Di rumah Nenek Larasati, malam itu, Maya merangkai seluruh pecahan yang telah ia kumpulkan.
Ia duduk bersila di lantai tanah, kalung di dadanya, dan satu per satu ia memanggil pecahan-pecahan nyanyian dari dalam dirinya—nada dari pohon asam tua yang mengering, untaian dari enam pohon di tepi dan lubuk, dan bait pembuka dari pohon tertua, saksi kebangkitan pertama. Ia menyusunnya dalam ingatan seperti orang menyusun pecahan kendi, mencocokkan tepi dengan tepi, nada dengan nada, sampai sebuah lagu mulai terdengar utuh di kepalanya.
Nenek Larasati duduk di bangku, menumbuk akar dalam diam, tetapi tangannya melambat, lalu berhenti, sebab ia mendengar Maya bersenandung pelan, dan senandung itu membuat bulu di lengannya berdiri.
"Lagu itu," bisik Nenek. "Aku pernah mendengarnya."
Maya berhenti. "Di mana?"
Nenek Larasati menatap jauh, ke suatu tempat di masa silam. "Aku tak tahu. Sebagian darinya... terasa seperti sesuatu yang sangat tua, sesuatu dari mimpi. Tapi sebagian lagi..." Ia mengernyit. "Sebagian lagi terasa seperti sesuatu yang dekat. Sesuatu dari rumah ini. Aku tak bisa menempatkannya."
Maya menyimpan ucapan itu dalam hati, sebab ia pun merasakannya—bahwa lagu ini, walau begitu tua, mengandung untaian yang anehnya akrab, seperti gema dari sesuatu yang pernah ia dengar dalam tidur, dahulu sekali, sebelum ia cukup besar untuk mengingat. Sepotong nada di tengah lagu itu membuat kerongkongannya tercekat tanpa ia tahu sebabnya, seakan tubuhnya mengingat sesuatu yang pikirannya lupa. Ia membiarkan pikiran itu lewat, sebab ada hal yang lebih mendesak, tetapi pikiran itu tak benar-benar pergi—ia mengendap di sudut benaknya seperti bara yang menolak padam, menunggu untuk dipahami nanti.
Tungku di pojok rumah berderak pelan, dan bau kunyit serta kayu bakar memenuhi ruangan, bau yang sama yang telah menemani Maya sepanjang tujuh belas tahun hidupnya. Untuk sesaat, di bawah cahaya jingga tungku, dengan Nenek menumbuk akar dan lagu tua mengalun pelan dari bibirnya sendiri, Maya hampir bisa berpura-pura bahwa ia hanya gadis biasa di rumah biasa, dan bukan satu-satunya yang berdiri di antara desanya dan kelaparan yang lebih tua daripada desa itu sendiri.
Sebab ketika ia merangkai lagu itu sampai ujungnya, ia menemukan lubang.
Bait terakhir tidak ada.
Ia mencarinya. Ia menelusuri tiap pecahan yang ia kumpulkan, tiap ingatan kalung, tiap getaran pohon, mencari penutup nyanyian—bait yang mengunci lagu, yang mengubah lima belas pecahan dari sekadar lagu indah menjadi mantra yang menidurkan. Tetapi di mana seharusnya bait terakhir berada, hanya ada kekosongan, seperti pintu yang dibangun tanpa daun pintu.
"Apa yang kurang?" tanya Nenek, membaca kegelisahan di wajah cucunya.
"Bait terakhir," kata Maya pelan. "Lagunya hampir utuh. Tetapi penutupnya tidak ada di pohon mana pun. Tidak di kalung. Tidak di ingatan Penjaga yang ia berikan padaku." Ia menutup mata, mencari lebih dalam, sampai ia merasakan sesuatu yang membuat dadanya dingin. "Ia ada di suatu tempat. Aku bisa merasakannya, samar, seperti pelita di kejauhan. Tapi ia tidak di tepi. Tidak di lubuk."
Ia membuka mata, dan menatap ke arah jendela, ke arah Hutan Kabut yang menghitam di balik ladang, ke arah jantung tempat bara merah berdenyut dan napas anak-anak ditahan.
"Ia di jantung," bisik Maya. "Bait terakhir nyanyian penidur tersimpan di tempat yang paling dalam. Di dekat Yang Tertidur sendiri."
Keheningan jatuh di rumah kecil itu, dipecahkan hanya oleh denyut bara dari tungku dan, di kejauhan, denyut yang lebih tua dan lebih dalam dari hutan.
Nenek Larasati meletakkan alunya. Mata kelabunya, yang telah melihat anaknya melebur dan menyembunyikan cucunya dari kebenaran selama tujuh belas tahun, kini menatap Maya dengan campuran ketakutan dan sesuatu yang lebih keras—penerimaan yang pahit.
"Maka untuk menyelesaikan lagunya," kata nenek itu pelan, "kau harus pergi ke tempat yang lagu itu seharusnya melawan. Kau harus berdiri di hadapan musuhnya untuk menemukan senjatanya."
Maya tidak menjawab, sebab tak ada jawaban yang tidak terdengar seperti perpisahan. Ia menatap kalung di dadanya, lalu menatap nyala tungku, lalu menatap tangannya yang berkelip kabut di ujung jari—jam-pasir yang terus menetes, tak peduli pada perdamaian atau pengorbanan atau lagu yang hampir utuh. Ujung jari kelingking kirinya kini telah benar-benar lenyap, tinggal kabut tipis yang berputar pelan di tempat ia dahulu ada, dan Maya teringat bahwa setiap pecahan nyanyian, setiap sulur, setiap perlindungan, telah dibeli dengan sepotong dirinya yang tak akan pernah kembali.
Nenek Larasati bangkit dari bangkunya, perlahan, tongkat kayunya menekan lantai tanah, dan ia menghampiri Maya. Ia meletakkan tangan keriputnya di pipi cucunya—pipi yang masih hangat, masih daging, belum kabut—dan untuk sesaat keduanya hanya saling menatap, nenek dan cucu, dua perempuan terakhir dari garis yang telah membakar dirinya sendiri selama tujuh generasi.
"Ibumu juga pernah duduk di lantai ini," kata Nenek pelan, suaranya bergetar. "Merangkai hal-hal yang seharusnya tak dipikul anak semuda dia. Aku tak bisa menyelamatkannya. Aku menyembunyikanmu dari hutan selama tujuh belas tahun, dan hutan tetap memanggilmu." Matanya yang kelabu basah. "Jadi kalau kau memang harus pergi ke jantung, kau tidak akan pergi seperti dia—sendirian, diam-diam, di tengah malam. Kau akan pergi dengan seluruh desa di belakangmu. Itu janjiku."
Maya menggenggam tangan Nenek, dan ia tak sanggup bicara, sebab ada terlalu banyak yang ingin ia katakan dan tak satu pun cukup besar untuk diucapkan.
Lima belas pecahan ada di dalamnya. Satu lagi, yang terpenting, menunggu di tempat yang paling mungkin membunuhnya untuk mengambilnya.