Pohon asam tua di belakang rumah Maya adalah yang pertama mereka datangi, sebab ia yang paling tua di sisi desa dan paling lama mengenal darah Maya.
Penjaga yang sekarat di lubuk pernah mengatakannya dengan getaran yang nyaris padam: nyanyian penidur asli tak hilang seluruhnya. Ia tercerai-berai, terkubur dalam ingatan pohon-pohon paling tua yang menyaksikan Yang Tertidur ditidurkan pertama kali. Setiap pohon menyimpan satu pecahan—sepotong bait, satu untaian nada—seperti pecahan kendi yang berserak di tujuh ladang. Mengumpulkannya berarti mendatangi mereka satu per satu dan memintanya kembali.
Tetapi memintanya kembali punya harga. Bukan harga Maya saja kali ini.
Maya berlutut di akar pohon asam, menekan kedua telapak ke kulit kayunya yang kasar dan berlumut. Di belakangnya, Kaba berjaga dengan tombak, dan Nenek Larasati duduk di bangku batu, tongkat kayunya tegak di antara kedua lutut.
"Mintalah baik-baik," kata Nenek. "Pohon setua ini tidak memberi karena dipaksa. Ia memberi karena dipercaya."
Maya menutup mata. Kulit kayu itu kasar di telapaknya, hangat oleh matahari pagi, berbau getah dan lumut dan tahun-tahun yang tak terhitung. Ia tidak merampas. Ia membuka dirinya, mengalirkan kehangatan ke dalam kayu seperti orang menuangkan air ke kendi kosong, dan ia meminta. *Tunjukkan padaku yang kau ingat. Tunjukkan nyanyian yang dulu menidurkan Yang Lapar.*
Pohon asam itu mengenalnya. Ia telah mengenal Maya sejak gadis itu masih merangkak di bawah naungannya, sejak ibu Maya dahulu juga belajar mendengar di akar yang sama. Maya merasakan keengganannya yang lembut, seperti orang tua yang tahu bahwa apa yang diminta darinya akan menyakiti, tetapi tetap mengangguk karena cinta lebih tua daripada rasa sakit.
Pohon asam itu menggigil tanpa angin. Dan dari dalamnya mengalir sesuatu ke tulang Maya—bukan kata yang utuh, melainkan tujuh nada yang naik lalu turun seperti orang menimang bayi, dan di balik nada itu, samar, satu baris yang separuh hilang: *Tidurlah, yang lapar, tanah ini telah kenyang...*
Maya membukanya seluruhnya di dadanya, menyimpannya, dan saat itulah ia merasakan harganya—bukan pada dirinya.
Pada pohon.
Daun-daun pohon asam tua itu menguning di hadapan mata mereka. Dari ujung dahan, satu demi satu, mereka layu dan jatuh, melayang ke tanah dalam diam. Kulit kayunya yang dahulu lembap kini mengering, retak halus merambat di sepanjang batang seperti urat yang kehilangan darah.
"Apa yang terjadi padanya?" Kaba melangkah maju.
Maya menarik tangannya, ngeri. "Ia... memberiku ingatannya. Tapi ingatan adalah hidupnya. Pohon setua ini hidup dari apa yang ia simpan. Ketika ia menyerahkan pecahan nyanyian..." Suaranya tercekat. "Ia menyerahkan sebagian umurnya. Aku tidak tahu. Penjaga tak pernah mengatakannya."
Nenek Larasati berdiri perlahan, menyentuh batang pohon asam yang kini mengering, pohon yang telah menaungi rumah mereka sejak ia masih gadis, pohon di mana ibu Maya dulu juga belajar mendengar. Matanya yang kelabu berkaca-kaca.
"Aku menanam ranting darinya saat anakku lahir," kata nenek itu pelan. "Sekarang ia memberikan dirinya supaya cucuku punya kesempatan." Ia menarik napas yang bergetar. "Setiap hal di tanah ini, Maya, dibeli dengan sesuatu. Bahkan harapan."
Maya menatap daun-daun kuning yang berserakan di tanah, dan dadanya terasa berat oleh kesadaran baru yang dingin. Selama ini ia mengira harga hanya jatuh pada tubuhnya sendiri—daging jadi kabut, napas jadi akar. Itu sudah ia terima sebagai hukum hidupnya. Tetapi mengumpulkan nyanyian berarti membayar dengan tubuh-tubuh lain, dengan pohon-pohon tua yang tak pernah meminta dilahirkan ke dalam beban ini, yang hanya berdiri diam selama berabad-abad menyimpan rahasia yang akhirnya harus mereka muntahkan sampai mati.
Ia teringat ujaran Penjaga di lubuk, dahulu, ketika tubuh akarnya masih cukup kuat untuk bicara: bahwa di tanah ini, tak ada keselamatan yang tidak dipahat dari kehilangan. Ia dulu mengira itu hanya kiasan getir seorang makhluk tua. Sekarang ia memahaminya sebagai hukum, sekeras hukum yang membuat dagingnya jadi kabut tiap kali ia menumbuhkan sulur.
"Berapa banyak pohon yang harus kita datangi?" tanya Kaba.
Maya memejamkan mata, merasakan pecahan pertama yang kini berdenyut di dadanya, lalu meraba ke arah pecahan-pecahan lain yang masih tersembunyi di seluruh hutan. Ia bisa merasakannya, samar, seperti pelita-pelita kecil yang tersebar di kegelapan. "Banyak," bisiknya. "Dan yang paling tua, yang menyimpan pecahan terpenting, ada di paling dalam. Saksi kebangkitan pertama."
Ia membuka mata dan menatap pohon asam yang mengering, sahabat masa kecilnya, yang kini berdiri seperti tulang putih di pelataran. Ia menempelkan dahinya ke kulitnya yang dingin dan berbisik terima kasih, tetapi kata itu terasa terlalu murah untuk apa yang baru saja diberikan kepadanya.
Malam itu, ia menuliskan dilema baru di hatinya, dilema yang tak ada dalam dua jalan mengerikan yang dahulu ditawarkan Penjaga. Untuk menyelamatkan anak-anak, ia harus menidurkan Yang Tertidur. Untuk menidurkannya, ia harus menyanyi. Untuk menyanyi, ia harus mengumpulkan nyanyian. Dan untuk mengumpulkan nyanyian, ia harus membunuh, perlahan, pohon-pohon tertua yang telah menjaga rahasia ini lebih lama daripada desanya berdiri.
Setiap jalan keluar, ia mulai mengerti, hanyalah pintu menuju harga yang lebih besar. Dan ia bertanya-tanya, sambil menatap pohon asam yang kini berdiri seperti tulang putih di bawah cahaya bulan, berapa banyak lagi yang harus mati supaya anak-anak bisa hidup—dan apakah, di ujung semua harga ini, masih akan ada cukup dari dirinya yang tersisa untuk menyanyikan lagu yang telah ia bayar dengan begitu banyak nyawa.