Pohon tertua itu memberikan baitnya.
Ia mengalir ke tulang Maya bukan seperti pecahan-pecahan lain yang ia rebut dengan susah payah, melainkan seperti air yang akhirnya dibiarkan mengalir setelah lama dibendung—bait pembuka nyanyian penidur, nada yang dari sanalah semua nada lain bermula, kata-kata yang membuka pintu bagi seluruh lagu. Maya menyimpannya, dan untuk pertama kali sejak ia mulai mengumpulkan, ia merasakan lagu itu mulai berbentuk utuh di dadanya, walau masih ada satu lubang di ujungnya, satu bait terakhir yang belum ia temukan.
Tetapi pohon tertua memberinya lebih dari bait.
Sebab dengan menanggung ingatan kematian para penjaga pertama, sesuatu telah terbuka dalam diri Maya yang tak bisa ditutup kembali. Ketika ia memejamkan mata malam itu, di pelataran lubuk dengan Kaba berjaga di sisinya, ia melihat lagi tujuh penjaga pertama. Dan kali ini, di antara mereka, ia melihat satu sosok yang selama ini tak ia berani tatap langsung dalam ingatan—Penjaga Daun Pertama. Pencipta segel. Pemilik pertama kalung di dadanya.
Wajahnya adalah wajah Maya.
Bukan mirip. Bukan menyerupai. Sama. Rahang yang sama, mata yang sama, garis bibir yang sama, seakan seseorang menatap pantulan Maya di air yang ditarik mundur ribuan tahun. Dan ketika Penjaga Daun Pertama itu menyanyikan bait pembuka untuk menidurkan Yang Lapar, suaranya adalah suara Maya.
Maya menyaksikan sosok itu berdiri di tepi bara, tak gentar, dengan kalung yang sama berkilau di lehernya—kalung yang kini menggantung di dada Maya sendiri. Ia menyaksikan sosok itu menyanyi sampai jari-jarinya menjadi kabut, sampai lengannya, sampai dadanya, melebur sukarela menjadi segel hidup yang akan mengurung Yang Lapar selama tujuh generasi. Dan di detik terakhir sebelum lebur, sosok itu menengadah—seperti ibu Maya pernah menengadah dalam ingatan kalung—dan menatap langsung ke arah Maya melintasi ribuan tahun, seakan ia tahu, seakan ia selalu tahu, bahwa suatu hari ia akan kembali dalam tubuh seorang gadis yang menumbuk kunyit untuk neneknya.
Maya membuka mata, gemetar.
"Apa yang kau lihat?" tanya Kaba. Ia selalu tahu ketika ingatan datang.
Untuk waktu yang lama Maya tak menjawab. Ia menatap kalung di dadanya, batu hijau berurat keemasan yang sejak awal dititipkan Nenek ke tangannya, batu yang menghangat di dekat darah penjaga. Dan akhirnya ia mengerti mengapa batu itu selalu terasa mengenalnya, mengapa ia menuntunnya dengan keakraban yang lebih dekat daripada benda mati seharusnya, mengapa nama tua yang dibisikkannya di lubuk dahulu membuat Yang Tertidur berdenyut "mengingat".
"Penjaga Daun Pertama," bisik Maya. "Yang menciptakan segel. Yang menulis nyanyian. Wajahnya... adalah wajahku, Kaba. Suaranya adalah suaraku." Ia menutup mulutnya dengan tangan yang berkelip kabut. "Aku bukan sekadar keturunannya. Sesuatu darinya... ada di dalamku. Jiwanya bergema dalam diriku. Itu sebabnya kalung mengenalku. Itu sebabnya Yang Tertidur mengingat namaku. Karena di suatu tempat di dalam darahku, akulah dia, yang kembali."
Kaba menatapnya lama, dan Maya bersiap melihat ketakutan di matanya—atau lebih buruk, melihat ia mulai memperlakukan Maya seperti sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih tua dan lebih asing daripada gadis yang dulu menumbuk kunyit untuk neneknya.
Tetapi Kaba hanya mengernyit, lalu, dengan kekeraskepalaan yang khas dirinya, berkata, "Tidak."
"Kaba—"
"Tidak," ulangnya. "Kau bukan dia. Aku tak peduli berapa mirip wajahnya. Aku mengenalmu. Aku menyaksikanmu takut, marah, menangis di bawah pohon asam, menyembunyikan tanganmu karena malu. Aku memegang pergelanganmu malam tadi ketika ingatan hampir menelanmu, dan yang menjawab namaku, yang kembali, adalah Maya. Bukan penjaga ribuan tahun lalu. Maya." Ia mengetukkan jari ke dada Maya, ke samping kalung. "Jiwanya boleh bergema di sini. Tapi yang duduk di hadapanku, yang akan kuseret kembali setiap kali ingatan mencoba menelanmu, adalah kau. Dan aku tak akan membiarkan siapa pun—bahkan penjaga mati ribuan tahun—mengambil itu darimu."
Maya merasakan air matanya jatuh, dan untuk pertama kali sejak ingatan itu terbuka, dadanya yang sesak terasa sedikit lebih ringan. Ia memang membawa gema seseorang yang sangat tua. Tetapi ia juga membawa tangan Kaba di pergelangannya, suara Nenek di rumah, wajah Tirta yang menunggunya di danau bara—hal-hal yang menjadi miliknya, dan hanya miliknya, dalam hidup ini.
"Aku tetap Maya," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kaba.
"Kau tetap Maya," Kaba mengulang, seperti sumpah.
Di kejauhan, dari jantung hutan, Yang Tertidur berdenyut—dalam dan lambat, seakan ia pun merasakan bahwa nama tua yang dahulu menidurkannya kini telah pulang, terjaga, dan sedang menyusun kembali lagu yang dulu mengurungnya. Maya merasakan denyut itu di tulangnya, dan untuk pertama kali ia tak hanya mendengar kelaparannya. Ia mendengar sesuatu yang lain di bawahnya, samar, hampir tak percaya.
Yang Tertidur takut padanya.
Bukan takut seperti manusia takut—roh sepurba itu mungkin tak punya kata untuk takut. Tetapi di balik kelaparannya yang tak berdasar, di balik denyut bara yang menarik napas anak-anak ke dalam dirinya, ada sesuatu yang mengerut, mengeras, bersiaga, ketika ia merasakan nama tua bangun kembali di dunia. Ia ingat. Ia ingat suara yang dahulu mengurungnya. Dan kini suara itu telah pulang, dalam tubuh seorang gadis yang membawa kalung di dadanya dan tangan kekasih di pergelangannya, dan untuk pertama kali sejak ia bangun, Yang Tertidur tahu bahwa kelaparannya mungkin tidak abadi.
Maya membuka matanya di kegelapan lubuk, dan ia membiarkan kesadaran itu menetap di tulangnya seperti bara yang menghangatkan, bukan membakar. Ia tetap Maya. Tetapi ia juga membawa, jauh di dalam darahnya, sesuatu yang membuat kelaparan tertua di dunia ini gentar—dan ia berniat menggunakannya, bukan untuk menundukkan, melainkan untuk menyanyi.