Kaba mencengkeram lengan Maya sebelum ia sempat menyentuh akar itu lagi.
"Jangan," katanya, suaranya rendah dan keras. "Kita cari pohon lain. Pecahan lain. Cara lain."
"Tidak ada pohon lain," kata Maya pelan. "Ini yang paling tua. Bait pembuka cuma ada padanya. Tanpa bait pembuka, lima belas pecahan lain yang sudah kukumpulkan tak lebih berguna dari sekantong abu." Ia menatap Kaba, dan untuk sesaat ia membiarkan ketakutannya terlihat. "Kalau aku tak masuk, anak-anak tetap melayang di danau bara sampai napas mereka habis. Tirta termasuk."
Kaba diam. Nama Tirta selalu menutup setiap perdebatan, sebab di balik nama itu ada sandal jepit yang tertinggal di garis merah, ada seorang ibu yang masih meletakkan satu piring tambahan di tikar makan tiap malam.
"Maka aku ikut masuk," kata Kaba.
"Kau tak bisa. Ini ingatan pohon. Cuma darah penjaga yang bisa masuk." Maya menggenggam tangannya yang masih utuh. "Tapi kau bisa melakukan sesuatu yang lebih penting. Kau bisa menjadi jangkarku." Ia menempelkan tangan Kaba ke pergelangannya. "Apa pun yang terjadi di dalam sana, apa pun yang kulihat, jangan lepaskan. Bicara padaku. Sebut namaku. Kalau aku mulai tenggelam, tarik aku dengan suaramu. Kau pernah melakukannya. Di bawah pohon asam. Matamu yang kucari ketika ingatan kalung hampir menelanku."
Kaba menggenggam pergelangan Maya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tak akan lepas," katanya. "Sebut apa pun yang kau mau di dalam sana. Aku tetap di luar, memegangmu."
Maya menarik napas, lalu menekan telapaknya ke akar pohon tertua, dan membuka diri seluruhnya.
Dunia di sekelilingnya runtuh.
Ia tak lagi di hutan yang ia kenal. Ia berdiri di lubuk yang sama, tetapi ribuan tahun lebih muda, ketika Pohon Raksasa belum ada dan kabut belum lahir. Langit di atasnya jernih, hutan ini hijau dan hidup, dan di tengahnya berdiri tujuh sosok—tujuh penjaga pertama, dengan kalung daun di leher mereka, masing-masing memegang sepotong nyanyian.
Dan di hadapan mereka, di lubang yang baru saja digali oleh kerakusan salah satu dari mereka, terbangun Yang Tertidur.
Maya menanggung semuanya. Ia merasakan apa yang dirasakan tiap penjaga pertama ketika mereka memahami bahwa Yang Lapar tak bisa dibunuh, hanya ditidurkan, dan menidurkannya menuntut tubuh mereka. Ia merasakan keberanian penjaga pertama yang melangkah masuk ke bara dan menyanyi sampai daging menjadi kabut. Ia merasakan kengerian penjaga kedua yang menyaksikan saudaranya luruh, lalu menyusulnya. Satu per satu, tujuh penjaga melebur, dan Maya menanggung tiap kematian seakan ia sendiri yang mati, tujuh kali, dagingnya jadi kabut, napasnya jadi akar, dirinya tercerai ke dalam tanah.
Tetapi yang paling berat bukan kematian mereka. Yang paling berat adalah penjaga yang rakus.
Sebab ketika Maya menanggung ingatannya, ia merasakan godaannya dari dalam—keinginan untuk tidak mati, untuk menundukkan Yang Lapar alih-alih melebur bersamanya, untuk memakai kekuatannya menjadi tuan, bukan tumbal. Dan godaan itu terasa masuk akal. Terasa benar. Terasa seperti suaranya sendiri. *Mengapa kau harus lenyap,* bisik ingatan si rakus, dengan suara yang perlahan menjadi suara Maya. *Kau punya kalung. Kau punya darah. Kau bisa memerintah Yang Lapar, bukan mati untuknya. Kau bisa hidup. Kaba bisa hidup. Tak perlu ada yang melebur lagi.*
Maya merasakan dirinya mulai larut. Batas antara dirinya dan si rakus menipis seperti cat merah di batu kapur. Ia lupa di mana ia berada. Ia lupa tahun berapa. Ia lupa bahwa ia bukan penjaga yang menggali lubang itu. Suara si rakus menjadi satu-satunya suara di dunia, dan suara itu memakai namanya.
Lalu, dari sangat jauh, menembus ribuan tahun dan ratusan wajah di kayu, datang sebuah suara lain.
"Maya."
Ia hampir tak mengenalinya.
"Maya. Kembali. Ini Kaba. Kau memegang akar pohon di hutan, di tahun kita, di malam ini. Aku memegang tanganmu. Anak-anak menunggumu. Nenekmu menunggumu. Kembali."
Suara itu seperti tali yang dijatuhkan ke dalam sumur. Maya meraihnya. Ia mengingat bentuk tangan Kaba di pergelangannya, hangat dan kasar dan nyata. Ia mengingat tungku di rumah Nenek, bau kunyit di lesung batu, sandal jepit kecil yang tertinggal di garis merah. Ia mengingat bahwa ia bukan si rakus. Si rakus mati ribuan tahun lalu dan menumpuk penderitaan; Maya masih hidup, dan ia bisa memilih sebaliknya. Hal-hal kecil itu, hal-hal membumi itu, adalah jangkar yang tak dipunyai oleh penjaga rakus—sebab ia telah melepaskan semua yang membuatnya manusia demi kekuasaan yang ia idamkan, dan karena itulah ia tenggelam.
*Aku bukan dia,* katanya pada godaan itu, dan godaan itu meredup. *Aku menanggung kematianmu. Aku tahu beratnya sekarang. Tapi aku tidak akan menundukkan Yang Lapar. Aku akan menidurkannya, walau harganya tubuhku.*
Ingatan itu pecah. Maya tersentak kembali ke lubuk hutan di masanya sendiri, terjatuh ke pelukan Kaba, napas tercekat, seluruh tubuhnya menggigil seakan baru saja diangkat dari air es. Lentera lumut masih menyala hijau. Pohon tertua masih berdiri, ratusan wajah di kulitnya menatapnya.
Dan dari dalam kayu purba itu, untuk pertama kalinya, datang getaran yang bukan penolakan.
*Kau menanggungnya,* getar pohon itu, pelan, hampir lelah. *Dan kau keluar masih sebagai dirimu.*