Mereka berkumpul keesokan paginya di balai bambu—Maya, Kaba, Nenek Larasati, Mbok Inah, Sembada, dan beberapa warga yang telah memilih berdiri di belakang Kaba sejak hari gencatan.
Maya menyampaikannya tanpa memperhalus, sebab Nenek pernah mengajarinya bahwa kebohongan terhadap orang yang akan menggadaikan nyawanya adalah dosa yang lebih besar daripada sihir mana pun.
"Nyanyian penidur hampir utuh," katanya. "Lima belas pecahan sudah kukumpulkan, dibayar dengan tujuh pohon tertua yang kini mengering. Tetapi bait terakhir, yang mengunci seluruh lagu, tidak ada di tepi hutan, tidak di lubuk. Ia tersimpan di jantung. Di dekat Yang Tertidur sendiri." Ia menatap wajah-wajah yang mendengarkan. "Untuk menyelesaikan nyanyian, aku harus berdiri tepat di hadapan musuh yang nyanyian itu seharusnya kalahkan."
Kerumunan kecil itu diam. Mbok Inah, yang dahulu hampir dibakar atas tuduhan palsu, kini menggenggam tasbih kayunya dengan tangan keriput yang gemetar. Sembada, yang seumur hidup mengajari desanya menjauhi api hutan, berdiri dengan rahang mengeras, parang leluhur di pinggang yang tak pernah lagi ia hunus.
"Maka kita tidak akan membiarkanmu pergi sendirian," kata Sembada akhirnya, dan suaranya, walau serak, terdengar seperti keputusan yang telah ia gulati semalaman. "Aku menghabiskan tujuh puluh tahun menyuruh rakyatku berdiri di balik pagar saat hutan lapar. Aku tak akan mengulanginya sekarang, ketika satu-satunya yang bisa menyelamatkan anak-anak kita menggadaikan nyawanya."
"Kau tak tahu apa yang ada di sana," kata Maya pelan. "Sosok-sosok kelaparan. Kabut yang mencuri ingatan. Danau bara tempat napas anak-anak melayang. Yang Tertidur sendiri, terjaga sebagian, mengenali namaku." Ia menatap mereka satu per satu. "Aku tidak memintamu mengikutiku ke sana."
"Kau tidak perlu meminta," kata Mbok Inah, mengejutkan semua orang dengan ketegasan yang tak terduga dari suara setuanya. "Aku hampir mati di tiang pancang atas dosa yang tak kuperbuat. Desa ini berutang nyawa padaku, dan aku memilih membayar utang itu kembali dengan berdiri di belakangmu, Nak. Aku dulu merawat Kaba ketika ia demam, ketika ibunya tak ada. Aku akan merawat keberanian desa ini sekarang, kalau itu yang dibutuhkan."
Maya merasakan dadanya sesak. Inilah yang membedakan ceritanya dari cerita Penjaga Daun Pertama, dari ibunya, dari setiap penjaga yang melebur sendirian, dibenci dan bersembunyi: ia tidak sendirian. Di hadapannya berdiri orang-orang yang dahulu akan membakarnya, kini menawarkan diri menambatkan hidupnya. Tujuh nama di tugu batu di belakang mereka, tujuh penjaga yang dibakar desa ini karena ketakutan, tak pernah diberi pemandangan seperti ini. Mereka mati dikelilingi obor dan tuduhan. Maya berdiri dikelilingi tangan-tangan yang terulur.
Ia melirik tugu batu tujuh nama di tengah alun-alun, batu retak dimakan lumut yang dahulu hanya ia kenal sebagai monumen ketakutan. Untuk pertama kali, ia merasa berutang sesuatu pada nama-nama itu—bukan hanya untuk membalas kematian mereka, tetapi untuk membuktikan bahwa kematian mereka tak harus menjadi nasib setiap penjaga sesudahnya. Bahwa garis ini bisa berakhir dengan cara lain selain api dan peleburan.
"Kalau begitu kita rencanakan dengan benar," kata Maya, dan untuk pertama kali sejak ia tahu bait terakhir ada di jantung, suaranya tak lagi terdengar seperti perpisahan. Ia berlutut, menekan telapak tangan kirinya ke tanah balai, dan ia menumbuhkan—pelan, hati-hati, dengan kekuatan Penjaga yang menambah cadangannya—sebuah peta dari lumut hidup di papan bambu, jalur yang ditunjukkan ingatan kalung, jalan rahasia menuju jantung yang tak lewat lubuk.
Di sekelilingnya, warga menunduk menatap peta hijau yang berdenyut lembut itu, dan untuk pertama kali dalam tujuh generasi, orang-orang Sumur Kayu tidak menatap hutan dengan mata yang hanya tahu takut. Mereka menatapnya seperti orang menatap medan yang harus mereka lewati untuk membawa pulang anak-anak mereka.
"Kita butuh penambat," kata Maya, jarinya menelusuri jalur di peta lumut. "Rantai tangan yang mau menanggung harga bersamaku, supaya tubuhku tak luruh sebelum aku sampai. Kita butuh lentera lumut, banyak, supaya kabut tak menelan kita di lorong. Dan kita butuh waktu yang tak kita punya—garis merah hampir lenyap, segel Penjaga cuma menahan kabut beberapa hari lagi." Ia menatap Sembada. "Desa harus bersiap. Bukan untuk bersembunyi. Untuk berjalan ke dalam hutan bersamaku."
Sembada menatap peta lumut yang berdenyut, lalu menatap warga di sekelilingnya, lalu menatap Maya—gadis yang dahulu ia curigai, gadis yang ia kira dosa, gadis yang kini menjadi satu-satunya harapan desanya. Ia menarik napas panjang, dan ketika ia berbicara, suaranya membawa berat seorang pemimpin yang akhirnya memilih sisi yang benar.
"Maka kita bersiap," katanya. "Seluruh desa. Mulai hari ini."
Warga mulai bubar menuju tugas masing-masing—mengumpulkan lumut, menyiapkan obor dan bekal, memeriksa tali yang akan menjadi rantai penambat. Mbok Inah memimpin para ibu menghitung persediaan; Kaba mengumpulkan para lelaki muda untuk berlatih bergerak di kabut tanpa terpisah. Sumur Kayu, untuk pertama kali dalam ingatan siapa pun, bergerak bukan untuk membakar, melainkan untuk menyelamatkan.
Maya berdiri sendiri sejenak di bawah tugu batu tujuh nama, telapaknya menyentuh batu retak yang dingin, dan ia berbisik pada tujuh nama yang terukir di sana—bukan janji, hanya pengakuan. Bahwa ia tahu sekarang siapa mereka. Bahwa mereka tak akan dilupakan. Bahwa darah yang mereka tumpahkan akhirnya akan berarti sesuatu selain ketakutan.
Di luar, di balik tiga penjuru Sumur Kayu, kabut menunggu—sabar, purba, dan untuk pertama kali, tahu bahwa keturunan yang dahulu membakar penjaganya kini bersiap berjalan masuk, bersama-sama, untuk merebut kembali apa yang telah diambil darinya.