Berita itu menyebar dari rumah ke rumah secepat kabut turun di senja kemarau. Mbok Inah dan Nenek Larasati duduk di balai bambu di tepi alun-alun, dan satu per satu para ibu desa datang, malu-malu pada awalnya, membawa selimut bayi mereka, kain gendongan yang sudah kumal, sapu tangan tua yang diwariskan dari nenek mereka dan tak pernah dipakai. Maya menyaksikan dari pinggir dengan dada yang terasa terlalu penuh untuk satu tubuh.
Hampir setiap keluarga punya lagu itu.
Tidak sama persis. Tiap rumah menyimpan potongan yang berbeda, kadang hanya dua tiga baris, kadang melodi tanpa kata, kadang kata tanpa melodi yang sudah lupa nada. Seorang ibu muda menyanyikan baris tentang "daun yang menutup mata bara." Seorang lain ingat bagian tentang "akar yang menggendong yang lapar agar ia kembali tidur." Seorang nenek buta, dituntun cucunya ke balai bambu, menyenandungkan nada yang membuat kalung di dada Maya berdenyut keras seperti ingin lepas, dan ketika Maya menanyainya dengan hati-hati, nenek buta itu hanya berkata bahwa ibunya dulu melarang lagu itu dinyanyikan keras-keras di luar rumah "karena bisa membangunkan yang tidak boleh bangun, Nak. Pelan-pelan saja, cuma buat bayi."
"Mereka tahu," kata Maya kepada Kaba, yang berdiri di sebelahnya menatap para ibu yang mulai menyusun potongan-potongan lagu bersama-sama, suara mereka saling mengisi seperti tambal kain. "Selama ini mereka tahu, Kaba. Bukan dengan akal, bukan dengan kitab. Dengan tangan dan suara dan kebiasaan. Pengetahuan segel tidak pernah hilang dari desa ini. Hanya... lupa kenapa. Lupa untuk apa."
Kaba menyandarkan tombaknya ke pohon, perlahan memahami. "Mereka mengubahnya jadi lagu tidur," katanya. "Pengetahuan paling berbahaya di desa ini, yang bisa membuat orang dibakar hidup-hidup kalau ketahuan menyimpannya, mereka sembunyikan di tempat paling aman yang ada di dunia." Ia tersenyum getir, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Di mulut ibu, di telinga bayi, malam-malam ketika tak ada lelaki yang curiga, tak ada Pak Lurah yang mendengar. Nyanyian buat menidurkan anak yang menangis. Padahal sebenarnya nyanyian buat menidurkan roh kelaparan purba yang menelan napas."
"Desa membakar penyihir di siang hari," kata Maya pelan, "dan menyimpan sihir mereka di kamar tidur tiap malam. Tujuh generasi. Tanpa pernah sadar tangan mereka memegang kunci yang mereka cari sambil membakar pemiliknya."
Sembada datang ke balai bambu menjelang siang, berdiri di pinggir dengan kikuk, menyaksikan para perempuan desanya menyusun lagu yang selama ini dilarang dinyanyikan keras-keras oleh aturannya sendiri. Wajahnya berkerut dalam, dan Maya bisa membaca pergulatan di sana: seumur hidup ia menjaga agar tak ada sihir terdengar di desa, dan kini sihir itu mengalir dari mulut istri-istri dan ibu-ibu yang ia lindungi, lagu yang mungkin sudah mereka nyanyikan di dekat telinganya sendiri waktu ia bayi. "Ibuku menyanyikan sesuatu seperti ini," gumamnya pada Maya, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku sudah lupa nadanya selama puluhan tahun. Tapi tadi, waktu mereka mulai... aku ingat tanganku digendong. Aku ingat hangat." Ia menelan ludah. "Berarti ibuku pun tahu, dan ayahku yang membakar penyihir tidur di sebelah perempuan yang menyimpan lagu segel. Dunia ini terbalik, Nak."
Nenek Larasati memanggil Maya dengan lambaian tongkat. Para ibu telah menyusun lagu itu sejauh yang ingatan kolektif mereka mampu, menambal lubang dengan potongan dari rumah tetangga, dan kini mereka menyanyikannya bersama, pelan, ragu-ragu pada awalnya lalu makin yakin, suara-suara perempuan dari tiga generasi yang bertumpuk seperti lapisan kabut di pagi hari. Maya menutup mata dan mendengarkan dengan darahnya, bukan dengan telinganya.
Nyanyian itu mengalir. Indah dengan cara yang sederhana, membumi seperti aroma nasi yang baru matang di tungku, seperti bau tanah setelah hujan pertama. Tidak ada yang kosmik di dalamnya, tidak ada yang megah—hanya kelembutan seorang ibu yang ingin anaknya tidur tenang. Tetapi di tengahnya ada lubang. Bait demi bait mengalir, saling menyambung, lalu tiba di satu tempat di mana semua suara meredup serempak, semua ibu berhenti, karena tak satu pun dari mereka mengingat bagian itu. Sebuah keheningan berbentuk lubang, di tengah nyanyian yang nyaris utuh, seperti gigi yang tanggal di barisan senyum.
"Bait terakhir," bisik Maya, membuka mata. Kalung di dadanya dingin di tempat itu, dingin seperti tempat kosong, seperti sesuatu yang sengaja tidak diturunkan kepada siapa pun. "Mereka punya semua bait kecuali yang terakhir. Bagian yang paling penting."
Nenek Larasati menatapnya, wajah tuanya muram dalam cahaya senja. "Bait yang paling berbahaya selalu yang paling dijaga, Nak. Atau yang paling cepat dilupakan—karena terlalu menakutkan untuk diingat, terlalu berat untuk dinyanyikan kepada bayi. Mungkin para ibu pertama sengaja memutusnya, supaya tak seorang anak pun tumbuh besar membawa beban itu di lidahnya."
Maya menatap ke arah tiga penjuru desa, ke arah Hutan Kabut yang menunggu sabar di balik garis batu kapur yang catnya hampir habis terkelupas, pucat seperti tulang. Di suatu tempat jauh di jantungnya, di dekat bara merah yang berdenyut pelan, bait terakhir itu tersimpan—di tempat yang hanya bisa dicapai dengan berdiri tepat di hadapan yang seharusnya tidur, di tempat tak seorang pun yang masuk pernah kembali untuk menceritakannya.
"Kita punya nyanyiannya," kata Maya, dan suaranya mengeras dengan tekad yang dingin. "Hampir seluruhnya. Tinggal satu bait." Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin mengisi dadanya. "Dan satu bait itu menunggu di tempat paling tidak ingin kudatangi di seluruh dunia."