Latihan dimulai di ladang kosong di belakang sumur tua, tempat tanah masih cukup hidup untuk menjawab panggilan darah penjaga. Maya berlutut, menekan kedua telapak ke tanah, dan menarik napas seperti yang diajarkan pohon asam tua di halaman rumahnya: jangan paksa, jangan rampas, mintalah. Tanah, seperti manusia, lebih murah hati pada yang meminta daripada pada yang merebut.
Ia menumbuhkan satu sulur. Hanya satu, setinggi lutut, hijau pucat dan ragu, menggeliat keluar dari tanah kering seperti bayi yang menggapai cahaya. Tetapi ketika sulur itu mengeras, Maya merasakan harga itu datang, dingin dan akrab, menjalar dari pergelangan tangannya ke arah jari-jari. Sepotong dirinya bersiap pergi jadi kabut, seperti selalu, sejak malam ia menyelamatkan Kaba di lubuk Penjaga.
"Sekarang," kata Nenek Larasati tajam, suaranya seperti cambuk.
Kaba menggenggam pergelangan tangan Maya, erat, kulitnya hangat menempel di kulit Maya yang mulai mendingin. Di seberang, Mbok Inah meletakkan telapak keriputnya di bahu Kaba. Di belakang Mbok Inah, seorang ayah yang anaknya melayang di danau bara meletakkan tangannya di bahu perempuan tua itu, lalu seorang pandai besi, lalu seorang gadis, rantai manusia yang saling bersentuhan tanpa terputus, semua mata menatap Maya, semua hati berkata satu hal yang sama tanpa diucapkan: *bagi padaku. Berikan sebagian padaku. Aku sanggup.*
Sesuatu terjadi yang belum pernah dirasakan Maya seumur hidupnya.
Harga itu tidak hilang. Bukan begitu cara hukum darah penjaga bekerja; harga tak pernah bisa dibatalkan, tak pernah bisa ditawar, itulah hukum besi yang menelan setiap leluhurnya. Tetapi harga itu terbelah. Dingin yang seharusnya merampas seluruh jari kelingking kedua tangannya kini hanya menggigit kuku, lalu menyebar tipis—amat tipis—ke sepanjang rantai. Maya melihat Kaba mengernyit, seakan disentuh angin sangat dingin di tengah kemarau. Mbok Inah menggigil sekejap dan menarik napas tajam. Para penambat berkedip, sebagian mengusap lengan yang tiba-tiba merinding. Tetapi tak satu pun dari mereka kehilangan apa pun yang kasatmata. Tak ada jari yang luruh. Tak ada daging yang berubah kabut.
Maya melepaskan tangannya dari tanah dan menatap jari-jarinya. Masih utuh. Kabut yang seharusnya menelan dua ruas hanya berputar tipis di ujung kuku, lalu mengendap dan menghilang.
"Apa yang baru saja terjadi?" bisik Kaba, mengguncang-guncang tangannya seakan ingin menghangatkannya, napasnya berembun walau pagi tak sedingin itu.
Maya tidak langsung menjawab. Ia menatap rantai manusia itu, satu per satu, wajah-wajah yang setahun lalu mungkin akan mengangkat obor untuk membakarnya, dan untuk pertama kali sejak Penjaga menjelaskan dua jalan yang mengerikan—lebur jadi segel atau memutus garis selamanya—ia merasakan retakan halus di dinding takdir yang dibangun untuknya sejak sebelum ia lahir.
"Beban itu bisa dibagi," katanya pelan, hampir tak percaya pada lidahnya sendiri. "Selama ini Penjaga, Nenek, semua leluhur, mereka pikir harga harus ditanggung satu tubuh. Karena selalu hanya ada satu penjaga, sendirian, dibenci, bersembunyi, takut menyentuh siapa pun supaya tidak menularkan kutukan." Ia memandang Nenek Larasati. "Tetapi harga itu tidak peduli berapa banyak tubuh menanggungnya. Ia hanya menuntut dibayar penuh. Kalau dua puluh tangan membayarnya bersama..."
"...maka tak satu tubuh pun harus lebur seluruhnya," Nenek Larasati menyelesaikan, dan suaranya bergetar dengan sesuatu yang lebih dekat ke tangis daripada Maya pernah dengar dari perempuan tua itu seumur hidupnya. "Anak-anakku. Tujuh generasi kita membiarkan darah kita habis sendirian, padahal jawabannya selalu ada di sini." Ia menunjuk kerumunan kecil itu dengan tongkatnya, tangannya gemetar. "Bukan di hutan. Bukan di kalung. Di antara manusia yang mau percaya dan mau saling memegang tangan."
Sepanjang pagi mereka mengulangi latihan itu, lagi dan lagi. Maya menumbuhkan sulur, lalu menyembuhkan luka lama di kaki seorang penambat, lalu menenangkan tanah yang mulai mendingin di pinggir ladang. Tiap kali, rantai menggenggam, dan tiap kali harga terbelah tipis. Mereka belajar membaca isyarat satu sama lain: kapan harus mengencangkan genggaman, kapan dingin akan datang, bagaimana mengirim kehangatan tubuh sendiri menyusuri lengan menuju Maya seperti air mengalir di parit. Pandai besi bertangan tebal ternyata penambat terkuat—tubuhnya yang dibentuk tungku dan palu seakan punya panas cadangan yang tak habis-habis. Seorang gadis yang dulu menjauhi Maya di sumur kini berdiri paling dekat dengannya, dan ketika dingin datang ia hanya tersenyum dan berbisik, "Aku tahan. Lanjutkan."
Para penambat tertawa kecil, sebagian menangis, sebagian saling menepuk bahu, merayakan kemenangan kecil yang mereka rasakan di tulang. Tetapi Maya tahu, dari getar kalung di dadanya yang mendadak mendingin, bahwa ini belum jawaban utuh. Membagi harga untuk satu sulur kecil adalah satu hal. Membagi harga untuk berdiri di hadapan Yang Tertidur dan menyanyikan nyanyian utuh—harga yang mungkin sebesar satu nyawa penuh—itu hal yang sama sekali lain, dan kalung itu membisikkannya dengan dingin yang menusuk.
Sebuah rantai bisa menipiskan beban. Tetapi jika beban itu cukup berat, rantai pun bisa putus. Dan setiap mata rantai yang putus, Maya tahu, bukan logam yang patah. Itu seorang manusia yang ikut lebur jadi kabut.
Ia tidak mengatakannya. Ia hanya menatap tangannya yang nyaris utuh dan membiarkan warga merayakan, karena mereka butuh percaya pada sesuatu, dan karena malam besar masih jauh. Di pinggir ladang, Sembada berdiri sendirian, menatap rantai manusia itu dengan wajah seseorang yang seumur hidup mengajari rakyatnya menjauhi api, lalu menyaksikan api itu menyelamatkan mereka. *Apa lagi yang salah kuajarkan,* ekspresinya seakan berkata, *selama tujuh puluh tahun ini?*