Mereka tidak langsung pergi.
Maya tak bisa. Ia duduk di akar Pohon Raksasa yang kini diam, menyandarkan punggungnya ke kayu yang masih hangat oleh sisa hidup yang baru saja pergi, dan ia membiarkan dirinya berkabung. Kaba duduk di sampingnya, tak berkata apa-apa, sebab ia cukup bijak untuk tahu bahwa ada duka yang tak butuh kata, hanya butuh kehadiran.
"Ia yang pertama memberitahuku kebenarannya," kata Maya akhirnya, suaranya nyaris hilang dalam kabut. "Ketika seluruh desa menyebutku dosa, ketika bahkan aku mulai percaya bahwa apa yang ada dalam darahku adalah kutukan, ia berkata aku Penjaga. Bukan penyihir. Penjaga." Ia mengusap kulit kayu yang diam. "Ia menunjukkan padaku bahwa mendengar bisikan pohon bukan dosa. Itu warisan. Itu tugas. Ia memberiku nama untuk apa yang selama ini membuatku takut."
Kaba mengangguk pelan. "Ia juga yang menarikku dari kabut, di malam itu, ketika sosok kelaparan hampir menelanku. Aku ingat akar-akarnya melilit tubuhku, menahanku, walau itu menyakitinya." Ia menatap pohon yang diam. "Aku datang ke hutan ini untuk menyeret penyihir ke garis merah. Ia salah satu yang mengubahku. Aku tak pernah sempat berterima kasih."
"Kau bisa sekarang," kata Maya.
Mereka berdua menempelkan telapak ke akar Pohon Raksasa, dan dalam diam, masing-masing menyampaikan terima kasihnya, walau tak ada lagi getaran yang menjawab. Mungkin, pikir Maya, sisa Penjaga yang kini merembes ke desa membawa serta terima kasih itu, menyebarkannya bersama dengan perlindungan terakhirnya. Mungkin tidak. Tetapi mereka mengucapkannya tetap, sebab beberapa hal diucapkan bukan karena akan didengar, melainkan karena tak diucapkan akan terlalu berat untuk dibawa pulang.
Lubuk yang dahulu hidup oleh getaran Penjaga kini terasa seperti rumah setelah penghuninya pergi. Lumut bercahaya yang dahulu berdenyut mengikuti napas Penjaga kini menyala datar, dingin. Makhluk-makhluk kabut yang biasa berkumpul di tepi lubuk—jiwa-jiwa tersesat masa lampau yang telah Maya tenangkan—datang perlahan dari balik pepohonan, melayang mendekat, dan berhenti di sekeliling Pohon Raksasa yang diam. Mereka tidak bicara. Mereka hanya hadir, berkabung dengan cara makhluk kabut berkabung, dan untuk sesaat Maya merasakan duka mereka bertaut dengan dukanya sendiri, duka yang terlalu tua untuk diberi kata.
"Mereka juga kehilangan dia," bisik Maya. "Selama ini Penjaga yang menjaga mereka tetap tenang. Yang mengingat siapa mereka dulu, ketika mereka sendiri sudah lupa." Ia menatap gulungan-gulungan kabut yang melayang sedih itu. "Sekarang akulah yang harus mengingatnya untuk mereka."
Ketika akhirnya Maya berdiri, ia merasakan perubahan dalam dirinya yang tak bisa ia abaikan. Kekuatan Penjaga ada di dalamnya sekarang, hangat dan tua, dan dengan kekuatan itu datang pula beban yang dahulu Penjaga pikul sendirian: tanggung jawab atas seluruh segel, atas seluruh hutan, atas setiap napas yang ditahan di danau bara. Ia tak lagi sekadar pewaris kalung. Ia adalah Penjaga Daun, satu-satunya yang tersisa, dan tak ada lagi mentor untuk menuntunnya, tak ada lagi suara tua di lubuk yang menjawab pertanyaannya.
"Aku takut," akunya pada Kaba, saat mereka berjalan keluar dari lubuk, lentera lumut menyala hijau di tangannya. "Selama ini selalu ada Penjaga. Kalau aku tersesat, ia ada di sini. Kalau aku tak tahu jalan, ia menunjukkannya. Sekarang aku yang harus tahu. Aku yang terakhir. Tak ada lagi yang lebih tua di belakangku."
Kaba berhenti, dan ia menatapnya dengan tatapan yang membuat Maya teringat pada pemuda penjaga tepi hutan yang dahulu memergokinya bicara pada pohon asam, lalu memilih menutupinya. "Kau tidak terakhir," katanya. "Penjaga itu terakhir dari yang lama. Tetapi kau yang pertama dari yang baru. Dan kau tidak sendirian seperti mereka semua. Itu yang membuatmu berbeda. Itu yang akan membuat ceritamu berbeda." Ia menyentuh pergelangan Maya, tempat ia menjadi jangkar. "Setiap kali kau takut tersesat, sebut namaku. Aku akan menjawab. Aku selalu menjawab."
Maya menatapnya, lalu mengangguk. Mereka melangkah keluar dari lubuk, meninggalkan Pohon Raksasa yang kini diam selamanya, kuburan dan monumen sekaligus bagi penjaga yang memilih tidur.
Dan saat mereka mendekati tepi hutan, Maya merasakannya—segel baru yang tipis menambal garis desa, sisa terakhir Penjaga yang telah merembes pulang ke tanah Sumur Kayu. Kabut yang kemarin merayap satu jengkal lebih dekat kini terhenti, ragu, ditahan oleh pemberian terakhir seorang penjaga kepada keturunan yang pernah membakar darahnya.
Maya menyentuh garis batu kapur yang telanjang, dan ia merasakan kehangatan Penjaga di sana, samar tetapi nyata—seperti bara terakhir di tungku yang menolak padam, menjaga rumah tetap hangat sampai pagi.
"Terima kasih," bisiknya pada tanah. "Beristirahatlah."
Di balik ladang, kabut yang tertahan itu berputar pelan, ragu, lalu mundur setengah jengkal. Bukan kemenangan. Hanya napas. Hanya waktu yang dibeli dengan tubuh seorang penjaga, beberapa hari yang dipinjamkan kepada desa yang dahulu membakar darahnya. Maya tahu betul betapa singkat hadiah itu. Tetapi ia juga tahu bahwa singkat tak berarti tak berharga; kadang beberapa hari adalah perbedaan antara siap dan tidak siap, antara hidup dan lebur.
Kaba berdiri di sampingnya, menatap kabut yang mundur, dan tak berkata apa-apa. Mereka berdua membawa pulang duka dari lubuk yang kini sunyi—tetapi mereka juga membawa pulang kekuatan yang akan membawa Maya ke jantung, dan janji seorang penjaga yang melebur agar desanya punya kesempatan. Beban itu kini ada di pundak Maya seorang. Dan untuk pertama kali, ia tidak gentar memikulnya—sebab di sampingnya berjalan seseorang yang telah bersumpah menjadi jangkarnya, dan di depannya menunggu sebuah desa yang akhirnya memilih berdiri, bukan bersembunyi.