabut memangsa yang sendirian! Berkumpul, berpegangan!"
Pak Lurah yang dulu memimpin perburuan penyihir kini memimpin warganya mundur ke titik kumpul, mendorong yang lambat, menggendong yang tua di punggungnya, menghalau sosok-sosok kelaparan dengan parang yang sebenarnya tidak melukai kabut sama sekali—bilah itu menembusnya seperti menembus asap—tetapi tubuhnya yang berdiri tegak di antara warga dan maut adalah pesan yang lebih besar daripada bilah mana pun. *Aku di sini. Lewati aku dulu.*
Maya mencapai kaki tugu batu tujuh nama dan menjatuhkan diri berlutut, menekan kedua telapaknya ke tanah di sana. Sesuatu menjawab dari bawah. Di bawah tugu, tempat tujuh penjaga dibakar tujuh generasi lalu, darah lama masih tersimpan dalam tanah, tak pernah benar-benar hilang, dan darah itu mengenali darah penjaga yang masih hidup di atasnya. Tugu batu berdenyut seperti dada yang menarik napas. Dari celah-celah dasarnya tumbuh sulur, cepat dan tebal, melingkari alun-alun, membentuk pagar hidup yang menahan dinding kabut agar tak merangkak lebih dekat ke tempat anak-anak berlindung.
Tetapi harganya, kali ini, besar. Maya merasakan dingin menjalar bukan ke jari, tetapi ke seluruh telapak tangan kirinya, naik ke pergelangan. Para penambat menggenggam erat, menggigil hebat, membagi beban sebisa mereka, dan tetap—ketika sulur itu mengeras menjadi pagar yang kokoh—telapak tangan kiri Maya berkurang, kabut berputar di tempat tiga jari dulu berada. Ia menahan jerit, karena warga sedang menatapnya untuk menemukan keberanian.
"Tahan!" teriaknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Tahan sampai fajar! Kabut tidak suka matahari! Kita cuma harus bertahan sampai pagi!"
Di balik pagar sulur, dinding kabut menjulang dan berputar, dan dari dalamnya muncul sesuatu yang lebih besar dari sosok-sosok kelaparan biasa—sebuah denyut merah samar jauh di kedalamannya, lambat dan teratur, seperti mata yang membuka sedikit demi sedikit. Yang Tertidur menonton desa yang berani bersiap melawannya, dan dalam denyut merah itu Maya merasakan sesuatu yang membuat darahnya membeku lebih dari dingin mana pun: bukan amarah, bukan benci, bukan dendam.
Selera makan. Sabar, tua, dan pasti.