Mereka membutuhkan delapan hari untuk mengumpulkan enam pecahan.
Enam pohon tua mereka datangi di tepi dan lubuk hutan, dan enam pohon kini berdiri mengering, daun-daun mereka berserak di lantai kabut seperti abu yang menolak terbakar. Maya menyimpan setiap pecahan di dadanya, merangkainya pelan-pelan dalam ingatan—nada-nada yang naik dan turun, kata-kata yang separuh utuh, sebuah lagu yang mulai berbentuk tetapi masih penuh lubang, seperti kain yang dimakan ngengat.
Tetapi pecahan terakhir, yang terpenting, tersimpan di pohon yang paling dalam dan paling tua dari semuanya.
Lentera lumut yang Maya tumbuhkan menerangi jalan mereka—cahaya hijau lembut yang tak menuntut tubuhnya seperti sulur, sebab lumut hidup hanya butuh dititipi kehangatan, bukan dilahirkan dari daging. Dengan lentera itu di tangan Kaba, mereka menembus lapisan hutan lebih dalam dari yang pernah mereka berani, mengikuti denyut yang dirasakan Maya di telapak kakinya, sampai mereka tiba di hadapan sesuatu yang membuat keduanya berhenti.
Pohon itu bukan pohon biasa. Ia adalah pohon yang lain mengelilinginya seperti murid mengelilingi guru, akar-akarnya membentang sejauh sungai kering, batangnya begitu lebar hingga sepuluh orang berpegangan tangan pun tak akan mengelilinginya. Di kulitnya yang gelap terpahat tonjolan-tonjolan yang menyerupai wajah, ratusan wajah, seakan setiap manusia yang pernah mati di hutan ini meninggalkan jejak di kayunya. Sebagian wajah itu damai, mata terpejam seperti orang tidur. Sebagian lagi menganga, mulut terbuka dalam jeritan yang membeku jadi kayu, dan Maya tak sanggup menatap yang terakhir terlalu lama.
Udara di sekitar pohon itu lebih dingin, lebih berat. Kabut menggantung di antara akar-akarnya dalam gulungan-gulungan tebal yang tak bergerak walau lentera lumut menerobosnya, seakan udara di sini terlalu tua untuk mengalir. Tak ada burung. Tak ada serangga. Hanya keheningan yang terasa seperti ditatap.
"Ia melihat segalanya," bisik Maya. "Ia ada di sini ketika Yang Tertidur dibangunkan pertama kali. Ia menyaksikan para penjaga pertama meleburkan diri jadi segel. Ia yang menyimpan bait pembuka nyanyian—yang tanpanya, semua pecahan lain tak berarti."
Ia berlutut, menekan kedua telapak ke akar yang sebesar tubuhnya. Ia membuka diri, ia meminta seperti yang ia minta pada enam pohon sebelumnya, dengan hormat, dengan kehangatan.
Tetapi pohon tertua itu tidak bergetar.
Tidak ada yang mengalir ke tulangnya. Sebaliknya, dari kayu purba itu datang sesuatu yang dingin, menolak, hampir marah—getaran yang membentuk makna di benak Maya dengan kejelasan yang tak ia harapkan dari sesuatu yang begitu tua.
*Aku telah memberikan ingatanku sekali,* getar pohon itu. *Kepada tangan yang berjanji menjinakkan Yang Lapar, lalu mencoba memaksanya. Tangan itu membangunkannya, bukan menidurkannya. Aku menyaksikan para penjaga mati menebus kerakusannya. Mengapa aku harus percaya tanganmu berbeda?*
Maya tersentak mundur. "Aku tidak akan memaksanya. Aku ingin menidurkannya, bukan menundukkannya. Aku berjanji—"
*Si rakus juga berjanji.* Getaran itu menggelap. *Ia juga punya kalung. Ia juga punya darah penjaga. Ia juga berlutut di akarku dan berkata ia berbeda. Dan setiap pohon yang memberinya ingatan mati, sama seperti enam saudaraku yang baru saja kau biarkan mengering demi pecahan-pecahanmu.*
Kata-kata itu menusuk Maya lebih dalam daripada yang ia siap akui. Ia menoleh ke arah hutan di belakangnya, ke arah enam pohon tua yang kini berdiri mengering karena dirinya, dan untuk sesaat ia tak punya jawaban.
"Maya." Kaba berlutut di sampingnya, lentera lumut menyala hijau di antara mereka. "Apa katanya?"
"Ia menolak," kata Maya pelan. "Ia mengiraku pengulangan si rakus. Penjaga yang dulu membangunkan Yang Tertidur—ia juga membawa kalung, juga berdarah penjaga, juga berlutut dan berjanji. Lalu ia menumpuk kematian. Pohon ini sudah melihat janji penjaga sekali, dan janji itu jadi tujuh generasi penderitaan." Suaranya bergetar. "Mengapa ia harus mempercayaiku?"
Pohon tertua itu diam, ratusan wajah di kulitnya menatap mereka dalam keheningan kabut. Lalu, perlahan, satu getaran terakhir mengalir ke tulang Maya, dan kali ini ia bukan penolakan. Ia tantangan.
*Buktikan kau bukan dia,* getar pohon itu. *Bukan dengan kata. Kata adalah hal yang sama yang ia berikan padaku. Tanggunglah apa yang kuingat. Tanggunglah kematian para penjaga pertama, seluruhnya, seperti aku menanggungnya. Jika kau keluar dari ingatan itu masih sebagai dirimu, dan bukan sebagai dia, aku akan berikan baitnya. Jika kau tenggelam—jika kau menjadi dia—maka kau memang pengulangannya, dan aku akan diam selamanya.*
Maya menatap akar raksasa di hadapannya, jantungnya berdebar. Ia tahu, dengan kepastian dingin yang merembes dari tanah, bahwa pohon ini tak menawarkan jalan yang aman. Ia menawarkan jurang.
"Apa yang ia minta?" tanya Kaba.
Maya menelan ludah. "Ia mau aku masuk ke dalam ingatannya. Ke dalam kematian para penjaga pertama. Semuanya. Untuk membuktikan aku tidak akan menjadi si rakus." Ia menatap tangannya yang berkelip kabut di ujung jari. "Dan kalau aku tersesat di dalam sana—aku tak akan kembali sebagai Maya."
Kaba menggenggam tombaknya lebih erat, rahangnya mengeras seperti kayu yang menolak patah. Ia melirik ke arah enam pohon mengering yang membayang di kabut, lalu kembali ke pohon tertua dengan ratusan wajah di kulitnya, dan Maya bisa melihat ia sedang menimbang—antara melindungi gadis di sampingnya dan menyelamatkan anak-anak yang melayang di bara. Keduanya menuntut hal yang berlawanan. Keduanya benar.
"Aku tak suka ini," kata Kaba akhirnya, suaranya rendah. "Tapi aku juga tahu, kalau aku menyeretmu pulang sekarang, kau akan kembali ke sini sendirian saat aku tidur. Aku mengenalmu, Maya." Ia menghela napas. "Jadi kalau kau memang harus masuk ke sana, kau tak masuk sendirian. Aku tetap di luar, memegang tali yang menahanmu. Dan aku tak akan melepasnya, walau seluruh hutan menariknya dari tanganku."