Tetapi mengetahui jati dirinya bukanlah berkah tanpa duri.
Sebab bersama gema Penjaga Daun Pertama datang pula ingatan-ingatannya, dan ingatan-ingatan itu membawa kepastian yang dingin: jalan yang dulu ditempuh Penjaga Pertama untuk menidurkan Yang Lapar berakhir dengan ia meleburkan dirinya seluruhnya menjadi segel. Setiap malam kini, ketika Maya menutup mata, ingatan itu berusaha menuntunnya ke akhir yang sama, seakan jiwa tua di dalamnya tahu betul bagaimana cerita ini seharusnya berakhir dan tak sabar mengulanginya.
*Ini caranya,* bisik gema itu, dengan suara yang nyaris suaranya sendiri. *Sudah pernah kulakukan. Berdiri di hadapannya, nyanyikan lagunya, lalu serahkan dirimu seutuhnya ke dalam segel. Itu jalan yang berhasil. Itu satu-satunya jalan yang pernah berhasil.*
Maya duduk di bawah lentera lumut di lubuk yang sunyi, dan ia mendengarkan gema itu menuntunnya ke arah kematiannya sendiri dengan kelembutan seorang leluhur yang yakin ia menolong. Dan ia menyadari bahaya yang lebih halus daripada Yang Tertidur, lebih halus daripada api desa: bahaya menyerah pada takdir yang dipaksakan ingatan. Sangat mudah, ia sadari, menjadi sekadar bejana—wadah kosong tempat jiwa lama menuangkan kembali kisah lamanya, sampai Maya lenyap dan yang tersisa hanya pengulangan.
Ia memikirkan ibunya.
Ibunya juga membawa darah ini. Ibunya juga merasakan tuntunan ke arah peleburan, dan ibunya berhenti—berhenti demi Maya yang masih dalam kandungan—tetapi berhenti tak menyelamatkannya, sebab segel yang setengah ia tumbuhkan tetap merampas tubuhnya. Ibunya mati di tengah jalan, di antara dua takdir, karena ia tak menemukan jalan ketiga. *Jangan ulangi langkahku,* pesan terakhir ibunya, terbaca dari bentuk bibir yang tak bersuara di dalam ingatan kalung.
Dua perempuan sebelum dirinya. Penjaga Daun Pertama, yang melebur seluruhnya, dan segelnya runtuh setelah tujuh generasi. Ibunya, yang setengah melebur dan mati di antara, segelnya tak pernah jadi. Satu menempuh jalan sampai habis, satu berhenti di tengah dan tetap kehilangan segalanya. Keduanya, pada akhirnya, lenyap. Dan ingatan tua di dalam Maya kini berbisik bahwa ia harus memilih salah satu dari kedua kekalahan itu, seakan tak ada pintu lain di sepanjang lorong.
Tetapi Maya telah menanggung kematian para penjaga pertama. Ia tahu sekarang betapa setiap dari mereka menempuh jalan yang sama, sendirian, sampai jalan itu terasa seperti satu-satunya jalan yang ada—bukan karena ia satu-satunya, melainkan karena tak seorang pun pernah cukup tidak sendirian untuk mencoba yang lain.
Maya berdiri. Lentera lumut bergoyang di tangannya.
"Aku tidak akan mengulanginya," katanya keras, ke arah gelap, ke arah gema tua di dalam dirinya. "Aku menghormatimu. Kau menciptakan segel. Kau menyelamatkan dunia dengan tubuhmu, dan aku menanggung kematianmu malam itu, jadi aku tahu betapa beraninya kau. Tetapi kau gagal dalam satu hal." Suaranya bergetar tetapi tak surut. "Segelmu tidak abadi. Ia melemah. Tujuh generasi anak-anak dibakar karena ketakutan yang lahir dari segel yang akhirnya runtuh. Kalau aku melebur seperti kau, aku hanya membeli waktu sampai segelku pun runtuh, dan suatu hari ada gadis lain yang akan berdiri di sini, menanggung gema kita berdua, dan disuruh melebur lagi. Aku tidak mau menulis cerita yang sama untuknya."
Gema itu diam, seperti mendengarkan.
"Kau menidurkannya sendirian, dengan satu tubuh, dan itu sebabnya harganya seluruh dirimu," lanjut Maya, lebih pelan. "Tapi aku tidak sendirian. Ada dua puluh tangan di desa yang mau menanggung harga bersamaku. Ada Kaba yang memperlambat peluruhanku ketika ia memegangku. Ada Nenek, Mbok Inah, para ayah yang anaknya melayang di bara. Kau tak pernah punya mereka. Kau penjaga yang sendirian, dibenci, bersembunyi—sama seperti setiap penjaga sesudahmu. Tapi aku tidak. Dan kalau harga bisa dibagi..." Ia menggenggam kalung. "...maka mungkin tidak ada satu pun yang harus lebur seluruhnya. Termasuk aku."
Untuk waktu yang lama, lubuk itu sunyi. Lalu kalung di dadanya menghangat—bukan dengan tuntunan, bukan dengan ingatan, melainkan dengan sesuatu yang terasa hampir seperti persetujuan, seperti seorang nenek tua yang akhirnya melepaskan cengkeraman pada tangan cucunya dan membiarkannya berjalan sendiri.
*Aku mencoba dengan apa yang kupunya,* bisik gema itu, terakhir kali sebelum mereda, dan dalam suaranya tak ada lagi paksaan, hanya kelelahan ribuan tahun. *Mungkin kau punya lebih banyak. Mungkin kau bisa menulis akhir yang tak pernah kutemukan. Tulislah, Penjaga Daun. Tulislah lebih baik dariku.*
Maya membuka mata. Di sampingnya, Kaba tertidur bersandar pada akar, tombak bambu masih dalam genggaman bahkan dalam tidur. Wajahnya yang keras kepala melembut dalam tidur, dan Maya menatapnya lama, menyadari bahwa pemuda inilah—lebih daripada kalung, lebih daripada darah penjaga, lebih daripada gema tua di dalamnya—yang membuat ia tetap bersauh pada dunia yang membumi. Selama ada tangan yang memegangnya, selama ada nama yang menjawab namanya, ia tak akan menjadi sekadar bejana.
Di atas mereka, lentera lumut menyala hijau lembut, dan untuk pertama kali sejak ia tahu siapa dirinya, Maya tak merasa seperti pengulangan. Ia tahu jalan di depannya masih gelap; ia belum punya cara ketiga yang utuh, hanya benih dari satu—rantai tangan yang membagi harga, bait nyanyian yang hampir lengkap. Tetapi benih, ia mengingatkan dirinya, adalah hal yang paling ia pahami. Benih hanya butuh tanah dan kesabaran dan seseorang yang mau merawatnya sampai ia tumbuh.
Ia merasa seperti penulis yang baru memegang pena untuk halaman yang belum pernah ditulis siapa pun.