Pagi itu alun-alun Sumur Kayu tidak lagi terdengar seperti tempat orang berkumpul untuk membakar. Maya berdiri di bawah tugu batu tujuh nama, telapak kakinya menapak tanah dingin yang basah oleh kabut semalam, dan untuk pertama kali sejak ia mengenal desa ini, ia tidak merasakan kebencian merembes naik dari bawah. Selama bertahun-tahun tanah alun-alun selalu meneruskan kepadanya bau hangus dan amarah, sisa-sisa yang terkubur di bawah batu kapur. Hari ini yang ia rasakan justru sesuatu yang asing dan rapuh, seperti tali yang baru saja ditegangkan dan belum tahu apakah akan menahan beban: harapan.
Pak Lurah Sembada berdiri di sisinya, parang leluhur tergantung di pinggang tanpa pernah dihunus. Kumis tebalnya kini berbaur uban yang seakan tumbuh dalam semalam, sejak cucunya ikut hilang ditelan kabut dari dalam pagar desa. Ia mengangkat tangan, dan keriuhan warga perlahan padam, satu suara demi satu suara, seperti tungku yang kehabisan kayu.
"Kalian semua tahu apa yang kucium dari mulutku selama puluhan tahun," kata Sembada, suaranya serak. "Sihir itu dosa. Bakar darahnya. Aku mewarisi kata-kata itu dari ayahku, dan ayahku dari ayahnya, sampai ke kakek buyut yang menumpuk kayu pertama di bawah tugu ini." Ia diam sejenak, telapaknya menyentuh permukaan batu yang dingin. "Tujuh nama di batu ini kami bakar karena takut. Sekarang aku tahu, yang kami bakar bukan penyihir. Mereka penjaga kita. Darah yang menjaga kita justru kita jadikan abu."
Gumam menyebar di kerumunan seperti riak di sumur tua. Maya melihat beberapa ibu menutup mulut dengan ujung kerudung, mata mereka berkaca-kaca. Mereka adalah para ibu yang anaknya melayang di danau bara di jantung hutan, masih bernapas, masih menunggu, masih bisa dipulangkan kalau saja ada cukup keberanian di pagi ini.
"Anak-anak kita belum mati," kata Maya. Suaranya tidak keras, tetapi tanah meneruskannya hingga ke ujung alun-alun, seperti tanah selalu meneruskan apa pun yang lahir dari darah penjaga. Ia melihat orang-orang di barisan belakang menoleh, terkejut mendengar suara seorang gadis terdengar sejelas itu di telinga mereka. "Napas mereka ditahan di jantung hutan. Untuk membawa mereka pulang, aku harus berdiri tepat di hadapan Yang Tertidur dan menyelesaikan nyanyian yang dulu menidurkannya. Aku tidak bisa melakukannya dari balik garis batu merah. Aku harus masuk."
"Kau akan mati," seru seseorang dari belakang. Bukan dengan benci. Dengan takut, yang jauh lebih jujur daripada benci.
"Mungkin," jawab Maya, karena Nenek Larasati pernah mengajarinya bahwa kebohongan terhadap orang yang akan menggadaikan nyawanya adalah dosa yang lebih besar daripada sihir mana pun. "Tetapi aku tidak akan berdiri sendiri. Dan kalian tidak akan menonton dari balik pagar sambil berharap aku gagal supaya kalian bisa tidur tenang."
Ia mengangkat tangan kirinya. Cahaya pagi yang pucat menembusnya. Di tempat ujung jari kelingkingnya dulu berada, kini hanya ada kabut tipis yang berputar pelan, seperti asap tungku yang enggan naik. Beberapa warga mundur selangkah, refleks lama yang sulit dihapus. Tetapi Mbok Inah, yang berdiri paling depan, justru melangkah maju, menatap tangan itu tanpa berkedip, lalu mengulurkan jarinya sendiri dan menyentuh kabut itu, seakan membuktikan kepada seluruh desa bahwa sihir Maya tidak menggigit.
"Setiap kali ia menumbuhkan sesuatu untuk menolong kita," kata Nenek Larasati dari atas balai bambu, tongkat kayunya menekan papan, mata kelabunya menyapu kerumunan dengan ketajaman yang membuat orang menundukkan kepala, "sepotong tubuhnya pergi jadi kabut. Itu harga darah penjaga. Tidak pernah gratis. Tidak akan pernah." Tongkatnya berhenti menunjuk Sembada, lalu menyapu seluruh kerumunan. "Tujuh generasi kalian membiarkan satu garis menanggung harga itu sendirian, sembunyi di pinggir desa, sambil kalian tidur nyenyak. Sekarang giliran kalian menanggungnya bersama. Bukan karena belas kasih. Karena ini memang utang kalian sejak semula."
Kaba melangkah ke tengah, tombak bambu baru di tangannya menggantikan yang patah di lubuk Penjaga dulu. Ia memandang Maya sekilas, sebuah pandangan yang hanya mereka berdua mengerti, lalu memandang warga. "Aku pernah jadi penjaga tepi hutan yang menyeret orang ke garis merah supaya tidak melanggar batas," katanya. "Sekarang aku jadi jangkarnya. Yang mau ikut, berdiri di belakangku. Yang takut, jaga anak-anak dan jaga tungku tetap menyala buat kami yang pulang. Tidak ada yang hina dalam keduanya. Yang hina cuma berpura-pura tidak ada apa-apa."
Satu per satu, tangan terangkat. Bukan banyak. Belasan, mungkin dua puluh. Seorang ayah yang anaknya melayang di danau bara. Seorang pandai besi bertangan tebal. Dua gadis sebaya Maya yang dulu menjauhinya di sumur. Seorang kakek yang kehilangan cucu. Tetapi mereka berdiri, dan di desa yang sejak lahir diajari bahwa menyentuh sihir berarti menyentuh maut, dua puluh orang yang memilih berdiri adalah hutan kecil yang menolak ditebang.
Maya menggenggam kalung di dadanya. Batu hijau berurat keemasan itu menghangat di telapaknya, mengenali darah penjaga di sekelilingnya yang baru bangun setelah tertidur tujuh keturunan. *Kau tidak sendiri lagi,* bisik batu itu, dengan suara yang bukan suara, hanya getaran yang masuk lewat tulang dan menetap di belakang matanya. *Mereka akhirnya ingat dari mana mereka berakar.*
Sembada mendekat, menurunkan suaranya hingga hanya Maya yang mendengar di tengah kesibukan warga yang mulai membentuk barisan. "Aku tidak tahu cara menambatkan sihir, Nak. Aku tidak tahu cara menanggung harga yang kau sebut itu. Aku cuma tahu cara takut dan cara memerintah orang takut. Itu yang kupelajari seumur hidup."
"Kalau begitu kita akan belajar yang lain bersama-sama," kata Maya. "Mulai hari ini. Kita punya satu purnama, mungkin kurang. Garis merah hampir lenyap, dan ketika ia hilang seluruhnya, kabut tidak akan menunggu kita siap."
Di kejauhan, di balik tiga penjuru desa, kabut bergerak. Tidak menyerang. Belum. Hanya menonton, seperti binatang tua yang mencium bau persiapan dan tahu, dengan kesabaran purba yang lebih tua dari desa, lebih tua dari tugu, bahwa sebentar lagi ia akan punya alasan—dan selera—untuk lapar.