Mbok Inah datang ke rumah Nenek Larasati sebelum fajar, ketika kabut masih menggantung serendah pinggang di lorong-lorong desa dan ayam pertama belum berani berkokok. Ia mengetuk tiga kali, pelan, lalu masuk tanpa menunggu disuruh, membawa bungkusan kain di dadanya seperti orang menggendong bayi yang takut dibangunkan.
Maya sedang duduk di dekat tungku, membalut tangan kirinya dengan kain agar warga tak terlalu sering melihat kabut yang berputar di ujung jarinya. Ia mendongak, terkejut melihat siapa yang datang.
"Aku mau jadi penambat utama," kata Mbok Inah, tanpa basa-basi, meletakkan bungkusan di lantai tanah dengan hati-hati. "Yang berdiri paling depan di rantai. Yang menanggung paling banyak."
Nenek Larasati, yang sedang menumbuk kunyit di lesung batu untuk obat pagi, berhenti, alu menggantung di udara. "Inah, kau yang paling tua di antara mereka yang berdiri. Tubuhmu sudah tidak sekuat dulu. Beban di mata rantai depan—"
"Justru karena aku paling tua." Mbok Inah duduk bersila di tanah, lututnya berbunyi seperti ranting kering. Cahaya tungku menjilat keriput di wajahnya, mengubahnya jadi peta sungai-sungai kecil. "Dengarkan aku, Larasati. Kita seumuran. Kita tahu hidup kita tinggal sisa. Tahun lalu, di alun-alun itu, mereka menumpuk kayu di bawah kakiku. Mereka pikir aku penyihir karena boneka jerami yang bukan punyaku, yang entah siapa selipkan di kolong dipanku. Aku sudah mencium bau asapku sendiri sebelum naik. Aku sudah pasrah." Ia menatap Maya, dan matanya yang keruh tiba-tiba tajam. "Lalu kau dan Kaba yang menyela. Kau menumbuhkan sulur di depan mereka semua—di depan orang-orang yang siap membakarmu juga—dan kau membayar untuk itu dengan tubuhmu sendiri, supaya aku tidak terbakar. Seorang gadis yang bahkan tidak kenal aku."
"Mbok Inah, kau tidak berutang apa-apa pada—"
"Setiap orang berutang, Nak." Suara perempuan tua itu lembut tetapi keras seperti batu kapur yang dipahat. "Selama setahun aku jadi orang yang nyaris dibakar, yang dikasihani orang sambil dijauhi, yang ditatap dengan 'siapa tahu memang penyihir, lebih baik hati-hati'. Aku capek jadi korban, Larasati. Aku capek jadi nama yang dibisikkan orang dengan ngeri. Aku ingin jadi orang yang berdiri paling depan menanggung beban, biar kalau ada yang harus menggigil paling dingin di rantai itu, akulah orangnya. Bukan ibu-ibu muda yang masih punya anak menunggu di danau bara. Mereka harus pulang hidup buat anak-anak itu. Aku tidak punya siapa-siapa yang menungguku."
Tungku berderak, melontarkan percik bunga api. Untuk sesaat tak ada yang bicara, hanya bunyi kayu terbakar dan napas tiga orang. Lalu Mbok Inah membuka bungkusan kain di pangkuannya. Di dalamnya bukan boneka jerami, bukan jimat, bukan apa pun yang dahulu membuat orang ingin membakarnya. Hanya selembar kain lusuh dengan jahitan benang merah yang membentuk barisan tanda-tanda kuno, sudah pudar dimakan usia, sebagian benangnya terurai.
"Aku menyimpan ini dari ibuku," kata Mbok Inah, jarinya menelusuri jahitan itu dengan kelembutan seorang ibu. "Dan ibuku dari ibunya. Katanya ini lagu. Lagu yang dinyanyikan para perempuan dulu sambil menidurkan anak di malam hari. Aku tidak pernah tahu artinya, tidak pernah berani menyanyikannya keras-keras. Tapi tadi malam, waktu aku memegang kalungmu sebentar di ladang—maaf, aku menyentuhnya tanpa izin, tanganku gatal sendiri—aku merasa kainku ini menghangat juga. Sama persis seperti kalungmu menghangat."
Maya merasakan darahnya mendingin lalu memanas, seperti tungku yang dihembus. Ia mengulurkan tangan kanannya, yang masih utuh, dan menyentuh ujung kain itu dengan ujung jari.
Kain itu bernyanyi.
Bukan dengan suara. Dengan getaran, sama persis seperti pepohonan, sama seperti tanah, sama seperti kalung. Dan getaran itu—Maya mengenalinya, dan pengenalan itu membuat lehernya tercekat. Ia sudah mengejar pecahan-pecahannya ke pohon-pohon tertua, membayar dengan tubuhnya untuk setiap potong, menumbangkan pohon-pohon tua agar mereka bersedia berbagi ingatan. Beberapa nada yang ia kira hilang selamanya, terkubur di ingatan kalung di tempat yang tak bisa ia jangkau, ternyata duduk di sini selama ini—dijahit dengan benang merah pudar di kain selimut seorang janda tua yang nyaris dibakar desa karena dituduh penyihir.
"Nenek," bisik Maya, suaranya nyaris hilang. "Ini bagian dari nyanyian penidur. Bagian yang aku kira harus kucari jauh ke dalam jantung hutan, yang sudah membuatku kehilangan dua jari. Sebagiannya... ada di sini. Di kain selimut bayi."
Nenek Larasati meletakkan alu di lesung dengan tangan gemetar, kunyit kuning menempel di jarinya. Matanya yang kelabu memandang kain itu seperti orang memandang wajah seseorang yang ia kira sudah lama mati dan dikubur. "Aku ingat lagu ini," katanya pelan, hampir pada dirinya sendiri. "Ibuku menyanyikannya untukku waktu aku kecil. Aku menyanyikannya untuk ibumu, Maya, di rumah ini juga, di dekat tungku ini juga. Aku tidak pernah tahu... aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kunyanyikan setiap malam." Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan. "Selama ini aku menidurkan keturunanku dengan kunci segel sendiri, dan menyebutnya lagu pengantar tidur."
Maya menggenggam tangan Mbok Inah, dan untuk sesaat ketiganya hanya duduk di dekat tungku, tiga perempuan dari tiga usia, menyimpan rahasia yang sama. "Kau mau menebus namamu," kata Maya pelan kepada Mbok Inah. "Tapi namamu tidak pernah perlu ditebus, Mbok. Bukan kau yang berdosa. Desa yang berutang padamu." Mbok Inah menggeleng, jarinya tetap menelusuri jahitan merah di kainnya. "Bukan soal dosa, Nak. Soal mati dengan arti. Selama setahun aku hidup tanpa arti, cuma menunggu giliran dibakar berikutnya. Sekarang aku punya kain ini, dan ternyata kain ini menyimpan kunci yang kalian cari. Biarkan aku jadi perempuan tua yang membawa lagu ke jantung hutan. Bukan janda yang dituduh penyihir. Itu saja yang kuminta."
Nenek Larasati meraih tangan sahabat tuanya. Dua perempuan yang sama-sama hampir dibakar, sama-sama menyimpan rahasia yang membuat desa membakar orang, kini saling memandang dengan pengertian yang tak butuh kata. Maya menyaksikan keduanya dan merasakan sesuatu mengeras di dadanya—rasa syukur yang bercampur takut, karena ia tahu setiap orang yang berdiri di sisinya kini adalah orang yang ia bisa kehilangan.
Di luar, ayam pertama akhirnya berkokok, dan kabut di lorong mulai surut menyongsong matahari yang takkan menghangatkan apa pun hari itu.