Mereka kembali ke lubuk Pohon Raksasa keesokan harinya, sebab Penjaga—yang masih bertahan tipis sejak hampir padam—memanggil Maya lewat getaran yang lemah, getaran yang harus Maya tutup matanya dalam-dalam untuk menangkapnya.
Penjaga itu hampir tak dikenali lagi. Tubuh akar dan rantingnya yang dahulu menjulang kini meranggas, sebagian besar telah membatu, mata hijaunya yang pucat menyala redup seperti bara yang tinggal seujung jari. Setiap kata yang ia getarkan terasa seperti diperas dari sisa hidup yang amat sedikit.
*Kau telah tahu siapa dirimu,* getar Penjaga, pelan. *Dan kau menolak jalan yang dipaksakan ingatan. Bagus. Bagus, anakku. Tetapi penolakan saja tak cukup. Untuk menapaki jantung, untuk berdiri di hadapan Yang Lapar dan bertahan cukup lama menyanyikan lagu utuh, kau butuh kekuatan yang tubuhmu sekarang tak bisa berikan tanpa luruh seluruhnya di tengah jalan.*
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Maya.
Mata hijau redup itu menatapnya, dan dalam tatapan itu Maya membaca sesuatu yang membuat dadanya mencelos sebelum Penjaga bahkan menggetarkannya.
*Aku adalah penjaga terakhir sebelum kau,* getar Penjaga. *Aku meleburkan tubuhku jadi pohon ini untuk menambal segel saat ia mulai retak. Tetapi yang tersisa dariku sekarang cuma sisa—sisa kekuatan, sisa hidup, sisa darah penjaga yang terlalu sedikit untuk menjaga apa pun, tetapi cukup untuk satu pemberian terakhir.* Rantingnya bergerak, gemeretak, terulur ke arah Maya. *Ambillah. Yang tersisa dariku. Supaya kau punya cukup untuk menapaki jantung tanpa luruh sebelum kau sampai.*
"Tidak." Maya mundur selangkah. "Kalau kau memberikan sisamu, kau akan padam. Kau akan mati."
*Aku sudah mati, Maya.* Ada sesuatu yang nyaris seperti tawa lembut dalam getaran itu. *Aku mati saat aku meleburkan diriku ribuan purnama lalu. Yang kau lihat sekarang hanyalah bara yang menolak padam karena masih ada yang harus kuselesaikan. Kau adalah yang harus kuselesaikan. Membiarkanku padam sekarang, untukmu, bukan kematian. Itu akhirnya istirahat.*
Maya menatap Kaba, yang berdiri di sisinya dengan rahang mengeras, dan ia melihat di mata Kaba kepedihan yang sama—sebab Penjaga adalah yang pertama membuka kebenaran pada mereka, mentor yang menuntun Maya dari sekadar mendengar menjadi mampu menjawab, satu-satunya makhluk yang benar-benar mengerti beban yang Maya pikul.
"Aku belum siap kehilanganmu," kata Maya pelan, dan suaranya pecah.
*Tak ada yang pernah siap.* Mata hijau itu melembut. *Tetapi aku siap, dan itu cukup. Dengarkan aku, anakku. Kekuatan yang kuberikan akan kau pakai untuk menapaki jantung. Tetapi sisa terakhir dariku, ketika aku padam, akan turun ke tanah dan menambal segel di garis desa—untuk sementara. Cukup untuk menahan kabut beberapa hari lagi, supaya desa punya waktu bersiap. Itu pemberianku yang terakhir untuk mereka yang dulu membakar darahku tanpa pernah tahu.* Getaran itu melembut menjadi nyaris bisikan. *Biarkan aku mengakhiri tugasku, Maya. Biarkan aku tidur.*
Maya teringat pada hari pertama ia bertemu Penjaga di lubuk ini, ketika ia masih gadis ketakutan yang baru saja melewati garis batu merah, ketika kata "penyihir" masih terasa seperti vonis di lehernya. Penjaga-lah yang pertama mengubah vonis itu menjadi nama yang bisa ia tanggung. Penjaga-lah yang menuntunnya, dengan kesabaran sebuah pohon, dari sekadar mendengar bisikan menjadi mampu menjawabnya. Dan sekarang makhluk tua itu memintanya untuk satu hal terakhir: mengizinkannya beristirahat.
*Aku telah menunggu lama untuk yang ini,* getar Penjaga, dan dalam getarannya ada kelegaan yang membuat dada Maya semakin pedih, sebab ia menyadari betapa lelah Penjaga selama ini, betapa berat menahan padam demi dirinya. *Jangan menangis untukku seakan aku korban. Aku memilih ini. Memilih, Maya. Itulah yang tak pernah diberikan kepada para penjaga yang dibakar di desamu. Mereka tak memilih. Aku memilih. Berikan aku martabat dari pilihan itu.*
Maya menutup matanya, air mata mengalir bebas, dan ia mengangguk, sebab menolak pemberian Penjaga berarti menghina pengorbanannya, dan ia sudah cukup belajar bahwa cinta kadang berarti membiarkan pergi.
Ia meletakkan kedua telapaknya pada ranting yang terulur. Dan Penjaga menyerahkan dirinya.
Kekuatan itu mengalir ke dalam Maya seperti matahari yang dituangkan ke dalam kendi—hangat, tua, lembut, membawa serta gema seluruh kesabaran Penjaga, seluruh kasih sayangnya yang dahulu disembunyikan di balik getaran kayu. Dan ketika aliran itu berhenti, Pohon Raksasa di hadapan mereka meredup. Mata hijau pucat itu menutup untuk terakhir kalinya. Ranting-rantingnya berhenti gemeretak. Dan di seluruh tubuhnya yang membatu, cahaya hidup yang tersisa surut, mengalir turun melalui akar-akar ke dalam tanah, menyebar ke arah desa seperti embun yang merembes pulang.
Lubuk itu menjadi sunyi. Sangat sunyi. Lebih sunyi daripada yang pernah Maya kira mungkin. Kabut yang biasa bergulung mengikuti getaran Penjaga kini menggantung diam, dan lumut bercahaya di akar-akar meredup satu demi satu, seakan seluruh lubuk turut menahan napas atas kepergian penghuninya.
Kaba meletakkan tangannya di bahu Maya, dan Maya merasakan tubuh sendiri gemetar—bukan oleh kekuatan baru yang mengalir di dalamnya, melainkan oleh kekosongan yang ditinggalkan Penjaga, kekosongan sebesar lubuk ini, sebesar tujuh generasi.
Dan Maya berdiri di tengah kesunyian itu, membawa di dalam dirinya kekuatan seorang penjaga yang baru saja memilih tidur, dan untuk pertama kali sejak ia masuk ke hutan, ia benar-benar sendirian sebagai yang terakhir.